Islamliberal=HAMkebebasanberpendapatmakasemuanya relatif

21 02 2011

Camkan : Islam liberal = HAM “kebebasan berpendapat” makanya semuanya relatif, tapi camkan bahwa ada yang mesti menyimpang dan sesat seperti Ahmadiyah, ahmadiyah bukan relatif, bukan ham kebebasan berpendapat tapi menyimpang dan sesat.

Ahmadiyah Dibela, Islam Dihujat!

Senin, 21 Februari 2011

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

Koran Tempo, (09/02/2022) menurunkan tulisan Saipul Mujani yang membela aliran “sesat” Ahmadiyah. Lewat tulisannya berjudul, “Dalam Bayang-bayang Kuasa Umat”, Saipul Mujani memberikan pembelaan terhadap aliran yang dianggap sesat oleh ulama-ulama dunia.

Saipul tampaknya ‘geram’ melihat isu kekerasan yang menimpa Jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten. Saipul sama sekali tak menyinggung mengapa akar masalahnya.

Tentang bagaimana sebenarnya “kegeraman” Saipul, penulis mencoba memaparkannya dalam poin-poin berikut. Kemudian, akan diberikan kritik terhadap pandangannya secara memadai.

Pertama, Saipul menyatakan bahwa “anggota jemaah Ahmadiyah diburu, dikepung ruang geraknya, seperti binatang. Bukan hanya oleh orang-orang di lapisan bawah, tapi juga oleh elite negara dan ulama. Wujudnya adalah kebijakan jahat yang dibuat elite tersebut dalam bentuk surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri, dan dikaitkan dengan undang-undang penistaan agama. Dalam SKB itu, Ahmadiyah jelas kehilangan hak-hak asasinya yang paling fundamental sebagai warga negara, yakni kebebasan berkeyakinan dan menjalankannya”.

Pandangan Saipul ini nampaknya mengindikasikan minimnya kecerdasan emosional (emotional quotient) dalam dirinya. Bahkan, pandangannya berbau “tuduhan” tak berdasar. Karena dia memandang bahwa SKB tiga menteri merupakan “kebijakan jahat”. Dengan keluarnya SKB tersebut, Ahmadiyah, menurutnya, kehilangan hak-hak asasinya yang paling fundamental, yaitu: kebebasan berkeyakinan.

Mungkin Saipul lupa – atau bisa jadi “pura-pura” lupa – bahwa yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah adalah penistaan dan penodaan terhadap agama Islam. Di mana mereka masih mengaku sebagai “Muslim”, tapi keyakinannya menyimpang jauh dari ajaran Islam, khususnya dalam masalah “kenabian” (al-nubuwwah). Di mana pada tahun 1902, Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) mengklaim dirinya sebagai nabi, dalam satu tulisannya, Tuhafat al-Nadwah, yang ditujukan kepada anggota komunitas Ulama di Lucknow, India.

Selain dalam Tuhfat al-Nadwah, Mirza Ghulam Ahmad juga mengklaim dirinya disebut sebagai seorang “nabi” oleh Allah. Dia menyatakan, “Allah menyebutku sebagai seorang ‘nabi’ di bawah sinaran kenabian Muhammad (fayadh al-nubuwwah al-Muhammadiyyah). Dan Allah memberikan wahyu kepadaku. Maka, kenabianku adalah kenabiannya.” (Lihat, Mirza Ghulam Ahmad, al-Istitfta’ (Rabwah-Pakistan: Mathba’ah al-Nashrat, 1378 H), hlm. 16-17).

Dari sana dapat dipahami dengan baik bahwa yang dilakukan oleh Mirza Ghulam Ahmad adalah “merusak” akidah Islam yang sahih. Apakah seseorang atau komunitas dapat merusak akidah (keyakinan) satu agama, kemudian dia mengklaim berada dalam agama – yang dinodai – tersebut? tentu tidak demikian.

Kedua, Saipul juga menyatakan, “Umat Islam adalah kolektivitas yang dibayangkan hidup, punya logika, dan punya jalan pikiran sendiri. Ia punya sikap tentang apa itu Islam dan apa itu bukan Islam. Barang siapa yang memahami Islam di luar pemahamannya dianggap mengancam Islam dan umat Islam dan, karena itu, harus dikeluarkan. Bila tidak mau keluar, tetap bernaung dalam nama Islam, ia dinilai pantas dimusnahkan.

Sikap umat seperti ini sebenarnya diciptakan dalam sejarah oleh sebuah otoritas agama atau ulama dan negara atas dasar penafsiran yang dinilai berlaku umum dalam tradisi otoritas tersebut. Peran ulama adalah membentuk paham-paham Islam mana yang benar dan mana yang tidak benar, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Sampai di situ tidak apa-apa. Tapi, ketika otoritas agama ini punya kekuasaan atau bisa menggunakan kekuasaan negara, paham tersebut bisa punya daya paksa dan bahkan daya musnah seperti yang kita saksikan di Pandeglang itu,”begitu tulisnya.

Sejatinya, pandangan Saipul Mujani di atas memiliki lompatan logika yang amat akrobatik. Satu, dia mengandaikan bahwa yang merumuskan doktrin (ajaran) Islam adalah ummat Islam sendiri. Bukan Allah atau Nabi Muhammad. Pandangan seperti ini jelas keliru. Karena Allah yang membuat ajaran Islam kemudian dijelaskan oleh nabi-Nya dalam untaian sunnah-sunnah beliau, maka ummat Islam tidak boleh melanggar sedikitpun.

Bukankah Nabi Muhammad pernah bersabda, “Akan muncul di tengah-tengah ummatku 30 orang dajjal. Seluruhnya mengakau sebagai “nabi Allah”. Padahal, aku adalah penutup para nabi. Tidak ada nabi setelahku.” (HR. al-Tirmidzi, 3/338).

Sabda Rasulullah senada banyak sekali ditemukan dalam buku-buku hadits, karena diriwayatkan oleh para Muhadditsun terkemuka, semisal: Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad ibn Hanbal, Imam Ibn Majah, Imam al-Tirmidzi, Imam Ibn Hibban, Imam Abu Dawud, Imam al-Hakim, dan yang lainnya. Seluruhnya mengeluarkan sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa “tidak ada nabi setelah beliau”.

Dan perlu dicatat bahwa apa yang beliau lakukan adalah perintah Allah dalam Qs. al-Ahzab (33): 40. Di mana beliau adalah utusan Allah (rasulullah) dan penutup para nabi (khatam al-nabiyyin).

Kesalahan fatal yang juga dilakukan oleh Saipul Mujani dengan mengatakan Islam adalah “buatan para ulama”. Satu pernyataan yang amat gegabah, yang lahir dari seorang Muslim Pluralis, Liberal, dan Relativis. Bagi seorang Muslim, akidah Islam sudah jelas, bahwa ulama hanya menyampaikan ayat-ayat Allah (al-Qur’an) dan sabda Rasulullah tentang Islam, bukan menafsirkan Islam tanpa sandaran.

Apakah kemudian penafsiran ulama tentang Islam dapat disebut sebagai ajaran Islam? Tentu tidak. Apalagi jika penafsiran itu bertolak-belakang dengan ayat-ayat al-Qur’an dan sabda Nabi Muhammad.

Kalaupun mereka “berijtihad”, ijtihad mereka tidak bisa lepas dari dua sandaran penting dan fundamental: al-Qur’an dan Sunnah (Mengenai kedudukan al-Qur’an dan Sunnah sebagai rujukan utama dan supreme dalam Islam, simak dalam karya Syeikh Yusuf al-Qaradawi, al-Marja’iyyat al-`Ulya fi al-Islam li al-Qur’an wa al-Sunnah: Dhawabith wa Mahadzir fi al-Fahm wa al-Tafsir (Cairo: Maktabah Wahbah, 1993).

Ketiga, tuduhan lain yang juga dialamatkan kepada Islam oleh Saipul Mujani adalah: para elit negara takut kepada ummat Islam. Karena jika membela Ahmadiyah, mereka takut dinilai merusak Islam, dan takut dimusuhi ummat Islam.

Padahal, yang benar, sejak kehadiran aliran Ahmadiyah ke Indonesia (baik sekte Qadyani maupun Lahore, kira-kira tahun 1926 atau 1926) ummat Islam sudah merasakan ada yang tidak beres dalam tubuh aliran yang difatwa sesat oleh ulama sedunia. Karena klaim-klaim Mirza Ghulam Ahmad yang disebarkan secara terbuka, membuat ummat Islam merasakan ada ‘musuh dalam selimut’. Karena sejak awal, Jemaat Ahmadiyah mengaku sebagai “Muslim”, tapi keyakinannya bertentangan dengan akidah ummat Islam yang sahih menurut al-Qur’an dan Sunnah. (Untuk membuktikan bagaimana pertentangan ajaran Ahmadiyah dengan Islam, bandingkan saja konsep kanabian, doktrin al-Masih al-Maw`ud dengan ayat-ayat al-Qur’an dan sabda Nabi Muhammad mengenai hal ini).

Jadi, apa yang dikatakan oleh Saipul Mujani adalah “fitnah” dan “kebohongan” belaka. Apa yang dilakukannya adalah mencari simpatik, agar para elit negara membenarkan logikanya yang salah dan keliru. Padahal, siapa saja yang mau merunut sejarah masuknya Ahmadiyah ke Indonesia akan paham dengan baik bahwa Ahmadiyah telah merusak perasaan dan ketentraman keurukunan ummat beragama – khususnya ummat Islam – di Indonesia.

Keempat, Saipul Mujani juga sempat menyatakan, “Ketakutan elite negara, yang umumnya awam dengan tafsir Islam, itu semakin menjadi-jadi karena hampir tidak ada ulama tandingan dari umat Islam yang berpengaruh untuk menyampaikan paham alternatif terhadap pandangan tentang Islam yang dinilai umum tersebut. Kita tahu ada sejumlah ulama atau intelektual yang menoleransi adanya perbedaan paham dalam Islam, termasuk yang berkaitan dengan akidah, karena mereka tahu bahwa perbedaan semacam itu punya sejarah yang panjang dalam tradisi Islam. Dan sah adanya.”

Di sini, Saipul Mujani kembali melancarkan tuduhannya yang tak berdasar bahwa para ulama yang menurutnya “awam dengan tafsir Islam”. Padahal apa yang dilakukannya justru tidak menafsirkan apa-apa. Yang dia lakukan lewat tulisannya adalah “membela” kesesatan Ahmadiyah. Bukankah orang yang membela “kesesatan” lebih sesat lagi? Sama halnya dengan orang yang membela kebodohan, bukan ia lebih bodoh dari yang dibelanya itu? Dan dalam kasus Ahmadiyah, bukan paham alternatif tentang Islam yang ada, melainkan alternatif kejahilan: pilih kebenaran Islam atau kesesatan Ahmadiyah.

Kelima, masalah perbedaan pendapat mengenai akal dan wahyu, Saipul Mujani mengungkap kembali perdebatan “klasik” antara Asy`ariyah dan Mu`tazilah. Apa katanya?

Kata Saipul Mujani, “juga kita ingat perdebatan besar para ulama Asyariah dan Mu`tazilah tentang hakikat wahyu atau Al-Quran, apakah ia kekal (qadim) atau baru (hadis). Kita juga tahu ada ulama besar tasawuf, seperti Yazid Albustami atau Al-Hallaj, yang punya ungkapan ganjil bagi awam umat Islam ketika mengatakan, misalnya, “tidak ada Tuhan selain Aku”; “Aku adalah Tuhan”, dan seterusnya.

Itu semua wilayah akidah dan, karena itu, beda paham dalam soal akidah juga biasa saja. Kalau Mirza Ghulam Ahmad mengaku dirinya seorang nabi, ya, tidak ada apa-apanya kalau kita melihat perbedaan paham para ulama pada zaman keemasan Islam tersebut. Jangankan yang mengaku sebagai nabi, yang mengaku dirinya sebagai Allah saja ada. Jangankan perbedaan paham dalam menafsirkan sumber doktrin Islam, yakni Al-Quran, yang menganggap Al-Quran kurang penting pun ada. Dan semuanya berdasarkan atas otoritas keulaman mereka,” tulis Saipul.

Dari pandangannya di atas, nampak jelas betapa “keblingernya” Saipul Mujani. Pandangannya begitu naïf, terlalu dipaksakan hanya gara-gara mendukung Jemaat Ahmadiyah yang menyimpang. Saipul Mujani mungkin lupa bahwa pandangan Mu`tazilah tentang “kemakhlukan” Al-Qur’an (khalq al-Qur’an) tidak didasarkan pada doktrin agama, melainkan politik. Lebih dari itu, adanya ide khalq al-Qur’an Mu`tazilah tidak murni dalam ranah akidah (teologi) melainkan pengaruh penganut agama lain, terutama Yahudi dan Kristen setelah wafatnya Nabi s.a.w. 20 atau 30 kemudian. (Lihat, Dr. Shalah al-Din Basyuni Ruslan, al-Qur’an al-Hakim: Ru’yah Jadidah li Mabahits al-Qur’an al-Karim (Cairo: Dar Qubba’, cet. III, 1999, hlm. 177-178).

Lebih dari itu, Dr. Ahmad Hijazi al-Saqaa melakukan penelitian mengenai doktrin khalq al-Qur’an Mu`tazilah ini. Dan hasilnya, ternyata Mu`tazilah dipengaruhi oleh teologi Yahudi dan Kristen. Oleh karena itu, menurut Ibn al-Atsir, yang menyebarkan ide khalq al-Qur’an di antaranya adalah Labid ibn al-A`sham, musah Nabi Muhammad yang paling keras: yang menyatakan khalq al-Tawrah (Taurat itu makhluk. Idenya kemudian diadopsi oleh keponakannya, Thalut, seorang zindiq (atheis), yang pertama kali menyatakan khalq al-Qur’an dalam Islam.

Imam Khathib al-Baghdadi juga menyatakan bahwa Basyr al-Murisi, seorang Murji’ah-Mu`tazilah adalah seorang propagandis ide khalq al-Qur’an. Ayahnya ternyata seorang Yahudi yang bekerja sebagai tukang “celupa” (sablon_red) di Kufah. Ibn Qutaybah juga meriwayatkan bahwa salah seorang pengusung ide khalq al-Qur’an adalah al-Mughirah ibn Sa`id al-`Ajali, seorang pengikut `Abdullah ibn Saba’ si Yahudi. (Lebih jelas, lihat Dr. Ahmad Hijazi al-Saqaa, al-Mu`tazilah: Qira’ah fi Makhthuthath al-Bahr al-Mayyit (Cairo: Dar al-Buruj, cet. I, 2003, hlm. 91, 135).

Jadi, sejarahnya panjang. Tidak sesederhana kesimpulan Saipul Mujani. Padahal pandangan seperti ini adalah misleading (keliru) dapat dapat menyesatkan opini orang banyak. Jadi, tidak benar kalau dikatakan bahwa masalah akal dan wahyu antara Asy`ariyah dan Mu`tazilah hanya melahirkan ide khalq al-Qur’an: apakah dia qadim atau makhluq. Karena di sana ada politik yang bermain. Dan ummat Islam sampai hari yang menelan pil pahit “fitnah” (ujian) ide khalq al-Qur’an yang tak berdasar itu.

Masalah Yazid al-Bisthami maupun al-Hallaj juga tidak sesederhana yang disimpulkan Saipul Mujani. Kemudian itu dianggap hal biasa. Padahal, masalah Abu Yazid al-Bisthami, al-Hallaj, plus – jika boleh– Suhrawardi pemikirannya dianggap “menyimpang” oleh para ulama. Dan perlu diingat bahwa pandangan mereka bukan meanstreami (arus utama) dalam pemikiran Islam. Landasan pemikiran mereka juga bukan “tauhid” yang jelas, melainkan hasil adopsi dari berbagai budaya asing kuno, seperti: India dan Majusi yang mengganut paham wahdat al-wujud, al-hulul, dan aliran-aliran menyimpang yang tidak dikenal dan tidak diakui oleh Islam. Namun demikian, pandangan mereka dikritik oleh kaum Muslimin, terutama dari sisi tujuan dan target mereka. Dan tentunya selain al-Hallaj dan Suhrawardi amat banyak. (Lihat, Anwar al-Jundi, Syubuhat fi al-Fikr al-Islami (Emirat Arab: al-Ittihad al-Wathani li Thalabah al-Imarat, hlm. 29-30).

Dan tentunya, orang-orang yang mengklaim sebagai “nabi” keluar dari ajaran Islam. Dan itu, menurut Allah, merupakan tindakan kezaliman yang amat besar. Karena dia telah merekayasa kebenaran menurut hawa nafsunya. Dimana akhirnya: dia mengaku mendapatkan wahyu, padahal tidak mendapatkan apa-apa. (Qs. al-An`am (6): 93). Konon lagi orang-orang yang mengaku sebagai “Allah”. Betapa “sesatnya” orang-orang yang mendaku sebagai “tuhan” selain Allah. Jika pun klaim sebagai “Allah” ada dalam Islam, itu adalah pandangan yang menyimpang, bukan berarti itu benar dan dapat dibenarkan.

Keenam, tuduhan keji Saipul Mujani juga dapat kita lihat dari pernyataannya, “Sejauh ini para ulama yang bernafsu mengeluarkan Ahmadiyah dari Islam cukup berhasil memonopoli arti dan makna Islam itu, sehingga paham yang lain harus dimusnahkan. Lebih dari itu, mereka kemudian berhasil juga menciptakan ketakutan di seantero negeri, termasuk kepada para jenderal yang paham keislamannya dari tradisi abangan itu.

Para elite negara begitu takut kepada umat Islam yang maknanya ciptaan para ulama itu. Mereka begitu percaya, kalau melawan paham ulama itu, mereka akan ditinggalkan umat Islam, yang membentuk hampir seluruh penduduk negeri ini. Kalau ditinggalkan, apalagi dimusuhi umat yang buatan ulama itu, habislah riwayat petinggi negara yang nasibnya bergantung pada pilihan umat itu, apakah itu presiden, anggota DPR, gubernur, maupun bupati. Pejabat-pejabat negara lainnya yang tak dipilih umat, seperti yang duduk di Mahkamah Konstitusi, kejaksaan, kepolisian, dan kementerian, juga takut karena bergantung pada para pejabat yang dipilih umat tersebut. Umat berkuasa, dan membuat takut seantero negeri.”

Pandangan Saipul Mujani di atas amat “provokatif”. Ia ingin menimbulkan fitnah baru, bahwa ummat Islam di Indonesia adalah ‘ciptaan’ para ulama. Satu pandangan yang penuh dengan kebencian terpendam. Satu pandangan yang mengandaikan bahwa seluruh prangkat negara berada dalam “cengkraman” para ulama Muslim. Sejatinya, sebagai seorang akademisi, pendapat ini tidak seharusnya muncul. Karena hanya memicu lahirnya pandangan yang kontro-produktif di tengah-tengah ummat yang tengah membutuhkan solusi jitu dan sarat manfaat ke depan.

Budaya Menolak Kebenaran

Para ulama memang memiliki “toleransi” yang tinggi dalam masalah perbedaan pendapat. Oleh karenanya mereka terbiasa dengan dialog (al-hiwar) dalam melihat pandangan mana yang benar dan keliru. Dan perlu dicatat bahwa para ulama Islam bermartabat selalu mengikuti “kebenaran” ketika dalam satu dialog ditemukan. Bukan mengingkari kebenaran dengan dalih “relativisme” kebenaran.

Karena kebiasaan orang liberal-relativis selalu menolak kebenaran, jika argumentasi mereka terpatahkan. Maka muncullah istilah-istilah aneh, seperti: “Itu kan penafsiran Anda, orang juga boleh punya penafsiran.” Atau, “Itu kan pemahaman Anda, bisa jadi pemahaman Anda keliru.” Kadang kala, “Itu kan menurut Anda, menurut saya lain lagi.”

Dalam kasus Ahmadiyah bukan tidak pernah dilakukan dialog. Tapi ketika Jemaat Ahmadiyah terpojok, mereka menyatakan, “Masalah kenabian hanya beda perspektif saja.”

Alangkah jauhnya jika dibandingkan dengan kebesaran jiwa seorang Qadhi (hakim) Basrah (Iraq), `Ubdaydillah ibn Hassan al-Anbary (105-168 H) yang “mencabut” pendapatnya ketika keliru dan dibenarkan oleh salah seorang muridnya sembari berkata, “Sungguh, menjadi ekor dalam kebenaran lebih aku sukai daripada menjadi kepala dalam kebatilan.”

Begitu juga, amat jauh jika disejajarkan dengan `Izzuddin `Abdul `Aziz ibn `Abdus Salam (577-660 H) yang digelar Sulthan al-`Ulama’ (Sultan Para `Ulama’). Ketika dia tahu bahwa fatwanya “keliru”, dia pun keliling kota Kairo (Mesir) sambil berseru kepada setiap orang, “Wahai, siapa saja yang menerima pernyataan demikian-demikian dari orang lain, janganlah diamalkan karena ternyata fatwa itu keliru!” Subhanallah! Dan mengenai perbedaan pendapat di kalangan ulama, ini perlu digaribawahi. Bahwa perbedaan diantara mereka hanya pada tataran “cabang ajaran agama” (al-furu`) bukan pada hal-hal substantial atau fundamental (al-ushul). Oleh karena itu, tidak pernah ada perbedaan pendapat bahwa Nabi Muhammad adalah khatam al-nabiyyin.

Bertolak-belakang dengan itu, fenomena yang ada sekarang adalah: budaya menolak kebenaran dan menerima kebatilan dengan dalih “kebebasan berpendapat”. Maka sah-sah saja jika ada yang menolak pandangan dan pendapat orang lain, meskipun pandangan itu yang benar. Toh semuanya, seperti kata Michael Fackerell, seorang missionaris asal Amerika, “All is relative” (semuanya adalah relatif). Semuanya adalah hanya beda penafsiran, maka tidak ada yang mutlak dan absolut.

Akhirul kalam, penulis menyimpulkan, ketakutan Saipul Mujani-lah yang berlebihan melihat reaksi terhadap Ahmadiyah saat ini. Dia khawatir jika konsep HAM-Barat tak bisa lulus dan diterima dalam kehidupan beragama dan berbangsa di Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim.

Padahal memang sudah terbukti bahwa HAM-Barat hanya merugikan “ummat Islam”, tidak lebih. Itu sebabnya mengapa sekarang banyak yang “membela” Ahmadiyah dan “menghujat” ummat Islam. Ironisnya, yang “membela” Ahmadiyah dan “menghujat” ummat Islam justru akademisi Muslim sendiri. Menyedihkan!

Penulis adalah guru Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara. Sekarang tengah menyelesaikan studi di Pascasarjana Institut Studi Islam Darussalam (ISID), Gontor-Jawa Timur

Red: Cholis Akbar

Share |

KOMENTAR

Anti Saipul , Senin, 21 Februari 2011
Ya begitulah orang2 yang di dalam hatinya, tak ingin ada kebenaran. Ia hanya silau akan “permen” bernama HAM. Wiridnya, HAM, dzikirnya HAM, ooo Hambumu!

Latifah , Senin, 21 Februari 2011
Ya begitulah orang2 yang di dalam hatinya, tak ingin ada kebenaran. Ia hanya silau akan “permen” bernama HAM. Wiridnya HAM, dzikirnya HAM, ooo HAMbumu! terlalu banyak orang yang nuntut hak.hak,hak dan hak tanpa iteropeksi diri,apakah HAMba tersebut sudah melakukan kwajiban2nya?. dia WAJIB bertanya jika dia belim paham tanpa memasukkan pikiran dan argumennya saja

Ahmad Syarifudin , Senin, 21 Februari 2011
hahaha,begitulah kalau orang berpikir pake dengkul padahal allah memberikan kita akal untuk berfikir mana yang haq dan mana yang batil

Irsyad. , Senin, 21 Februari 2011
Tulisan2 spreti ini perlu dimuat/disebarkan ke media lain. Soal saipul, pd saat ramai2 kampanye, dia selalu dalam surveinya berpihak pd cakon2 yg dianggap netral agama. Jujur saja dia kalau jd narsum, omonganya NYELKIT. Orang2 smcm dia justru yang paling berbahaya bkn sj terhadp islam, tp bagi bangsa.

Amin , Senin, 21 Februari 2011
Betul. manusia smcm itu dlm menyampaikan ide2nya yang boborok dan provokatif, selalu mendapat ruang di media2 yg memiliki karakter yg sama sprt, metro, tempo,kompas dll. saya mengapresiet tvone sbg media yg profesional karena berimbang.maaf kl saya nyebutin nama2 media krn umat biar tau.

Catur Kyat Bin Ronggo Warsito , Senin, 21 Februari 2011
Sekarang kita masuk fase baru jaman gila/edan. Pada fase ini semakin banyak orang jadi edan. Tetapi seedan-edannya orang edan, orang yang paling edan adalah orang yang kedanan/tergila-gila sama orang edan, kayak Saiful Mujani.

Kangkung , Senin, 21 Februari 2011
Kita butuh suara2 yang lantang dari ketua2 ormas2 islam, yg dianggap representasi umat, pak din jangan bcr politik doang, pak aqil siraj gimana nih. Dukung ormas2 islam yg lain, agar pemerintah/sby ga ragu untuk bubarin ahmadiyah.

Saipul Jamil , Senin, 21 Februari 2011
wajar saja seorang seperti saepul memperjuangkan hak-hak ahmadiyah, tidak ada pilihan baginya selain mengacak-acak akidah islam. karena dengan begitu dukungan dana dari asing akan terus mengalir.

Acim , Senin, 21 Februari 2011
Orang Liberal itu berusaha sekuat tenaga mencitrakan dirinya sebagai orang pintar, padahal mereka benar benar menjiplak ide ide orientalis jadi sesungguhnya mereka adalah plagiator. Dan juga mereka mendapat upah dollar dari Barat karena telah menjadi kaki tangan mereka untuk melemahkan Islam. Tapi mereka lupa, bahwa mereka tidak akan bertahan lama karena Allah akan menghancurkan mereka, lihat saja Musharaf, Mubarak, Ben Ali dsb

Bhineka , Senin, 21 Februari 2011
Bangsa tdk dpt cpt menyelesaikan masalah karena pemerintah ragu dan tdk tegas,tentu tegas dlm kebenaran.Dibidang ekonomi/perdagangan tekstil terutama, apa pemerintah tau kl setiap hari puluhan kontainer tekstil selundupan dtg dr cina di tenabang? Begitu pl soal penodaan agama, dlm hal ini ahmadiyah.

Reza , Senin, 21 Februari 2011
Itulah tnda2 akhir zaman, bukan hny agam mereka yg kita urusi, keimanan kita jg hrus kita tingktkan, agar tdk terjadi transit keimnan kita, na\’dzuillahi min dzalik.. ku anfusakum wa ahlikum..

Abdillah , Senin, 21 Februari 2011
Astaghfirullah………itulah berhasilnya Yahudi “mendidik\\\” SM…..

Wawan , Senin, 21 Februari 2011
org 2x mcm ginilah yg oleh baginda rasullullah SAW diberi garis tebal agar diperhatikan. Umat islam lah yg akan mengecilakn islam itu sendiri ketika mereka lbh mementingkan duniawi. umat islam akan spt buih di laut. LSM yg spt org mcm ini juga banyak. mereka cuma ingin uang dr LN mesti hrs mengorbankan aqidah sekalipun apalg bangsa & negara. naudzubillah

Fathullah , Senin, 21 Februari 2011
Terus terang, ketiika saya baca tulisan Saipul di TEMPO itu, saya langsung berfikir bagaimana kalau yang baca ini orang2 awam. Tulisan Saipul itu memang benar2 penuh tuduhan dan sarat kebencian. Tapi sejatinya kita harus sadar betul bahwa musuh kita itu sudah jelas, media laknat yang selalu menyerang Islam itu sudah jelas, itu itu saja kok medianya, juga orang2nya. Saya bersyukur dengana munculnya tulisan yang amat logis dari Ustadz Qosim ini. Tulisan seperti ini perlu terus diperbanyak dan disebarkan.

Suhendra Suwardiningrat , Senin, 21 Februari 2011
Subahanallah,,, media pembanding informasi seperti ini perlu di tingkatkan,,,,untuk mengcounter media2 liberal yang sudah kebablasan menyudutkan posisi umat islam,, pejuang-pejuang kebenaran hanya mengharap keridhoan dan pahala dari Alllah yang maha kekal,,,,pejuang2 lain mengharap dari yang FANA,,,

Aldo , Senin, 21 Februari 2011
Lho, belum tahu ya? Saiful Mujani itu kan seorang Ahmadi. Wajar jika dia membela membabi habis-habisan Ahamdiyah. Kalau media-media yang disebutkan itu, hanya akan memuat tulisan orang2 dari kelompok liberal. Merak tidak akan pernah mau memuat tulisan dari ulama mainstream. Memang jelas, kebencian dari mereka kepada elemen islam

Bin Haris , Senin, 21 Februari 2011
kayaknya aku harus siap2 di azab Allah… orang baik ato jelek kan pasti knek kabeh….

Mudji , Senin, 21 Februari 2011
Begitulah kalo kaki tangan penghancur aqidah diberi ruang untuk menulis disurat kabar. Surat kabarnya juga jelas sekali membela Ahmadiyah…

Sudiro , Senin, 21 Februari 2011
Si Ipul benar …. (kata syaithon), dan yang membenarkan Ipul (embahnya syaithon)

Putra , Senin, 21 Februari 2011
Kaget saya mendengar pak amin rais tdk setuju pembubaran ahmadiyah, padahal beliau tokoh islam yg diharpkn dan mantan ketum Muhammadiyah.Demi ALLAH sy orang yang sangat mengagumi beliau yg berpikiran moderat.Tolong redaksi kl punya email bekiau, atau teruskan ke beliau.

Tempo Menyulut Revolusi Islam , Senin, 21 Februari 2011
Saya baru membaca majalah TEMPO edisi pekan ini. Laporan utamanya ttg FPI. Memang secara umum laporannya sangat tendensius menyerang organisasi massa Islam dan sangat membela Ahmadiyah dan kebebasan. Yang jelas, mereka mengolok olok aksi umat Islam yang dinilainya tidak mungkin melakukan revolusi Islam di Indonesia

Adrianto , Senin, 21 Februari 2011
demi USD AS dan Euro UE…

Nurim , Senin, 21 Februari 2011
tidak usah berlebihan. yang bela ahmadiyah kan saipul mujani dan beberapa gelintir. yang paling penting, bagaimana kaum muslimin meningkatkan persatuannya. Jika solid akan sulit dikalahkan.

Setia , Senin, 21 Februari 2011
mau ngaku Allah kek, mau ngaku Nabi kek, mau ngaku Rosul kek, ngak penting,,,Gimana caraanya sembako murah,jalan ngak macet,orang lapar bisa makan,apa yg telah LO, ente-2 berikan buat masayarakattt iniii APAAAAA??? Emberrr

Mason , Senin, 21 Februari 2011
Saudara2ku. Jangan percaya kepada tafsir mereka. Merekapun menafsirkan tafsiran orang lain. Orang lainpun menafsirkan dari tafsiran orang-orang terdahulu. Tafsiran semakin menjadi berlapis-lapis semakin kesini (kondisi sekarang) semakin jauh dari kebenaran. Apalagi ideologi liberalisme ini berusaha bagaimana agama dicocok-cocokan dengan kepentingan kapitalisme.

Anto , Senin, 21 Februari 2011
Berkoar menentang yang haq, hanya demi dolar, dan kepuasan yang membayar, inilah tipikal penghamba dunia. Maunya serba tenang, damai, sejuk, penuh kasih sayang, tak peduli kemungkaran, kemaksaiatan, kesesatan dan kerusakan merajalela.

Abu Dzikra , Senin, 21 Februari 2011
Usul agar Hidayatullah menerbitkan media harian (koran) utk menandingi Tempo, Kompas, Media Indonesia, Jawa pos group dan media sukeler lainnya yg smakin hari smakin gencar menyerang Islam. Media mrk dijual murah di Stasiun2 KRL, Busway shg mudah dibeli umat, dan umat terkecoh dgn narasumber ttg permasalahan umat dari org2 seperti SM ini dan orrg JIL…

Alnugra , Senin, 21 Februari 2011
Semua salahnya pemerintah, coba sj klo pemerintah menyediakan cukup lap pekerjaan, gak mungkin ada LSM,HAM dll krn mereka akan hidup layak dan gak ngemis2 sm bantuan LN dgn mengorbankan teman, saudara, negara dan aqidahnya.

Ready Gusman , Senin, 21 Februari 2011
apabila manusia telah mengucapkan sahadat, baca sholawat, sholat 5 waktu & rajin membaca Al-qur\’an maka orang tersebut nyata sebagai seorang Islam, …mengenai prilakunya itu tergantung pada pribadinya masing – masing , Allah SWT, telah mempersilahkan .. hiduplah kamu di muka bumi ini semau mu, tapi ingat kamu akan mati, Jadi jelas manusia itu diberi akal tentu kita tahu mana yg salah & bener sudah jelas nggak bener masih juga cari kebenaran sudah jelas salah masih juga dipertahankan … apalagi sesat solusinya tentu pertama cari nama selain Islam kedua jangan tinggal di Negara Indonesia lagi ketiga kalau memang masih merasa Islam bertobatlah Laa ilaaha illallah …Muhammada rasulullah adalah penyataan sikap seorang muslim yg islami, …jadi bagi yg ngaku islam tetapi tidak mengakui Nabi Muhammad, SAW sebagai Rasul terakhir, mulai hari ini beli kertas materai 6000, secara sadar tanpa disuruh keluar dari islam

KIRIM KOMENTAR ANDA :

Nama
Email
Komentar Anda
Kode Keamanan

CAPTCHA Image

Berita Tsaqafah Lainnya
Solusi Problem Ahmadiyah
Kisah Agama Ahmadiyah
Saat-saat Rasulullah Tertawa dan Menangi…
Transempirikal Sains: Analisa dan Kritik
Karakter Pendidikan Islam vs Pendidikan …
Politik Terselubung di Balik Interfaith …
Relegius atau Sekuler?
Mengembalikan Tradisi Ilmu Islam
Urgensi Agama dalam Politik
Hijrah dan Menata Ulang Peradaban Islam
Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan |
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: