Damainya Indonesia Alhamdulillah

24 06 2011

Warisan Abul Kalam Azad

Oleh Ahmad Syafii Maarif

11 November 1888-24 Februari 1958 (Bagian 1)

Nama lengkapnya adalah Maulana Abul Kalam Muhiyuddin Ahmad Azad. Azad adalah tambahan belakangan sebagai nama penanya yang berarti bebas ( free). AKA (Abul Kalam Azad) kelahiran Makkah pada 1888, ibunya seorang Arab, ayahnya punya darah Afghanistan. Dalam usia 13 tahun AKA sudah dikawinkan dengan seorang gadis bernama Zuleikha Begum.

AKA adalah seorang pejuang kemerdekaan India bersama Mahatma Gandhi, Nehru, Patel, dan sederetan nama besar lainnya. Sebagai seorang yang punya otak brilian, AKA menguasai banyak bahasa: Pasthu, Hindi, Bengali, Arab, Inggris, Urdu, dan Persi. Abul Kalam berarti Bapak Dialog atau dalam bahasa Inggris biasa diterje mahkan sebagai Lord of Dialogue. AKA ada lah juga serorang pakar serbatahu, pe nyair, dan jago debat yang ulung. Dalam usia 12 tahun AKA ingin menulis tentang al-Ghazali. Artinya dalam usia kelas 1 SMP itu bacaannya sudah jauh melampaui pengetahuan orang dewasa terpelajar.

Untuk publik Muslim Indonesia AKA tidak banyak dikenal, jauh di bawah popularitas Mohammad Ali Jinnah, Muhammad Iqbal, dan Abul A’la al-Maududi. Padahal, dari sisi ilmu dan wawasan keislaman, mungkin tandingannya untuk Indonesia adalah H Agus Salim. Sebelum belajar ke Chicago, saya sendiri adalah pengagum Ali Jinnah, Iqbal, dan al-Maududi, di samping tokoh-tokoh pemikir Indonesia. AKA jarang terlintas dalam otak saya. Apalagi di era 1950-an/1960-an, demam negara Islam untuk Indonesia masih sangat hangat dan menggebu.

Pakistan jadi idola saya pada usia muda. Seakan-akan de ngan tampilnya Pakistan sebagai sebuah negara Islam modern, kaum Muslimin sedunia sudah punya acuan konkret ke mana roda sejarah perjuangan harus digulirkan. Orangorang Masyumi terutama demikian terpesona oleh Pakistan.

Berbeda dengan Iqbal dan Jinnah yang ingin membentuk negara baru yang terpisah dari negeri induk India, AKA menentang keras gagasan itu. Iqbal sendiri tidak sempat menyaksikan lahirnya negara Islam baru itu, sebab dia sudah wafat pada 1938. Filosofi politik AKA adalah: bersatunya kaum Hindu dan umat Islam, sebuah sikap yang ditentang Jinnah. Adapun al-Maududi baru kemudian hijrah ke Pakistan. Semula dia punya pandangan serupa dengan AKA.

Perpisahan resmi antara Pakistan dan India terjadi pada 15 Agustus 1947. India tetap bernama India, Jinnah menamai negara baru itu dengan Pakistan, terdiri atas dua wilayah Barat dan Timur. Bagian Timur kemudian karena merasa dianaktirikan oleh wilayah Barat akhirnya melalui peperangan memisahkan diri dengan nama Banglades.

India yang tidak bahagia dengan lahirnya Pakistan membantu wila yah Timur itu untuk melepaskan diri. Sampai hari ini antara India dan Pakistan ma sih dalam suasana perang dingin. Ce la kanya, kedua bangsa serumpun ini sa ma-sama punya hulu nuklir. India lebih du lu, Pakistan menyusul kemudian. Kedua nya masih dalam suasana saling mengintai.

Tetapi, harap dimaklumi bahwa tidak semua orang Islam India bersedia pindah ke Pakistan. Sekarang di antara 1,1 miliar penduduk India, sekitar 140 juta adalah Muslim. Sewaktu saya berkunjung ke New Delhi beberapa tahun yang lalu atas undangan pemerintah, umat Islam di sana tampaknya lebih senang tinggal di India. Sekiranya Pakistan tidak memisah seperti yang dengan susah payah diperjuangkan AKA, maka penduduk India sekarang menempati posisi tertinggi di dunia, dengan angka sekitar 1,4 miliar, sedikit mengungguli Cina sebesar 1,3 miliar.

Dari sisi pembangunan ekonomi dan keamanan, Pakistan adalah negara yang paling bontot dibandingkan Cina dan India. Tahun yang lalu saya pernah menulis di harian ini tentang kemungkinan Pakistan menjadi negara gagal. Sejak beberapa tahun terakhir, bom bunuh diri di sana sudah menjadi berita harian. Amat disayangkan.

Tetapi, inilah kenyataan yang tak terbantahkan. Islam telah jadi tawanan kelompok garis keras yang punya hobi menumpahkan darah ini.
(-)
Index Koran
Berita sebelumnya :

* 17 Juni 2011 pukul 10:47:00
Siami dan Risma
* 16 Juni 2011 pukul 13:53:00
Eropa Islam
* 14 Juni 2011 pukul 11:43:00
Sukarnya Membangun Optimisme
* 10 Juni 2011 pukul 09:42:00
Menuju Sempurna
* 09 Juni 2011 pukul 09:59:00
Masjid Al-Aqsa

KOLOM

* Hikmah
* Analisis
* Opini
* Resonansi
* Tajuk
* Surat Pembaca
* Ihwal

Kategori

* Akademia
* Arena
* Berita Utama
* Bisnis Global
* Bisnis Syariah
* Bursa dan Uang
* City News
* Ekonomi dan Bisnis
* Hukum
* Internasional
* Iptek & Kesehatan
* Khazanah
* Nasional
* Olahraga
* Pemilu
* Politik
* Sepak Bola
* TV Guide
* Warna
* Wawasan
* Cahaya Ramadhan
* Bisnis & Investasi
* Otomotif
* Pareto
* Properti
* Dialog Jumat
* Haji & Umrah
* Deras
* Urbana
* Jalan-jalan
* Pustaka
* Kesehatan
* Nostalgia
* Boga
* Berita
* Wawancara
* Belia
* Korcil
* Remaja
* Solilokui
* Pesona
* Bandar Jakarta
* Mudik Lebaran 2008
* Liputan Khusus
* Telisik
* Leisure
* Layarperak&dvd
* Senggang
* Generasi
* Tokoh Perubahan 2008

Republika Online
: Jurnal Haji | Blog | Karir
Republika Koran
: Republika Koran | Republika E-paper | Tarif Iklan
RSS RSS-Feed | RepublikaTV | Mobile | @newsroom

© 2009 Republika Online. Republika Company. All Rights Reserved.
Terms of service | Privacy guidelines | Advertise with us | About Us | Contact


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: