p

9 06 2009

* Dunia Islam
* |
* Hikmah
* |
* Haji & Umroh
* |
* Jazirah
* |
* Bisnis Syariah
* |
* Syiar
* |
* Republika E-paper
* |
* Republika Photo
* |
* Republika Koran

Republika Online
15 Jumadil Akhir 1430 H
09 Juni 2009
Pendaftaran | Login

* Home
* Sakinah
* Kesehatan
* Pendidikan
* Trend Teknologi
* Olahraga
* Senggang
* Pilpres

Koran » Islam Digest
Minggu, 07 Juni 2009 pukul 01:52:00
Lintas Batas Peradaban Islam

Cover

Selama lebih dari delapan abad, Islam menguasai peradaban dunia, dari timur hingga barat.

Howard R Turner dalam bukunya Sains Islam yang Mengagumkan menggambarkan besarnya peradaban umat Islam melalui luas daerah yang dikuasainya di masa lalu. ”Dari Semenanjung Iberia, Sisilia, dan daerah-daerah Muslim di Asia Tenggara. Daerah-daerah yang dikuasai Islam saat ini hampir sama dengan yang diwarisi kaum Muslim pada puncak imperium yang pertama, antara abad ke-9 dan ke-11,” tulisnya.

Atas fakta sejarah itu, umat Muslim wajib bertanya tentang keadaan sekarang yang justru terbalik. Islam pernah memimpin peradaban dunia dengan prestasi yang gemilang selama berabad-abad. Lantas, langkah apa yang mesti ditempuh umat Islam untuk dapat kembali meraih kembali kegemilangan yang telah hilang itu?

Prof Dr Komaruddin Hidayat, rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, mengatakan, ada beberapa hal yang harus dilakukan umat Islam untuk memajukan kembali peradaban Islam itu. Pertama , umat Islam harus mampu memelihara yang baik dari budayanya. Kedua , mampu berinovasi. Dan, ketiga , mau mengapresiasi peradaban lain yang bagus. Singkatnya, umat Islam perlu membangun sikap terbuka.

Jika menengok ke masa lampau, keterbukaan merupakan kunci kemajuan peradaban Islam. Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi mengatakan, Islam adalah sebuah paradigma yang terbuka. Ia merupakan mata rantai peradaban dunia. Dalam sejarah, kita melihat Islam mewarisi peradaban Yunani Romawi di Barat dan peradaban-peradaban Persia, India, dan Cina di Timur.

Dari abad ke-7 sampai ke-16 Masehi, ketika peradaban-peradaban besar di Barat dan Timur mengalami kemerosotan, Islam mengambil alih peran itu dan menjadi pewaris utamanya. Dalam kurun waktu delapan abad itu, Islam mampu mengembangkan warisan-warisan ilmu pengetahuan dan teknologi dari peradaban-peradaban tersebut.

Banyak contoh yang dapat dijadikan bukti tentang peranan Islam sebagai mata rantai peradaban dunia. Misalnya, Islam mengembangkan matematika India, ilmu kedokteran Cina, sistem Pemerintahan Sassanid (Persia), logika Yunani, dan sebagainya.

Akan tetapi, tidak semua yang berasal dari peradaban-peradaban itu diambil mentah-mentah. Ada proses penyaringan dan pengembangan. Dalam bidang-bidang tertentu, Islam menolak logika Yunani yang mengagungkan rasionalitas. Islam menekankan cara berpikir yang lebih menekankan rasa, seperti yang berkembang dalam tasawuf.

Pada tingkat yang lebih praktis, Komaruddin Hidayat memberikan contoh yang cukup baik. Ia mengungkapkan, menara masjid merupakan hasil adopsi dari Majusi. ”Menara artinya tempat api yang dipuja orang-orang Majusi di Persia,” ujar cendekiawan Muslim Indonesia ini kepada Republika .

Bagi umat Islam, menara kemudian dijadikan simbol untuk mengumandangkan azan dan menara yang akhirnya menjadi bagian dari budaya Islam, padahal bukan dari Islam.

Menurut mantan ketua panwaslu pusat ini, dalam memajukan sebuah budaya, diperlukan berbagai macam inovasi. Produk-produk budaya dari luar yang dianggap baik diterima melalui proses Islamisasi.

Dengan proses ini, umat Islam tidak sekadar mewarisi peradaban, tetapi juga memperkaya. Oleh karena itu, Islam akhirnya mampu menjadi peradaban yang agung. Bahkan, mewariskan khazanah ilmu pengetahuan kepada peradaban Barat sekarang ini melalui Renaisans (pencerahan).

Belajar terbuka
Ada tokoh Muslim yang cukup menarik untuk dijadikan contoh keterbukaan sikap terhadap warisan budaya lain. Ia adalah Syihabuddin Suhrawardi. ”Dia menjelajahi sudut-sudut negeri Persia dan mengungkapkan hikmah Persia. Dia menyusuri pelosok-pelosok Anatolia dan Syria. Dia mendatangi kota-kota besar di wilayah Islam dan berbincang dengan para filsuf pecinta hikmah Yunani,” tulis Jalaluddin Rakhmat dalam Islam Aktual .

Sikap semacam itu selazimnya menjadi teladan bagi umat Islam di jaman sekarang. Alquran pun menuntun umat Islam ke arah perenungan sejarah dan mempelajari hukum jatuh bangunnya bangsa-bangsa sebelumya untuk mengambil hikmah.

Dalam Surah Alhajj ayat 46, Allah berfirman, ”Maka, apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar.”

Islam adalah agama yang mengajarkan keterbukaan, terutama dalam mengambil hikmah. Kepada para murid dan sahabatnya, Ali bin Abi Thalib Ra berkata, ”Hikmah itu barang berharga yang hilang dari seorang Mukmin. Karena itu, di mana pun orang Mukmin menemukan hikmah, ia akan memungutnya. Ambillah hikmah itu walaupun dari orang munafik.”

Alquran, sunnah Nabi Muhammad SAW, dan kata-kata bijak para sahabat, jika hanya dipahami secara harfiah, tentu tidak membawa perubahan apa-apa. Mewujudkan tuntunan kitab suci ke dalam kehidupan nyatalah yang bisa mengubah sejarah, sebagaimana yang dilakukan para tokoh Muslim di era kejayaan Islam. rid
(-)
Index Koran
Berita sebelumnya :

* 07 Juni 2009 pukul 01:51:00
Cat Stevens: Islam Agama yang Sempurna
* 07 Juni 2009 pukul 01:49:00
Siapa Yusya’ bin Nun dan Khidir AS?
* 07 Juni 2009 pukul 01:43:00
Ibnu Sina Bapak Kedokteran Dunia
* 07 Juni 2009 pukul 01:41:00
Komaruddin Hidayat: Islam Kaya Kebudayaan, Namun Miskin Peradaban
* 07 Juni 2009 pukul 01:18:00
Masjid Raya Pekanbaru Riau Pemersatu Ulama, Umara, dan Pemangku Adat

KOLOM

* Hikmah
* Analisis
* Opini
* Resonansi
* Tajuk
* Surat Pembaca
* Ihwal

Kategori

* Akademia
* Arena
* Berita Utama
* Bisnis Global
* Bisnis Syariah
* Bursa dan Uang
* City News
* Ekonomi dan Bisnis
* Hukum
* Internasional
* Iptek & Kesehatan
* Khazanah
* Nasional
* Olahraga
* Pemilu
* Politik
* Sepak Bola
* TV Guide
* Warna
* Wawasan
* Cahaya Ramadhan
* Bisnis & Investasi
* Otomotif
* Pareto
* Properti
* Dialog Jumat
* Haji & Umrah
* Deras
* Urbana
* Jalan-jalan
* Pustaka
* Kesehatan
* Nostalgia
* Boga
* Berita
* Wawancara
* Belia
* Korcil
* Remaja
* Solilokui
* Pesona
* Bandar Jakarta
* Mudik Lebaran 2008
* Liputan Khusus
* Telisik
* Leisure
* Layarperak&dvd
* Senggang
* Generasi
* Tokoh Perubahan 2008

Republika Online
: Jurnal Haji | Syiar | Komunitas | Blog | Forum | Karir
Republika Koran
: Republika Koran | Republika E-paper | Tarif Iklan
RSS RSS-Feed | Podcast | Mobile | ROL@yoursite

© 2008 Republika Online. Republika Company. All Rights Reserved.
Terms of service | Privacy guidelines | Advertise with us | About Us | Contact


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: