p

27 06 2009

* Dunia Islam
* |
* Hikmah
* |
* Haji & Umroh
* |
* Jazirah
* |
* Bisnis Syariah
* |
* Syiar
* |
* Republika E-paper
* |
* Republika Photo
* |
* Republika Koran

Republika Online
04 Rajab 1430 H
27 Juni 2009
Pendaftaran | Login

* Home
* Sakinah
* Kesehatan
* Pendidikan
* Trend Teknologi
* Olahraga
* Senggang
* Pilpres

Koran » Islam Digest
Minggu, 21 Juni 2009 pukul 01:50:00
‘Tuntutlah Ilmu hingga ke Indonesia’

Laput

Sebagian sarjana lulusan universitas Islam di Arab belum memahami pluralitas agama dan masyarakat Rusia.

KH Hasyim Muzadi, ketua umum PBNU, menawarkan kepada Grand Mufti Ravil Gainutdin, ketua Dewan Mufti Rusia, agar ada pelajar atau mahasiswa Islam Rusia yang belajar Islam di Indonesia, terutama di pesantren-pesantren NU. Tawaran ‘tuntutlah ilmu hingga Indonesia’ ini, ia sampaikan saat delegasi Indonesia untuk interfaith dialogue berkunjung ke kantor Dewan Mufti Rusia di Moskow pada 2 Juni lalu.

Delegasi Indonesia diterima langsung oleh Grand Mufti Gainutdin. Selain KH Hasyim Muzadi, delegasi Indonesia antara lain Dubes RI di Rusia, Hamid Awaludin, Dirjen Diplomasi Publik Deplu, Andri Hadi, Romo Frans Magnis Suseno (Katolik), Natan Setiabuti (Protestan), serta dua ketua PWNU Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Menurut Kiai Hasyim, dengan belajar di Indonesia yang masyarakatnya sangat plural, para mahasiswa Rusia tidak akan canggung lagi ketika pulang ke negaranya. ”Rusia adalah negara plural seperti Indonesia. Bedanya, mayoritas penduduk Indonesia Muslim, sedangkan mayoritas penduduk Rusia Kristen Ortodoks,” ujarnya.

Ditambahkan Hasyim, bila mahasiswa Rusia belajar ke negara Arab, apalagi yang mono agama, dirinya khawatir para mahasiswa yang sekian tahun belajar itu ketika kembali ke Rusia, akan memakai ‘kaca mata kuda’. Mereka akan melihat permasalahan di masyarakat hanya hitam putih, halal haram, boleh atau tidak boleh, dan seterusnya. Padahal, Rusia adalah negara sekuler yang multietnis serta multiagama. Dan, umat Islam sangat minoritas.”Dalam masyarakat plural seperti itu, kita harus lebih bijaksana. Tidak bisa melihat segalanya dengan hitam putih.”Penjelasan Kiai Hasyim itu disampaikan setelah mendengar panjang lebar dari Grand Mufti Gainutdin mengenai persoalan umat Islam Rusia, di samping kemajuan-kemajuan yang telah dicapai.

Masa komunis
Umat Islam di Federasi Rusia kini berjumlah sekitar 23 juta atau sekitar 18 persen dari seluruh penduduk yang mencapai 141,7 jiwa. Jumlah itu merupakan terbesar kedua setelah Kristen Ortodoks (59,7 persen). Berikutnya, Katolik (1,8 persen), Protestan (0,7 persen), Buddha (0,6 persen), Yahudi (0,3 pesen), sisanya tak beragama/komunis (18,9).

Pada 2002, jumlah umat Islam di Rusia baru berjumlah 14,5 juta jiwa. Selama tujuh tahun ini, perkembangan agama Islam di Rusia yang mulai berkembang pada abad ke-8 ini memang sangat pesat. Kebanyakan mereka tinggal di wilayah Chechnya, Volga Tengah, Perm Krai, Ulyanovsk, Samara, Nizhny, Novgorot, St Petersburg, Tyumen, dan Moskow. Di wilayah yang terakhir ini, tercatat dua juta warga beragama Islam.

Kini, di Rusia terdapat sekitar tujuh ribu masjid, 100 madrasah dan pusat pendidikan Islam, dan 3.300 organisasi keagamaan Islam. Mereka tergabung di bawah koordinasi Dewan Mufti Rusia, yang dipimpin Grand Mufti Ravil Gainutdin. Setiap tahun, sekitar 5.000 Muslim menunaikan ibadah haji. Jumlah ini terus meningkat dan tahun (2009) ini terdaftar sekitar 20 ribu calon haji yang akan berangkat ke Tanah Suci.

Sejak runtuhnya komunis Uni Sovyet dan terbentuknya Federasi Rusia (1991), perkembangan agama memang sangat pesat. Bukan hanya Islam, melainkan juga agama-agama lain. Sejak pemerintahan demokratis terbentuk dengan presiden pertamanya Boris Yeltsin, jumlah pemeluk agama terus bertambah, termasuk Islam.

Namun, perkembangan ini juga memunculkan persoalan. Persoalan yang paling besar, terutama bagi umat Islam, adalah menyangkut minimnya imam, khatib, dai, dan guru-guru Islam. Kondisi ini bisa dipahami karena hampir lebih 70 tahun di bawah komunis, kegiatan keagamaan sangat dilarang. Masjid-masjid ditutup dan banyak yang dijadikan gudang, pertokoan, atau tempat-tempat kegiatan komunis lainnya. Tak sampai 100 masjid di seluruh Rusia yang tetap dibuka. Itu pun hanya dipakai ketika ada kunjungan pejabat-pejabat tinggi dari negara-negara Islam, termasuk setiap kali dari empat kali kunjungan Presiden Soekarno ke Uni Soviet.

Kegiatan keagamaan hanya bisa dilaksanakan di rumah-rumah dan secara sembunyi-sembunyi. Para pegiat Islam ditangkapi dan dijebloskan ke penjara apabila ketahuan melaksanakan kegiatan keagamaan, kecuali bila mereka berubah menjadi komunis.
Selama rezim komunis berkuasa, tercatat setiap tahun hanya 20 orang yang bisa menunaikan ibadah haji. Itu pun hanya dua atau tiga orang yang benar-benar dari Rusia. Selebihnya adalah para diplomat dan keluarganya dari kedutaan-kedutaan asing yang ada di Rusia.

Geliat kegiatan keagamaan
Kini, setelah kegiatan keagamaan dijamin oleh konstitusi sejak pemerintahan demokratis Federasi Rusia terbentuk, aktivitas umat beragama mulai menggeliat, termasuk umat Islam. Kegiatan keagamaan yang dulu dilakukan sembunyi-sembunyi, sekarang dilaksanakan terang-terangan dan bahkan dijamin undang-undang.

Ratusan komunitas keagamaan mulai terbentuk. Ribuan masjid direnovasi dan difungsikan kembali. Bahkan, banyak masjid baru dibangun di berbagai daerah. Ribuan imam, khatib, dan ustaz dilatih secara khusus di pusat-pusat kegiatan Islam. Mereka kemudian dikirim ke berbagai daerah sebagai ustaz. Ratusan madrasah untuk pendidikan anak dibuka dan ceramah-ceramah keagamaan untuk orang dewasa diselenggarakan di masjid-masjid.

Sebuah perguruan tinggi Islam pertama bernama The Moscow High Islam Religious College dibangun. Perguruan tinggi ini kini dikenal dengan nama The Moscow Islam University. Pengajarnya selain dari Rusia sendiri, juga didatangkan dari universitas-universitas Islam di luar negeri. Bahkan, kini juga menerima sejumlah mahasiswa asing.

Dewan Mufti Rusia dibentuk untuk menaungi ribuan ormas-ormas Islam. Dewan ini juga berfungsi untuk berhubungan dengan pemerintah dan organisasi-organisasi keagamaan di luar Islam. Grand Mufti Rusia juga aktif dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh agama lain–Ortodoks, Katolik, Protestan, Yahudi, dan Buddha–untuk mewujudkan keharmonisan dan kerukunan umat beragama dalam masyarakat plural Rusia. Tercatat, Dewan Mufti Rusia juga sering hadir dalam pertemuan Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan pertemuan internasional lainnya.

Kalau masih ada persoalan, Grand Mufti Gainutdin menyebutnya masalah kecil, adalah sebagian sarjana lulusan universitas Islam di Arab yang belum memahami pluralitas agama dan masyarakat Rusia. Mereka mengajarkan fanatisme agama yang dinilai Gainutdin, agak berlebihan. ”Kalau hal ini dibiarkan, tentu akan menjadi bibit-bibit konflik, baik di internal umat Islam sendiri maupun dengan agama lain,” ujarnya.

Karena itu, Gainutdin menyambut baik tawaran KH Hasyim Muzadi untuk mengirimkan sejumlah pemuda Muslim Rusia, belajar di universitas-universitas Islam di Indonesia. Dalam waktu dekat, dengan difasilitasi oleh Kedubes Indonesia di Moskow, Gainutdin akan berkunjung ke Indonesia. Menurut Aji Surya, counselor di Kedubes Indonesia di Moskow, beberapa qari Indonesia akan diundang pula untuk mengikuti musabaqoh tilawatil Quran di Rusia.

Dalam beberapa tahun ke depan, hubungan dan kerja sama Indonesia-Rusia, terutama antarumat Islam kedua negara, akan terus ditingkatkan. Bilateral interfaith dialogueIndonesia-Rusia dan kunjungan delegasi Indonesia ke kantor Dewan Mufti Rusia adalah dalam kerangka kerja sama antarkedua negara tersebut. Apalagi, peran Kedubes Indonesia di Moskow yang dikomandani Dubes Hamid Awaludin, sangat aktif. ”Saya juga sudah diminta untuk ceramah mengenai manajemen penyelenggaraan haji,” ujar Hamid Awaludin. ikm

Ambon, Dialog, dan Kejayaan Bangsa

Sebuah film dokumenter tentang Indonesia berdurasi sekitar 10 menit pada awal Juni lalu, diputar di ruang pertemuan di Wisma Duta Besar Indonesia di Moskow, Rusia. Penontonnya sekitar 50 orang. Separuhnya dari Rusia. Mereka adalah peserta bilateral interfaith dialogue Rusia-Indonesia. Temanya: Penyelesaian Konflik di Poso dan Ambon dengan terjemahan bahasa Inggris>

Menurut Duta Besar Indonesia untuk Federasi Rusia, Hamid Awaludin, dipilihnya Poso dan Ambon bukan karena ia salah seorang aktor dan mediator perundingan penyelesaian konflik di dua daerah Indonesia tersebut. Tapi, lantaran Ambon dan Poso merupakan contoh yang baik tentang penyelesaian konflik horizontal, di antaranya konflik antarumat beragama, yaitu penyelesaian dengan cara dialog/perundingan.

Film diawali dengan asal muasal konflik. Berikutnya, tampak sekelompok masyarakat menyerang dan membakar rumah-rumah penduduk dari kelompok lain. Serangan ini kemudian dibalas oleh kelompok yang diserang. Konflik pun berlanjut dan semakin meluas. Lalu, tampak masyarakat yang compang-camping dan tak punya pekerjaan. Berikutnya, tampak orang-orang yang sedang duduk di meja perundingan.

Film itu kemudian diakhiri dengan orang-orang yang kembali bekerja, anak-anak ke sekolah, dan tempat-tempat ibadah mulai dipenuhi jamaah. Intinya, kehidupan kembali normal. Film yang diputar di sela-sela dialog delegasi Rusia-Indonesia ini kemudian diakhiri dengan tepuk tangan bergemuruh.

Dalam obrolan dengan Republika, Dubes Hamid mengatakan, film itu sengaja diputar agar mereka melihat bagaimana Indonesia menyelesaikan konflik. ”Jadi, pertemuan dua negara ini bukan sekadar untuk tukar pikiran,” ujarnya.

Bahkan, katanya, acara dialog para delegasi dari dua negara ini sengaja tidak diselenggarakan di hotel, tapi di Wisma Duta Besar Indonesia. ”Kalau diadakan di sini (Wisma Duta Besar–Red), kita menjadi bebas menentukan agenda. Selain itu, juga untuk mengirim pesan kepada mereka bahwa Indonesia lebih maju dalam hal menangani konflik.”

Pesan lainnya, lanjut Hamid, meskipun Indonesia sama seperti Rusia dalam hal kemajemukan etnis dan agama, Indonesia bisa dibilang lebih berhasil menciptakan harmonisasi dan kerukunan antarumat beragama. ”Jadi, mereka tahu Indonesia itu sangat aman.”Menurutnya, dialog dua negara ini akan ditindaklanjuti dengan kegiatan-kegiatan lain yang menguntungkan, terutama buat Indonesia. Termasuk, dalam hal kerja sama ekonomi.

Dengan kondisi Indonesia yang aman, Hamid berharap, Rusia yang kini ekonominya tumbuh pesat mau menanamkan investasinya di Indonesia, terutama para pengusahanya. Untuk sektor pariwisata, ujarnya, jumlah para wisatawan setiap tahun terus meningkat, terutama ke Bali. ”Tahun lalu, jumlahnya sudah 65 ribu wisatawan. Kami optimistis tahun ini jumlah wisatawan Rusia bisa mencapai 100 ribu. Angka ini juga target kami,” tuturnya.
Ia menambahkan, wisatawan Rusia terkenal sangat royal. ”Semua yang kita lakukan di sini, tujuan akhirnya haruslah untuk kejayaan bangsa.” ikm
(-)
Index Koran
Berita sebelumnya :

* 21 Juni 2009 pukul 01:47:00
Malcolm X Islam tidak Mengenal Perbedaan Ras
* 21 Juni 2009 pukul 01:39:00
Tantangan Dakwah Islam di Brazil
* 21 Juni 2009 pukul 01:32:00
Bachtiar Effendy: Jangan Berpolitik dengan Etika yang Rendah
* 21 Juni 2009 pukul 01:19:00
Geliat Kegiatan Keagamaan di Bekas Negara Komunis
* 21 Juni 2009 pukul 01:16:00
Ketika Telah Memilih

KOLOM

* Hikmah
* Analisis
* Opini
* Resonansi
* Tajuk
* Surat Pembaca
* Ihwal

Kategori

* Akademia
* Arena
* Berita Utama
* Bisnis Global
* Bisnis Syariah
* Bursa dan Uang
* City News
* Ekonomi dan Bisnis
* Hukum
* Internasional
* Iptek & Kesehatan
* Khazanah
* Nasional
* Olahraga
* Pemilu
* Politik
* Sepak Bola
* TV Guide
* Warna
* Wawasan
* Cahaya Ramadhan
* Bisnis & Investasi
* Otomotif
* Pareto
* Properti
* Dialog Jumat
* Haji & Umrah
* Deras
* Urbana
* Jalan-jalan
* Pustaka
* Kesehatan
* Nostalgia
* Boga
* Berita
* Wawancara
* Belia
* Korcil
* Remaja
* Solilokui
* Pesona
* Bandar Jakarta
* Mudik Lebaran 2008
* Liputan Khusus
* Telisik
* Leisure
* Layarperak&dvd
* Senggang
* Generasi
* Tokoh Perubahan 2008

Republika Online
: Jurnal Haji | Syiar | Komunitas | Blog | Forum | Karir
Republika Koran
: Republika Koran | Republika E-paper | Tarif Iklan
RSS RSS-Feed | Podcast | Mobile | ROL@yoursite

© 2008 Republika Online. Republika Company. All Rights Reserved.
Terms of service | Privacy guidelines | Advertise with us | About Us | Contact


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: