per

9 06 2009

* Dunia Islam
* |
* Hikmah
* |
* Haji & Umroh
* |
* Jazirah
* |
* Bisnis Syariah
* |
* Syiar
* |
* Republika E-paper
* |
* Republika Photo
* |
* Republika Koran

Republika Online
15 Jumadil Akhir 1430 H
09 Juni 2009
Pendaftaran | Login

* Home
* Sakinah
* Kesehatan
* Pendidikan
* Trend Teknologi
* Olahraga
* Senggang
* Pilpres

Koran » Islam Digest
Minggu, 07 Juni 2009 pukul 01:41:00
Komaruddin Hidayat: Islam Kaya Kebudayaan, Namun Miskin Peradaban

Rubrik Wawanca

Apa yang salah dengan umat Islam? Pertanyaan itu selalu saja dilontarkan umat Islam ketika melihat kemerosotan peradabannya. Nada pertanyaannya pun berbeda-beda, ada yang kesal, kecewa, sedih, ada juga yang marah.

Di era yang dinamakan banyak pakar sebagai ‘era ekonomi kreatif’ ini, peradaban lain berkembang dengan pesat meninggalkan peradaban Islam dalam arena kompetisi yang begitu ketat. Prof Dr Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, melihat ada yang salah urus dalam perawatan kekayaan budaya umat Islam sehingga modal peradaban yang dimiliki umat jatuh ke pangkuan peradaban lain.

Di manakah letak kesalahan itu? Berikut ini petikan wawancara Damanhuri Zuhri dan Ali Rido dari Republika dengan salah seorang cendekiawan Muslim Indonesia itu.

Apa yang dimaksud dengan peradaban Islam?
Sebelum menjawab apa itu peradaban Islam, terlebih dahulu saya jelaskan pengertian peradaban secara umum. Di dalam setiap peradaban terdapat kebudayaan. Siapa pun orang yang lahir disambut dan diatur oleh kebudayaan. Maka, kebudayaan menjadi modal utama membangun peradaban.

Caranya, budaya tersebut dikembangkan dan diawetkan lewat pendidikan, yang dapat melahirkan high culture (peradaban tinggi). Nah , peradaban yang tinggi inilah kemudian yang akan melahirkan pilar-pilar peradaban, misalnya, ilmu pengetahuan, seni, bahasa, dan sastra.

Kalau pemilik sebuah budaya tinggi itu tidak mampu memeliharanya, budaya tersebut akan pindah ke bangsa lain yang dapat merawatnya. Itulah mengapa selalu ada peradaban yang muncul di tempat lain menggantikan peradaban lama yang sudah tidak dirawat pemiliknya.

Ada sebuah ungkapan, dalam peradaban itu membutuhkan kelompok masyarakat yang bisa mengasuhnya, mencintainya, dan menumbuhkannya. Ketika sebuah masyarakat tidak bisa mengasuh, mencintai, dan menumbuhkan, peradaban akan pindah mencari majikan yang baru.

Nah , sekarang peradaban Islam itu apa? Ada berapa kriteria. Pertama, ada nilai-nilai yang bersifat universal. Kedua, terdapat etika sosial. Ketiga, ada ritual-ritual yang dilakukan umat Islam. Dan keempat, ada doktrin keagamaan, yang lebih populer dengan istilah tauhid.

Apa contoh nilai-nilai universal di dalam peradaban Islam?
Prinsip-prinsip kemanusiaan, ajaran tentang kebersihan, kejujuran, keadilan, itu semua bersifat universal. Ilmu pengetahuan juga bersifat universal, seperti kedokteran, matematika, dan fotografi.

Karena sifat universalitasnya itu, ilmu pengetahuan akan berkembang luas dan diterima oleh masyarakat mana pun. Kamera atau handphone pada mulanya tumbuh di dalam satu masyarakat tertentu. Tetapi, kemudian tersebar melewati batas-batas wilayah, etnis, agama, dan budaya. Dulu umat Islam mampu memproduksi kebudayaan tinggi semacam itu. Tetapi, karena tidak mampu merawatnya, ia lari ke Eropa, Amerika, dan Jepang.

Universalitas peradaban Islam diakui ketika bangsa lain masih terbelakang. Kita dulu paling maju di bidang ilmu pengetahuan, politik, dan ekonomi. Jadi, nilai-nilai sebuah komunitas menjadi universal ketika kuat dan maju dalam bidang teknologi, politik, dan sains.

Apakah sumber nilai-nilai universal satu peradaban berbeda dengan peradaban lain?
Saya rasa tidak. Nalar, rasionalitas, dan pengalaman hidup merupakan sumber nilai-nilai universal setiap peradaban. Misalnya, ternyata bahwa hidup jorok itu sumber penyakit. Maka, di mana pun masyarakat yang maju senang kebersihan. Sumbernya dari mana, ya dari pengalaman.

Adapun contoh universalitas yang berasal dari penalaran adalah alat-alat teknologi. Manusia itu suka lupa. Lalu, mereka berpikir bagaimana supaya tidak lupa, maka diciptakanlah alat perekam, kalau lupa bisa diputar lagi. Manusia juga selalu ingin mengabadikan momen-momen penting dalam hidupnya, maka diciptakanlah kamera untuk mengabadikan gambar-gambar penting.

Bukti universalitasnya, orang tidak berbicara siapa dan apa agama yang menciptakan alat-alat itu. Tidak ada lagi hubungan emosional dan keagamaan dalam pemakaian alat teknologi canggih.

Tadi Anda menyebutkan etika sosial, ritual, dan tauhid sebagai kriteria peradaban Islam. Bisa dijelaskan?
Iya. Etika sosial di dalam Islam juga bersifat universal. Budaya tertib, adil, jujur, malu, itu universal. Nah , sebuah nilai universal akan semakin bagus kalau setiap agama ternyata memiliki aturan yang serupa. Islam mengajarkan kepada umatnya rasa malu. Itu bagus.

Tapi, jangan beranggapan bahwa hanya orang Islam yang mempunyai tradisi malu. Orang Jepang juga punya. Orang Korea juga punya. Jadi, nilai agama yang universal akan semakin universal ketika bangsa-bangsa lain memiliki nilai-nilai yang sama.

Sedangkan kriteria ketiga dan keempat, yaitu ritual dan tauhid atau metafisika, itu khas Islam yang membedakannya dengan peradaban Arab. Ketika Islam hadir di tengah bangsa Arab memperkenalkan tradisi yang dijaga dan dianut umat Islam, seperti shalat, puasa, dan haji. Semua itu adalah tradisi yang menjadi bagian dari peradaban.

Peradaban Arab bisa berkembang, salah satu faktornya adalah Islam. Ketika Islam menyebar ke mana-mana, bahasa Arab juga berkembang pesat. Orang Indonesia menghormati bahasa Arab karena Alquran berbahasa Arab. Bahasa Arab itu menjadi istimewa setelah digunakan oleh Allah untuk menghimpun wahyu-Nya.

Selain harus mampu mengasuh budaya, adakah syarat lain untuk memajukan peradaban?
Agar peradaban bisa berkembang perlu di- back-up oleh kekuatan lain. Andaikan orang Indonesia menjajah dunia dalam bidang teknologi, bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa dunia. Andaikan Jepang menjajah dunia seperti Inggris, bahasa Jepang menjadi bahasa dunia. Jadi, sebuah peradaban itu berkembang karena didukung oleh jumlah penduduk, sains, teknologi, ekonomi, dan politik.

Dulu, ilmu pengetahuan ditulis dalam bahasa Arab. Puncak-puncak peradaban dulu ditulis, dianut, dan dikembangkan di tanah Arab, berbahasa Arab, dan agamanya Islam. Maka, peradaban Islam menjadi peradaban dunia. Tapi, ketika sekarang puncak-puncak peradaban disaingi oleh bangsa lain, yang terjadi kemudian adalah kompetisi antara peradaban, ada dialog peradaban, juga ada integrasi peradaban.

Arnold Toynbee mengatakan bahwa peradaban suatu bangsa itu lahir, berkembang, maju, merosot, kemudian tenggelam. Peradaban Islam sekarang berada di tahap yang mana?
Sebenarnya teori itu menegaskan bahwa sebuah kemajuan diawali dengan krisis. Krisis mendorong suatu bangsa untuk bangkit dan mencari solusi. Maka, di balik krisis ada gairah untuk maju. Ada beberapa bangsa yang cepat bangkit dari krisis. Ketika Nagasaki-Hirosima dibom, Jepang mengalami krisis yang sangat besar.

Tetapi, peristiwa pengeboman itu layaknya cambuk bagi bangsa Jepang. Mereka bekerja sangat keras sehingga mengalami satu lompatan. Bom Amerika dibalas oleh Jepang dengan bom yang lain, yaitu produk otomotif.

Ada bangsa yang cerdas dan cepat mengatasi krisis. Ada juga yang lama dan gagal mengatasinya. Bangsa Jerman dan Yahudi, adalah contoh lain yang cepat mengatasi krisis. Krisis Yahudi yang pertama, ketika terusir dari Mesir pada zaman Fir’aun. Mereka kemudian punya mitos eksodus, ”Kami bangsa yang harus pergi.”

Ketika orang lain mengatakan Yahudi bangsa terkutuk, oleh mereka justru dibalik, ”Kami bangsa yang memang untuk menguasai dunia.” Para orang tua bangsa Yahudi memberi nasihat kepada anak-anaknya, ”Kamu orang Yahudi, harus pintar, kalau nggak pintar kamu bukan Yahudi. Kamu harus rajin belajar supaya pandai, kalau tidak pandai, kamu bukan Yahudi.” Jadi, krisis yang menimpa orang-orang Yahudi dibalik untuk jadi pemicu cepat bangkit dari keterpurukan.

Umat Islam sendiri bagaimana?
Orang Islam mengalami satu problem, yaitu tidak atau belum adanya sesuatu yang mampu menjadi pengikat dan pemicu kebangkitan. Kalau orang Jepang ada perasaan kebangsaan, ”Kami bangsa Jepang.” Orang Yahudi, ”Kami bangsa Yahudi. ”Orang Cina, ”Kami bangsa Cina.” Nah , kalau orang Arab dan Islam, apa yang mengikat?

Pertanyaannya, mana yang lebih bisa memberikan dorongan, ikatan kearaban atau keislaman? Itu yang harus dijawab. Betulkah semangat arabisme mampu menyatukan bangsa Arab? Jawabannya tidak, karena tidak semua orang Arab beragama Islam.

Secara politik, bangsa Arab juga sudah terpecah-pecah. Ada Kuwait, Irak, Mesir, Arab Saudi, Jordania, Maroko, Libya, dan lainnya. Kalau Turki, ada bangsa Turki; Persia, ada bangsa Persi; Korea, ada bangsa Korea. Sesungguhnya, Arab itu bahasa atau bangsa? Silakan direnungkan sendiri.

Mungkinkah agama Islam menjadi sarana pemersatu umat membangun peradaban?
Kalau Islam menjadi tali pengikat, mestinya seluruh dunia Islam bangkit dan bersatu. Tapi nyatanya, ikatan nasionalisme lebih kuat dibandingkan ikatan Islam. Sama-sama Melayu dan Islam, kita dengan Malaysia harus berkompetisi di bidang ekonomi. Mau naik haji, kita harus pakai paspor, meskipun sama-sama Islam.

Tetapi di dalam Islam, ada doktrin tauhid yang mengikat secara emosional seluruh umat Islam. Apa tidak mungkin tauhid ini menjadi pemersatu?
Tauhid adalah doktrin. Apakah doktrin ini bisa menjadi kelembagaan, institusi, atau membuat negara kesatuan? Kalau iya, semestinya semua orang Islam harus menjadi satu. Apa namanya? Negara Tauhid? Sampai hari ini, nyatanya kita diikat bukan oleh negara tauhid.

Tauhid merupakan pandangan hidup yang menciptakan ukhuwah. Ketika Nabi Muhammad SAW dilecehkan, umat Islam sedunia marah, karena tauhid. Tapi, apakah kemudian tauhid ini dapat menciptakan institusi sendiri, warga negara sendiri, paspor sendiri, mata uang sendiri, kan tidak.

Lantas, bagaimana seharusnya umat Islam bersikap di tengah peradaban lain yang begitu kuat memengaruhi peradaban Islam?
Pertama, mengawetkan, memelihara yang bagus dan yang menjadi identitas kita. Kedua, kita berinovasi. Ketiga, mengapresiasi peradaban yang lain yang bagus. Contoh paling riil dari ketiga syarat itu ada dalam bangunan masjid. Di dalam bangunan dan elemen-elemen masjid, umat Islam telah mengawetkan, meneruskan, menghargai, dan mengambil alih budaya lain.

Bedug itu bukan kultur Islam, tetapi dari Cina, yang kemudian diislamkan. Itu namanya Islamisasi. Artinya, bukan milik orang Islam, lalu diakui Islam dan dimasukkan dalam budaya Islam.Contoh lain adalah menara. Menara hasil adopsi dari umat Majusi. Menara artinya tempat api yang dipuja orang-orang Majusi. Oleh orang Islam menara diambil untuk tempat azan, akhirnya jadi Islam, padahal bukan dari Islam.

Demikian pula dengan kubah. Kubah itu tradisi Romawi dan Yunani. Yang asli Islam adalah shalat dan azannya. Jadi, dalam hal yang sifatnya kebudayaan, seperti arsitektur dan ilmu pengetahuan, orang Islam terbuka sekali. Unsur-unsur dari budaya luar kita terima dengan lapang dada.

Dalam ilmu pengetahuan, umat Islam kurang berinovasi karena mendapat warisan ilmu pengetahuan dan keagamaan yang sangat melimpah. Ilmu hampir-hampir dianggap sudah selesai. Makanya, studi-studi keislaman belakangan ini hanya mengkaji warisan yang lama. Fikih, nggak bisa keluar dari empat mazhab, karena melimpah sekali.

Kita tarik dalam konteks keindonesiaan. Dengan modal kekayaan budaya yang melimpah, apa yang bisa dilakukan umat Muslim Indonesia dalam mengembangkan peradaban Islam?
Budaya yang kita miliki ini dipelihara sebaik-baiknya. Dengan memelihara berarti sudah memberikan kontribusi kepada dunia. Jadi, kita nggak usah belajar di mana-mana kalau bisa menghargai yang lokal dan nasional dari kebudayaan Islam Indonesia.

Memelihara kebudayaan sama dengan memperkuat identitas Islam Indonesia. Tapi sayangnya, selama ini kita terlalu sibuk dengan urusan politik dan ekonomi. Kita nggak pernah ngomong soal budaya. Kecenderungan pada aspek ini rendah sekali. Lihat saja elite-elite politik, urusannya hanya kursi.

Padahal, mestinya kita jangan habis ke sana (politik–Red). Bangsa Indonesia ini kaya sekali akan kebudayaan, tetapi miskin peradaban. Sebab, budaya sebagai modal tidak dilestarikan melalui sistem pendidikan yang mendukung terciptanya budaya tinggi.
(-)
Index Koran
Berita sebelumnya :

* 07 Juni 2009 pukul 01:18:00
Masjid Raya Pekanbaru Riau Pemersatu Ulama, Umara, dan Pemangku Adat
* 07 Juni 2009 pukul 01:14:00
Bayangan Kematian
* 07 Juni 2009 pukul 01:11:00
Calon Jamaah Haji Meningkat
* 07 Juni 2009 pukul 01:07:00
MAJMA’AL BAHRAYNI
* 07 Juni 2009 pukul 01:07:00
Islam di Karibia Dikagumi karena Etos Kerjanya

KOLOM

* Hikmah
* Analisis
* Opini
* Resonansi
* Tajuk
* Surat Pembaca
* Ihwal

Kategori

* Akademia
* Arena
* Berita Utama
* Bisnis Global
* Bisnis Syariah
* Bursa dan Uang
* City News
* Ekonomi dan Bisnis
* Hukum
* Internasional
* Iptek & Kesehatan
* Khazanah
* Nasional
* Olahraga
* Pemilu
* Politik
* Sepak Bola
* TV Guide
* Warna
* Wawasan
* Cahaya Ramadhan
* Bisnis & Investasi
* Otomotif
* Pareto
* Properti
* Dialog Jumat
* Haji & Umrah
* Deras
* Urbana
* Jalan-jalan
* Pustaka
* Kesehatan
* Nostalgia
* Boga
* Berita
* Wawancara
* Belia
* Korcil
* Remaja
* Solilokui
* Pesona
* Bandar Jakarta
* Mudik Lebaran 2008
* Liputan Khusus
* Telisik
* Leisure
* Layarperak&dvd
* Senggang
* Generasi
* Tokoh Perubahan 2008

Republika Online
: Jurnal Haji | Syiar | Komunitas | Blog | Forum | Karir
Republika Koran
: Republika Koran | Republika E-paper | Tarif Iklan
RSS RSS-Feed | Podcast | Mobile | ROL@yoursite

© 2008 Republika Online. Republika Company. All Rights Reserved.
Terms of service | Privacy guidelines | Advertise with us | About Us | Contact


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: