olo

19 06 2009

* Dunia Islam
* |
* Hikmah
* |
* Haji & Umroh
* |
* Jazirah
* |
* Bisnis Syariah
* |
* Syiar
* |
* Republika E-paper
* |
* Republika Photo
* |
* Republika Koran

Republika Online
25 Jumadil Akhir 1430 H
19 Juni 2009
Pendaftaran | Login

* Home
* Sakinah
* Kesehatan
* Pendidikan
* Trend Teknologi
* Olahraga
* Senggang
* Pilpres

Koran » Islam Digest
Minggu, 14 Juni 2009 pukul 01:58:00
Amin Abdullah Peradaban itu Saling Mengisi

WAWANCARA

Sebagai makhluk sosial, manusia tak mungkin berdiri sendiri. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling berinteraksi, saling mengenal, dan berkembang. Begitu juga dengan peradaban. ”Peradaban muncul bersamaan dengan adanya manusia. Antara yang satu dengan yang lainnya saling melengkapi dan mengisi yang kurang, tak ada yang lebih unggul,” kata Prof Dr HM Amin Abdullah, guru besar Ilmu Sejarah dan Kebudayaan Islam ini.

Bahkan, lanjut Amin, manusia bisa mencapai taraf cita-cita yang diinginkannya juga melalui peradaban yang ada. Dari generasi ke generasi peradaban manusia selalu berubah.

Kepada wartawan Republika, Yulianingsih, rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga ini mengungkapkan sejarah munculnya peradaban manusia. Berikut petikannya.

Bagaimana sejarah munculnya peradaban di dunia ini?
Manusia ini berbeda dengan binatang atau tumbuh-tumbuhan. Manusia dikaruniai akal dan pikiran universal yang merupakan karunia Tuhan yang luar biasa. Bagaimana akal pikiran manusia yang badannya kecil, lemah, serta dengan usia terbatas hanya 60-70 tahun dan tidak sampai 100 tahun cukup luar biasa. Itulah yang membedakannya dengan tanaman, binatang, dan alam itu sendiri.
Dengan keterbatasan itu dan dengan akal pikirannya untuk survive di alam ini, dia harus melindungi diri dari dingin, panas, dan dari kesulitan alam. Awalnya, yang demikian itu untuk keluar dari kesulitan. Namun, ketika bertemu dengan manusia lain dan kelompok orang lainnya, muncullah istilah yang disebut dengan kekuasaan (monarkhi).
Bahkan, ketika masih nomaden pun, di situ sudah ada problem ketika berhadapan dengan temannya manusia sendiri dan aneka ragam kesulitan untuk survive. Sebenarnya, kata kunci peradaban itu adalah survive.
Sebab, kalau dia tidak menggunakan akal pikiran, dia tidak akan mampu menghadapi ‘jatah’ usia yang pendek sekitar 60-70 tahun saja. Dari sinilah, manusia berimajinasi dan menggunakan akalnya. Sehingga, secara perlahan, bisa mengatasi kesulitan dan hantaman kekerasan alam.
Itulah kemudian muncul peradaban, bagaimana dia melindungi diri dari panas dan dingin. Semula, di dalam gua, kemudian dengan otaknya keluar dari gua untuk membuat rumah yang sederhana. Lalu, pada saatnya, ditemukan peralatan lain, seperti semen, pasir, dan lainnya. Kemudian, muncullah rumah kuat, hingga pencakar langit, dan sebagainya.
Itu peradaban dalam arti proteksi terhadap alam. Proteksi proof human being itu lebih hebat lagi, bagaimana mereka menyusun kode etik, moral, agama, dan lain-lain untuk mengatur perilaku hidup supaya survive, tidak ada konflik antarmanusia.
Kalau dia konflik dan tidak bisa diberhentikan, musnahlah manusia. Tapi, nyatanya tidak. Di situlah, kemudian imajinasi manusia memunculkan peradaban-peradaban.

Berdasarkan catatan sejarah, peradaban apa yang paling tua?
Orang mungkin sepakat jika Cina itu disebut tua. Kemudian, Firaun dalam arti mumi, spinx, dan sebagainya. Peradaban Romawi yang peninggalannya luar biasa di Italia. Italia sudah menjadi museum hidup peninggalan yang luar biasa. Pada zaman Romawi, sudah ada kolosium di mana gladiator bertarung. Itu simbol peradaban tua.
Saat itu pun orang sudah memikirkan entertainment dengan memanfaatkan binatang dan manusia di dalam satu gedung. Entertainment saat itu seperti itu, tetapi sekarang telah menjadi sirkus, film, dan sebagainya. Itu kan semua pakai teknik dan semua teknik itu terkait dengan akal manusia.

Berapa banyak jenis peradaban di dunia ini?
Sangat banyak. Sebutlah peradaban Babilonia, peradaban Mesir dalam arti Firaun, Cina yang memang cukup tua sekitar 3000-4000 tahun sebelum masehi (SM), kemudian peradaban Persia, India, belum lagi daratan Eropa sebelum masuk Amerika Baru. Peradaban intinya dipergunakan untuk melindungi manusia agar tidak punah akibat konflik antarmanusia.
Motivasi peradaban itu pada dasarnya adalah melindungi diri dari kekerasan alam dan juga survive di lingkungan manusia. Belum lagi, kalau kita bicara bagaimana dia hidup. Kemudian, muncul peradaban dalam bidang pertanian.
Untuk makan, dulu mereka lari-lari mengambil dari berbagai sumber. Tapi, kemudian, menetap bercocok tanam. Kemudian, dengan akal, muncullah bio-technology, muncullah varian varietas unggul, bibit padi, buah-buahan yang super, dan lain-lain.
Itu semua adalah peradaban secara umum, bagaimana manusia melindungi diri dari alam, kehidupan sosial, dan menjaga kelangsungan mereka dengan makanan. Sehingga, meskipun manusia kecil dan umur terbatas, mereka pun bisa berkembang dengan akal.
Dengan akal itulah, kita terus menghadapi peradaban yang belum selesai hingga saat ini. Karena, untuk menempuh jarak yang jauh itu, butuh transportasi dari kuda, sepeda, kereta angin dan sepeda motor, mobil, angkutan besar, kereta api, pesawat, dan lain-lain.

Lalu, apa kelebihan dan kekurangan dari setiap peradaban tersebut?
Saya kira, masing-masing itu kan saling mengisi, saling belajar. Karena, nyatanya, ada peradaban yang “punah”. Akar kesejarahannya masih ada, tetapi dia sudah punah karena itu perkembangan peradaban manusia yang akalnya terus berkembang.
Sebutlah Firaun. Peradaban itu sudah tidak ada, Romawi dan Persia juga sudah lewat karena perkembangan sejarah. Belum lagi kalau menyebut kekuasaan politik. Evolusi dari monarkhi, teokrasi, hingga republik itu luar biasa dan itu hasil karya manusia.
Bagaimana menata manusia yang sekian banyak agar tidak punah? Maka, manusia saling belajar, saling take and give, bisa regenerasi, bisa tumbuh, bisa berkembang, dan nantinya terjadi siklus yang kemudian muncul generasi baru, begitu seterusnya.

Bagaimana peradaban Islam sendiri?
Setelah ada Romawi, Persia, dan Firaun, di tengah-tengah peradaban dunia itu muncullah peradaban Islam yang dimulai abad ke-7-8. Jadi, peradaban Islam itu juga sesungguhnya kesinambungan dari peradaban Yunani. Kemudian, yang mengembangkan dan menginterpretasikan salah satu pelakunya adalah Arab. Orang Arab adalah yang menerjemahkan karya-karya Aristoteles.
Begitu pula peradaban Babilonia. Dia juga menyambung fase sebelumnya dan fase yang akan datang dalam arti budaya modern. Peradaban Islam cukup lama dari abad ke-7 sampai 14, tujuh abad dari Samarkhan-Uzbekistan dekat perbatasan Cina dan Rusia hingga ke Turki dan Aljazair. Bahkan, sampai di Indonesia dan lain-lain. Jadi, peradaban Islam merupakan tali sambung sebelum peradaban lama yang punah, kemudian dikembangkan dan diciptakan sesuatu yang baru dan terjaga hingga muncul peradaban baru.
Selama tujuh abad itu, muncullah berbagai peradaban Islam. Ada dinasti Abbasiyah, Umayyah, Fathimiyah, dan model-model saat itu. Kemudian, ada Mongol dan Ottoman. Jadi, dunia tidak bisa dijelaskan tanpa Islam juga.
Peradaban dunia itu tidak bisa dijelaskan tanpa peradaban Islam. Sama dengan peradaban dunia tidak bisa dijelaskan tanpa adanya peradaban Cina, Persia, Romawi, atau Firaun. Dengan begitu, kita adil melihat dunia ini. Dunia ini sebenarnya merupakan unik-unik yang saling tergantung, saling memaknai, saling berdiskusi. Tidak ada monopoli salah satu peradaban yang hebat adalah ini. Itu tidak ada.
Saya tidak bisa melihat salah satu saja. Tetapi, masing-masing kontekstual dengan tantangan zamannya. Islam pada saat itu sudah berjasa banyak, tetapi kemudian dikembangkan oleh Barat pada abad ke-16 hingga sekarang sudah 4-5 abad dengan modernitas akar-akarnya. Itu adalah kontinuitas dari apa yang belum dikerjakan Islam. Apa yang belum dikerjakan selama tujuh abad kemudian dilanjutkan oleh Barat. Jadi, Barat pun sifatnya melanjutkan, bukan kreasi baru.

Peradaban Islam seperti apa yang masih berlangsung hingga peradaban saat ini?
Sebenarnya, konsep-konsep spiritualitas, dalam arti monoteisme dan dalam arti tauhid, itu masih unity but diversity. Konsep itu dalam bahasa lain seperti makna Islam, tetapi dengan kata-kata ditafsirkan dalam budaya Barat masih menjadi justice. Itu pengaruh-pengaruh langsung dan tidak langsung tetap ada. Sama dengan budaya Arab masih menggunakan hari Sabtu, Jumah yang bukan bikinan orang Arab. Itu bikinan orang Babilonia.
Jadi, kalau peradaban yang sifatnya fisik itu bagaimana ornamen-ornamen di era Islam itu seperti desain interior itu masih digunakan. Seperti di Prancis, ornamen-ornamen rumah masih menggunakan ornamen Islam, tetapi kemudian dimodifikasi. Begitu pula tentang multikulturalisme. Islam itu sejak awal telah multikulturalisme. Sekarang, Barat ingin mengembangkan itu. Multikulturalisme itu karena pada abad tengah setelah Latin diganti dengan Arab kemudian global sehingga kenal India, Asia, Eropa, dan lainnya.

Bagaimana kira-kira corak peradaban Islam ke depan?
Menurut saya, peradaban itu kan saling pinjam, tidak ada yang unik, tidak ada yang melebihi, dan lain-lain. Nah, dalam Era Baru ini, ketika ada fenomena Abad ke-21, ada Muslim minority in The West. Sehingga, sulit kalau dikatakan Islam Arab atau Indonesia karena di situ Islam tumbuh di wilayah yang sama sekali berbeda dari akarnya. Tetapi, mereka cukup potensial, intelektual.
Lalu, budaya macam apa ke depan? Itu yang perlu diprediksi. Karena, minoritas juga dengan akalnya dapat berkembang. Itu yang mungkin penting dan mungkin akan berpengaruh juga pada majority Muslim nantinya. Bisa di Pakistan, Indonesia, dan lain-lain.
Teman-teman yang hijrah ke sana itu, dugaan saya ke depan, pengaruhnya akan luar biasa. Bagaimana corak peradaban baru ini, yang jelas dia adalah perkawinan antara Barat modern dan Islam yang modern yang masuk dalam teknologi pada humanity kontemporer, masuk pada budaya baru ini, dan kita harus siap untuk itu.
Itu bisa jadi akulturasi (percampuran–Red). Tetapi, akulturasi yang selama ini dipahami adalah Islam itu ke Timur. Kalau ke Barat, apakah itu akulturasi? Itu masih proses panjang dan nada-nadanya kita harus siap terima teman baru ini seperti globalisasi, trannasional, dan lainnya.
Kalau kita tidak siap menghadapi bagian dari perkembangan sejarah, kita bisa salah langkah. Di situlah diuji, apakah pemikiran keagamaan yang mayoritas harus diterapkan pada kelompok minoritas atau tidak. Itu problem. Sebaliknya, apakah pemikiran minoritas dengan perkembangan konteks sosial budaya dan teknologi berbeda, lalu harus ditransfer keMuslim majority?

Apa yang harus dipersiapkan umat Islam sendiri menghadapi era baru?
Saya kira, religius leader atau community leader juga harus menghadapi era baru ini. Literatur yang mereka tulis di sana diterjemahkan di sini, kemudian dipahami oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Ini tugas baru bagi pimpinan masyarakat, pimpinan keagamaan, mungkin juga pimpinan politik untuk memberikan informasi yang tepat pada masyarakat Islam.
Tidak bisa kita menyetop dan mengatakan ini tidak boleh, itu bukan eranya. Karena, ditutup-tutupi juga akan masuk, seperti email, internet, dan sebagainya.
Kita akan capek kalau hanya menutupi itu. Maka, sebetulnya, perkembangan peradaban baru ini yang ditantang adalah pimpinan masyarakat dan pimpinan agama serta pimpinan politik, yaitu bagaimana memahami fenomena baru ini. Kalau tidak, nanti akan terjadi mental dieases: bisa crisis, bisa juga split of personality (kepribadian terpecah). Paling rendah itu kepribadian terpecah karena tidak siap menghadapi perkembangan itu. Implikasi pada pendidikan bagaimana? Itu harus dicermati.

Bagaimana Anda melihat peradaban modern saat ini?
Kritik terhadap peradaban modern itu banyak hal. Dalam bidang transportasi, meskipun itu bagus, ternyata ekologi hancur. Peradaban ini belum selesai, akal masih terus mencari. Kalau bumi ini sudah global warming, tidak bisa dihuni, lalu mau apa manusia. Mau pindah planet, silakan saja. Tapi, itu bagian dari perkembangan otak manusia. Itu tantangan era modern. Kritik kedua adalah kemiskinan di mana-mana. Walaupun yang kaya semakin kaya dan yang miskin juga tetap miskin, kemudian ada mitos modern yang ada di Millenium Development Goals (MDG’s), itu kan kritik. Itu program, tapi kritik pada peradaban modern. Bahwa, peradaban modern belum bisa menyejahterakan semua orang dan keadilan bagi semua orang.
Itu tantangan baru sehingga orang mulai menyebut-nyebut peradaban baru walaupun masih sangat embrional. Tetapi, ada yang tidak beres dengan budaya modern ini, seperti kekerasan atau kekuasaan yang bisa menghancurkan manusia dengan bom. Itu kan budaya modern karena senjata yang dia bikin bisa menghancurkan manusia sendiri. Firaun tidak, Babilonia tidak sampai begitu, Romawi juga. Namun, sekarang, dengan bom atau nuklir itu, daya rusaknya luar biasa. Itu keprihatinan modern sekarang.

Dengan begitu, apakah peradaban modern akan punah juga?
Akal untuk proteksi diri dan menyejahterakan diri tadi masih terus menuntut karya-karya lain yang lebih genius dan saya yakin tidak akan ada selesainya. Peradaban itu terus akan berkembang dan tidak tahu sampai di mana titiknya dan itu juga disebutkan di Alquran. Di situlah kata Tuhan bagaimana kita saling mengenal untuk saling menyelesaikan masalah. Kalau mulai dari nol lagi, tidak mungkin. Jadi, yang ada dipadukan dan disinergikan untuk menyelesaikan masalah. Semuanya saling sinergi.

BIODATA
Nama : Prof Dr HM Amin Abdullah
Tempat, Tanggal Lahir : Pati, 28 Juli 1953
Agama : Islam
Istri : Hj Nurkhayati
Anak :
1. Silmi Rosda
2. Gigay Citta Acikenci
3. Azmi Khubba Adil Paramarta
Pendidikan :
– SDN Margomulyo, Pati, 1966
– Mu’allimin 6 Tahun, Gontor, Ponorogo, 1972
– Institut Pendidikan Darussalam Gontor, 1977
– S1 IAIN Sunan Kalijaga Jurusan Perbandingan Agama, 1981
– S2 Middle East Technical University, Departemen of Philosophy Faculty of Art and Sciences, Abkara, Turki, 1990
– Program Postdoctor, McGill University, Montreal, Canada, 1998
(-)
Index Koran
Berita sebelumnya :

* 14 Juni 2009 pukul 01:52:00
Islam di Jerman Antara Integrasi dan Rasa Percaya Diri
* 14 Juni 2009 pukul 01:46:00
Jumatan di Austria Berbeda tapi Satu Tujuan
* 14 Juni 2009 pukul 01:43:00
Dialog Antaragama Pentingnya Toleransi dalam Perbedaan
* 14 Juni 2009 pukul 01:31:00
SIRR AL-ASRAR Rahasia dari Segala Rahasia Kehidupan
* 14 Juni 2009 pukul 01:20:00
Makna Religi Dalam Tembang Ilir-Ilir

KOLOM

* Hikmah
* Analisis
* Opini
* Resonansi
* Tajuk
* Surat Pembaca
* Ihwal

Kategori

* Akademia
* Arena
* Berita Utama
* Bisnis Global
* Bisnis Syariah
* Bursa dan Uang
* City News
* Ekonomi dan Bisnis
* Hukum
* Internasional
* Iptek & Kesehatan
* Khazanah
* Nasional
* Olahraga
* Pemilu
* Politik
* Sepak Bola
* TV Guide
* Warna
* Wawasan
* Cahaya Ramadhan
* Bisnis & Investasi
* Otomotif
* Pareto
* Properti
* Dialog Jumat
* Haji & Umrah
* Deras
* Urbana
* Jalan-jalan
* Pustaka
* Kesehatan
* Nostalgia
* Boga
* Berita
* Wawancara
* Belia
* Korcil
* Remaja
* Solilokui
* Pesona
* Bandar Jakarta
* Mudik Lebaran 2008
* Liputan Khusus
* Telisik
* Leisure
* Layarperak&dvd
* Senggang
* Generasi
* Tokoh Perubahan 2008

Republika Online
: Jurnal Haji | Syiar | Komunitas | Blog | Forum | Karir
Republika Koran
: Republika Koran | Republika E-paper | Tarif Iklan
RSS RSS-Feed | Podcast | Mobile | ROL@yoursite

© 2008 Republika Online. Republika Company. All Rights Reserved.
Terms of service | Privacy guidelines | Advertise with us | About Us | Contact


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: