barat Islam

19 06 2009

* Dunia Islam
* |
* Hikmah
* |
* Haji & Umroh
* |
* Jazirah
* |
* Bisnis Syariah
* |
* Syiar
* |
* Republika E-paper
* |
* Republika Photo
* |
* Republika Koran

Republika Online
25 Jumadil Akhir 1430 H
19 Juni 2009
Pendaftaran | Login

* Home
* Sakinah
* Kesehatan
* Pendidikan
* Trend Teknologi
* Olahraga
* Senggang
* Pilpres

Koran » Opini
Senin, 15 Juni 2009 pukul 01:11:00
Barat dan Islam

David Miliband
Menteri Luar Negeri Inggris

Semua orang berbicara mengenai reformasi dalam politik Inggris. Hal tersebut benar adanya. Integritas institusi demokrasi kita telah dirusak secara hebat. Kebutuhan untuk pembaruan sangat mendesak karena alasan-alasan tersebut.
Saya ingin berargumentasi bahwa pertanyaan mengenai kebijakan luar negeri yang mempersatukan negara dan negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim menghadirkan ide mengenai saling menghormati yang dilaksanakan melalui politik.

Saya ingin berbicara, saya harap dalam semangat kerendahan hati dan penghormatan, dari sudut pandang saya sebagai menteri luar negeri, mengenai proses politik dalam membangun koalisi dan mendapatkan persetujuan di luar negeri untuk tujuan politik luar negeri.

Pertanyaan ini tidak hanya timbul dalam hubungan kita dengan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, tetapi hari ini saya ingin menggali bagaimana kami, Pemerintah Inggris, bekerja dengan mereka, negara-negara Muslim, pemerintah dan masyarakatnya, yang nilai-nilainya mungkin tidak kita bagi seluruhnya.

Presiden Obama menjelaskan bahwa ada sebuah masalah. Beliau berkata beberapa minggu yang lalu, “Amerika bukan dan tidak akan pernah berperang melawan Islam.”

Fakta bahwa beliau merasa perlu untuk berbicara dan melakukan hal ini dan penerimaan positif yang beliau dapatkan di seluruh dunia atas determinasi dan keberanian beliau, menyingkap dalamnya perbedaan dan ketidakpercayaan terhadap dunia Barat yang timbul pada periode setelah 9/11. Koalisi kami terlalu sempit dan persetujuan jauh dari disepakati.

Untuk memperluas koalisi dan memenangkan persetujuan, kita perlu memahami dunia Islam dengan lebih baik atau kita akan menghadapi risiko memperlemah argumen kita sendiri, seperti yang sering saya lakukan ketika menggunakan label moderat dan ekstremis; kita perlu berpegang teguh pada nilai-nilai kita dan mendukung mereka yang ingin mengaplikasikannya atau kita akan bersalah atas kemunafikan; dan kita perlu membagi upaya untuk mengatasi kedukaan, sosial-ekonomi, dan politik, yang dimaksudkan untuk merendahkan kaum Muslim, dan begitulah faktanya.

Argumen saya berawal dari pengakuan terhadap perbedaan. Hal tersebut berdasar pada keyakinan bahwa tidak akan pernah ada jawaban atas pertanyaan bagaimana kita harus hidup. Saya percaya ada nilai-nilai universal yang dapat dilacak melalui kebudayaan dan keyakinan yang beragam. Saya percaya ada hak asasi manusia dasar yang harus diawasi oleh setiap pemerintahan dan setiap individu.

Tetapi, seperti argumentasi yang telah dikemukakan oleh perdana menteri dengan kuat bahwa ada komunitas global di mana nilai-nilai dan hak-hak universal masih menyediakan tempat untuk cara hidup yang sangat beragam dan berbeda.

Tantangan kita adalah untuk memahami bahwa ketika tidak ada pola tunggal untuk kehidupan yang baik, pasti ada pola dan pola yang lebih baik dari yang kita miliki saat ini untuk orang-orang dengan pandangan yang berbeda, yang berasal dari sistem kepercayan yang beragam, untuk bekerja bersama-sama.

Sebagai menteri luar negeri Inggris, sebuah kehormatan bagi saya untuk mewakili negara dengan keragaman yang luar biasa dan sejarah yang mengagumkan. Tetapi, hal tersebut juga untuk meluruskan prasangka yang ditimbulkan oleh sejarah Inggris, tidak hanya di negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, tetapi di mana saja. Keputusan yang diambil bertahun-tahun yang lalu di King Charles Street masih dapat dirasakan di bentang darat Timur Tengah dan Asia Selatan.

Kastil bekas perang salib yang rusak masih berdiri sebagai peringatan yang tegas mengenai kekerasan religius pada abad pertengahan. Garis yang digambar di peta oleh kekuatan kolonial diikuti oleh, beserta hal lainnya, kegagalan yang harus dikatakan tidak hanya kesalahan kami untuk membentuk dua negara di Palestina. Baru-baru ini, invasi Irak dan peristiwa sesudahnya membangkitkan kepahitan, ketidakpercayaan, dan kekecewaan. Ketika orang mendengar mengenai Inggris, sering kali mereka memikirkan hal-hal tersebut.

Peristiwa-peristiwa ini diasosiasikan dengan sejarah hubungan antara Eropa dan dunia Islam yang telah ditandai oleh penjajahan, konflik, dan kolonialisme. Tetapi, ada cerita lain yang dapat diceritakan. Cerita tersebut tidak menghapus konflik, tetapi membentuk naratif yang berbeda.
Sejarah tersebut bukan mengenai konflik atau konfrontasi, bahkan tidak mengenai koeksistensi atau toleransi, tetapi mengenai kontribusi pertukaran. Sejarah abad ke-17 di Iran seperti yang secara impresif dituturkan dalam pameran Museum Inggris baru-baru ini. Pada abad ke-13 di Andalusia, Norman Sicily atau pencerahan Eropa, mengenai St John dari Damaskus, penasihat Kristen bagi pemimpin Umayyad, mengenai dialog antara Kaisar Byzantine dan Kalifah Arab, dan ditemukannya pemikiran Yunani oleh cendekiawan Muslim awal. Sejarah ini bercerita mengenai keterbukaan, keberagaman, dan pencapaian serta mengenai berbagai kebudayaan yang bersatu dan belajar satu sama lain.

Pendahulu saya, Castlereagh, pernah berkata, “Anda tidak dapat mengajarkan moralitas dengan sebilah pedang.” Hal tersebut mungkin lebih tepat saat ini daripada dahulu. Apa yang ingin saya argumentasikan saat ini adalah tugas utama untuk kebijakan luar negeri adalah untuk menciptakan arena politik, baik nasional maupun internasional, di mana nilai-nilai yang berbeda dapat diargumentasikan dan dalam proses perubahan terhadap marjinalisasi kekerasan; kemudian bahaya utama adalah kegagalan untuk menciptakan arena tersebut, dengan konsekuensi memperkuat mereka yang melakukan kekerasan.

Dasar dari argumen saya adalah keamanan di dunia saat ini tidak dapat dijamin oleh negara adikuasa semata atau bahkan sejumlah negara yang kuat. Ancaman perubahan iklim, terorisme, pandemik, dan krisis ekonomi terlalu besar dan beragam. Maka dari itu, keamanan tergantung pada dua hal yang tidak terlepaskan satu sama lain. Pertama, kita memerlukan koalisi negara dan gerakan politik yang seluas mungkin. Hal tersebut berarti siap untuk mendukung rekonsiliasi dengan organisasi yang nilai-nilainya tidak sama dengan kita, tetapi siap untuk mencapai kepentingan yang sama.

Kedua, kita perlu persetujuan dari rakyat. Pada abad yang lalu, persekutuan dibentuk oleh monarki, perjanjian ditandatangani oleh raja dan bangsawan atau oleh elite penguasa. Tetapi, kekuasaan pada abad modern telah keluar dari genggaman erat tersebut.

Dalam menyusun kedua tujuan tersebut–membangun koalisi dan memenangkan konsensus–ketegangan antara keduanya sangat nyata. Koalisi paling luas adalah, mungkin, termasuk kelompok yang tujuannya tidak sama dengan kita, nilai-nilainya kita anggap tercela, metodenya kita ragukan. Namun, tidak mungkin untuk memenangkan kesepakatan masyarakat jika kita tidak menunjukkan konsistensi dan keyakinan dalam penerapan nilai-nilai kita.

Penerapan nilai-nilai yang terus-menerus secara kaku tentunya akan mengucilkan organisasi-organisasi yang tanpa mereka kemajuan tidak mungkin terjadi. Namun, jika kita terlibat dengan semua pihak yang terkait, tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kita atau mereka, kita terbuka terhadap biaya dari realisme yang paling murni.

Jalan melewati ketegangan berada dalam komitmen kita terhadap politik dan penolakan akan kekerasan. Adalah selalu terjadi ketika kebisuan menyetujui kekerasan ditarik demi politik tindakan diplomasi memiliki kesempatan untuk diaplikasikan.
(-)
Index Koran
Berita sebelumnya :

* 15 Juni 2009 pukul 01:07:00
Masa Depan Pemberantasan Korupsi
* 13 Juni 2009 pukul 01:36:00
Malaysia, Ambalat, dan Manohara
* 13 Juni 2009 pukul 01:33:00
Menyikapi Pidato Obama
* 12 Juni 2009 pukul 01:34:00
Islam Mengentaskan Kemiskinan
* 11 Juni 2009 pukul 01:11:00
Membenahi Ujian Nasional

KOLOM

* Hikmah
* Analisis
* Opini
* Resonansi
* Tajuk
* Surat Pembaca
* Ihwal

Kategori

* Akademia
* Arena
* Berita Utama
* Bisnis Global
* Bisnis Syariah
* Bursa dan Uang
* City News
* Ekonomi dan Bisnis
* Hukum
* Internasional
* Iptek & Kesehatan
* Khazanah
* Nasional
* Olahraga
* Pemilu
* Politik
* Sepak Bola
* TV Guide
* Warna
* Wawasan
* Cahaya Ramadhan
* Bisnis & Investasi
* Otomotif
* Pareto
* Properti
* Dialog Jumat
* Haji & Umrah
* Deras
* Urbana
* Jalan-jalan
* Pustaka
* Kesehatan
* Nostalgia
* Boga
* Berita
* Wawancara
* Belia
* Korcil
* Remaja
* Solilokui
* Pesona
* Bandar Jakarta
* Mudik Lebaran 2008
* Liputan Khusus
* Telisik
* Leisure
* Layarperak&dvd
* Senggang
* Generasi
* Tokoh Perubahan 2008

Republika Online
: Jurnal Haji | Syiar | Komunitas | Blog | Forum | Karir
Republika Koran
: Republika Koran | Republika E-paper | Tarif Iklan
RSS RSS-Feed | Podcast | Mobile | ROL@yoursite

© 2008 Republika Online. Republika Company. All Rights Reserved.
Terms of service | Privacy guidelines | Advertise with us | About Us | Contact


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: