fikih dan tradisi lokal

27 05 2011

Kedudukan Fikih dan Tradisi Masyarakat
Oleh: Fahmi Hamdi, Lc.MA, Penulis, ulama di Banjarmasin
Banjarmasinpost.co.id – Jumat, 27 Mei 2011 | 01:43 Wita | Dibaca 87 kali | Komentar (0)
ARTIKEL TERKAIT:

* Pengawasan Keuangan yang Berlapis
* Skenario Menjerat Mahkamah Konstitusi
* Meredupnya Kehidupan di Sungai
* Meracik Interpelasi dan Tapal Batas

Dalam salah satu hadis diriwayatkan Ahmad dari Abdullah ibn Mas’ud disebutkan, apa yang dipandang baik oleh umat Islam, maka di sisi Allah pun baik.

Hadis tersebut oleh para ahli ushul fiqh dipahami bahwa tradisi masyarakat yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat Islam dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan hukum Islam (fiqh)

Islam adalah agama universal, karenanya ajaran-ajarannya diharapkan mampu mengakomodasi setiap kultur kehidupan, di mana pun dan kapan pun mereka berada.

Sebagai agama yang tumbuh dan berkembang pada mulanya di jazirah Arab, Islam tidak bisa terlepas dari kebudayaan masyarakat setempat kala itu.

Maka tidak jarang prilaku keberagamaan yang ditampilkan pemeluknya lebih bernuansa Arab. Memang tidak bisa disalahkan ketika seseorang mengeskpresikan prilaku keberagamaannya dengan warna Arab itu, karena adalah soal selera.

Tetapi akan menjadi masalah ketika “kepatuhan” kepada warna tertentu menjadikan seseorang beranggapan dialah yang paling dekat dengan surga (baca: paling benar).

Lebih ironis, tuduhan bid’ah, khurafat, belum kaffah dan sejenisnya seringkali ditujukan kepada kelompok tidak “setia” dengan warna Arab tersebut.

Padahal, sejarah perkembangan pemikiran hukum fikih menunjukkan bahwa persentuhan prinsip universalitas hukum Islam dengan kondisi budaya lokal, telah melahirkan fiqih Hejaz (fikih yang berusaha mengakomodasi kehidupan sosio-kultural masyarakat Hejaz),

Atau fikih Irak (fikih yang mencoba bersanding dengan tradisi atau sosio-kultural masyarakat Irak) saat itu.

Fenomena ini pula yang barangkali memicu lahirnya gagasan pribumisasi Islam yang akomodatif terhadap budaya lokal. Meski sebenarnya, kita juga dituntut bersikap kritis terhadap gagasan ini, agar jangan sampai terjebak dalam pribumisasi yang justru mengobrak-abrik nilai-nilai Islam.

Dalam konteks Kalimantan Selatan, banyak tradisi keberagamaan yang sudah berurat-akar seperti peribadatan hari Rabu terakhir bulan Safar peribadatan nisfu Syaban, maulidan, peringatan isra miraj, tahlilan, tradisi maarwah (ritual memperingati kematian anggota keluarga), dan seterusnya.

Ritual-ritual itu oleh sebagian kalangan disebut dengan fikih tradisionalis. Penamaan ini barangkali didasarkan pada asumsi bahwa perilaku keberagamaan seperti ini seringkali dipertontonkan masyarakat tradisional dan kalangan pesantren salaf.

Atau karena ritual-ritual tersebut merupakan warisan dari generasi ke generasi hingga menjadi sebuah tradisi mendarah daging.

Namun demikian, realita sosial menunjukkan ritual-ritual keagamaan yang tradisionalis tersebut justru mampu menjaga “ketegaran” kehidupan beragama di tengah masyarakat.

Pertanyaannya adalah apakah perilaku keberagamaan tradisionalis ini bertentangan dengan hukum Islam? Lantas, bagaimana menyikapi persentuhan antara tuntunan Islam dan tradisi lokal seperti ini?

Secara sederhana, fikih merupakan sekumpulan hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah serta hubungannya dengan sesama makhluk.

Dalam tradisi keilmuan, hukum fikih dibangun atas dua sumber pokok, yaitu Alquran dan hadis yang dilakukan para mujtahid. Tetapi, pada realisasinya tidak jarang ditemukan mereka menjadikan tradisi sebagai pertimbangan mendasar dalam menentukan sebuah produk hukum.

Bahkan, penghargaan terhadap tradisi atau sosio-kultural masyarakat dalam pengambilan hukum secara nyata dapat kita lihat dari masa ke masa.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, seandainya tidak menyulitkan bagi umatku, niscaya akan aku tunda salat Isya hingga sepertiga malam dan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak salat (HR. Bukhari).

Hadis ini menunjukkan, betapa aspek sosio-kultural menjadi pertimbangan Rasul dalam menentukan hukum. Masyarakat saat itu tidak terbiasa melaksanakan peribadatan Isya di sepertiga malam sebagaimana mereka juga belum terbiasa untuk bersiwak setiap ingin salat.

Sehingga kalau diperintahkan akan memberatkan mereka karena dianggap bertentangan dengan tradisi mereka.

Belakangan, Aisyah, isteri Rasul pernah melarang kaum perempuan pergi ke mesjid untuk ikut salat berjemaah. Hal itu, karena kondisi kaum hawa kala itu sudah jauh dari nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal yang sudah mendarah daging.

Mereka tidak lagi mampu menjaga norma-norma agama saat pergi ke mesjid dan cendrung mengundang fitnah bagi kaum laki-laki.

Padahal, sebelumnya Rasulullah memberikan leluasa kepada mereka untuk ikut melakukan peribadatan di mesjid. Janganlah kalian melarang kaum perempuan (melakukan peribadatan) di masjid-masjid Allah. (HR. Bukhari dan Muslim).

Kenyataan ini, sejatinya menjadi titik berpijak untuk menciptakan bina-damai dan membangun nirfanatisme kelompok dalam kehidupan beragama pada masyarakat Kalimantan Selatan khususnya.

Perilaku keberagamaan kaum tradisionalis pada masyarakat Kalimantan Selatan menurut hemat penulis semua itu tidak lebih daripada tentatif acara yang mengandung nilai-nilai keberagamaan.

Seharusnya penilaian bukan diarahkan pada tentatifnya, akan tetapi pada esensi acara tersebut. Selama esensinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai universalisme Islam, maka perbedaan selera dan cara pandang dalam perilaku keberagamaan harus disikapi sebagai dinamika yang jangan sampai menyeret umat ke dalam perpecahan.

Wallahu A’lam
red: Syamsul FarhanSumber: BANJARMASIN POST Edisi cetak
Share
Cetak
Kirim Artikel
Redaksi Bpost Group: 0511 3354370
Email : redaksi@banjarmasinpost.co.id atau banjarmasin_post@yahoo.com
Iklan : 08115003012
Sirkulasi & Promosi : 08115002002

Dapatkan kabar Banua terbaru melalui ponsel, blackberry anda di: http://m.banjarmasinpost.co.id


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: