p

9 06 2009

* Dunia Islam
* |
* Hikmah
* |
* Haji & Umroh
* |
* Jazirah
* |
* Bisnis Syariah
* |
* Syiar
* |
* Republika E-paper
* |
* Republika Photo
* |
* Republika Koran

Republika Online
15 Jumadil Akhir 1430 H
09 Juni 2009
Pendaftaran | Login

* Home
* Sakinah
* Kesehatan
* Pendidikan
* Trend Teknologi
* Olahraga
* Senggang
* Pilpres

Koran » Islam Digest
Minggu, 07 Juni 2009 pukul 01:51:00
Cat Stevens: Islam Agama yang Sempurna

Yang membedakan orang bertakwa dan tidak bertakwa adalah shalat. Shalat merupakan proses pemurnian diri.

Popularitas dan kekayaan rupanya tidak menjamin seseorang dapat hidup bahagia. Bagi Cat Stevens, bintang pop era tahun 70-an, yang kemudian dikenal dengan nama Yusuf Islam, justru merasakan kegelisahan hidup ketika sedang berada di puncak popularitas saat dirinya hidup bergelimang harta dan penuh dengan pujian.

Kegelisahan itu pada akhirnya mendorong Cat Stevens untuk menyusuri jalan panjang mencari Tuhan, hingga ia menemukan cahaya Islam dan akhirnya menjadi juru dakwah lewat kegiatan musiknya serta aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Cat Stevens dilahirkan di London, Inggris, pada 21 Juli 1948 dengan nama lahir Stephen Demetre Georgiou. Kemudian, setelah masuk Islam ia berganti nama menjadi Yusuf Islam. Ia merupakan anak ketiga dari ayah yang berdarah Siprus-Yunani dan ibu berdarah Swedia.

Sejak kecil ia sudah akrab dengan dunia panggung hiburan, karena bisnis keluarganya bergerak dalam bidang itu. Dan, karena itu pula ia terbiasa hidup dalam kemewahan dan selalu berada pada kalangan sosial kelas atas di Inggris. Sebagai penganut ajaran Kristen, keluarganya mengajarkan Cat Stevens bahwa Tuhan itu ada, tapi manusia tidak bisa melakukan kontak langsung dengan Tuhan. Umat Kristiani meyakini Yesus sebagai perantara antara manusia dengan Tuhan.

Saya menerima ajaran itu, tapi saya tidak menelannya mentah-mentah,ujarnya ketika ditanya mengenai keyakinannya pada media-media di Inggris, beberapa waktu silam. Saya melihat patung-patung Yesus, mereka cuma benda mati tanpa nyawa. Saya tambah bingung ketika mereka bilang Tuhan ada tiga. Tapi, saya tidak mendebat pernyataan itu. Saya menerimanya, karena saya harus menghormati keyakinan orang tua saya,sambungnya.

Beranjak dewasa, Stevens mulai menggeluti dunia musik. Bersamaan dengan itu, ia juga mulai melupakan kebingungannya terhadap ajaran agamanya karena ia sendiri mulai jauh dari ajaran Kristen. Adapun yang dipikirkannya saat itu hanyalah menjadi bintang musik pop, sebuah impian kebanyakan pemain musik pop. Apa yang dilihat dan dibacanya pada berbagai media massa, telah memengaruhi pemikirannya untuk menjadi seorang bintang.

Banyak orang di sekeliling saya memberi pengaruh pada pemikiran saya bahwa uang dan dunia adalah Tuhan mereka. Sehingga, saya memutuskan untuk menjadikan musik sebagai bagian dari hidup saya. Banyak uang, hidup enak, tuturnya. Meski demikian, dirinya mengaku kalau saat itu masih tersimpan di lubuk hatinya sisi kemanusiaan, yaitu keinginannya untuk membantu sesama manusia jika dirinya menjadi orang kaya kelak.

Ia pun kemudian membangun kariernya sebagai musisi dan penyanyi. Dalam usia yang masih remaja, Ste vens sudah mengenyam kesuksesan. Dan, keinginannya menjadi seorang bintang besar pun telah tercapai. Nama dan foto-fotonya terpampang pada hampir seluruh media massa. Maka, ia pun merasakan kenikmatan dunia dengan popularitas yang membanggakan.

Pada saat itu aku merasa bahwa diri ku lebih besar dari alam ini dan se olah-olah usiaku lebih panjang daripada kehidupan dunia, dan seolah-olah aku lah orang pertama yang dapat merasakan kehidupan seperti itu. Sebagai musisi besar, Cat Stevens, telah berhasil menjual 40 juta album, yang kebanyakan pada 1960-an dan 1970-an. Lagu-lagunya yang paling populer, antara lain Morning Has Broken, Peace Train, Moonshadow, Wild World, Father and Son, Matthew and Son, dan Oh Very Young.

Tetapi, apa yang telah diperolehnya itu tak juga menghasilkan kepuasan dan ketenangan. Dirinya menginginkan kehidupan yang lebih dan lebih dari apa yang telah dimilikinya saat itu. Akibatnya, ia pun salah jalan dan terjerumus dalam kehidupan yang membuatnya makin gelisah. Ia lantas memakai narkoba dan kecanduan minuman keras. Ia merasa dengan cara itu akan menemukan kebebasan dan kepuasan.

Namun malang, ia malah semakin jauh dari ketenangan dan kegelisahan. Mencari kebenaran Baru setahun Stevens mengenyam ke suksesan dalam karier dan finansialnya, ia terkena Tubercolusis (TB) aki bat gaya hidup dan kebiasaannya me nenggak minuman keras dan mengonsumsi narkoba. Ia sakit parah dan terpaksa harus dirawat di rumah sakit.

Saat itu, ia berkata:Mengapa saya di sini (rumah sakit¡ªRed), dan terge letak di tempat tidur? Apa yang terjadi pada saya? Apakah saya cuma seonggok tubuh? Apakah tujuan hidup saya semata-mata hanya untuk memuaskan tubuh ini? Dari sinilah, ia mulai menyadari bahwa ada yang salah dalam kehidupannya. Kegemarannya meminum minuman keras dan bermain-main dengan narkoba, telah membuatnya lupa daratan.

Karena itu, setelah sembuh dari sakitnya, ia mulai banyak memperhatikan dan membaca seputar permasalah an ini. Ia makin sadar tentang arti kehi dupan dan kematian. Ia mulai rutin melakukan meditasi dan menjadi vegetarian (penyuka sayur-sayuran).

Namun, pertanyaan-pertanyaan bah wa dirinya bukanlah seonggok tubuh manusia, tetap mengganggu pikirannya. Untuk mencari jawaban atas semua pertanyaan tersebut, Stevens mulai melakukan pencarian jati diri dan kebenaran sejati. Ia belajar agama Buddha.

Namun, hal itu belum mampu memaksanya untuk meninggalkan kebiasaan lamanya, yaitu minuman keras dan narkoba. Ia masih sering terlibat dalam kehidupan malam dan glamor. Ajaran agama Buddha yang mengharuskan pemeluknya untuk menenangkan diri dan menghindarkannya dari kehidupan dunia (biksu), tak mampu dijalankannya.

Tak puas dengan itu, ia juga mempelajari Zen dan Ching, numerologi, kartu tarot, dan astrologi. Maka, ia kembali lagi mempelajarai Al-Kitab (Injil). Namun, rupanya ia belum juga menemu kan kebenaran yang sejati dan hakiki. Di tengah keputusasaan itu, ia merasakan sesuatu yang menuntun dan meyakinkannya.Masih ada jalan kebenaran yang belum kamu lakukan,begitulah kiranya yang ada dalam benaknya saat itu.
Ia pun berjumpa dengan salah seorang saudara laki-lakinya yang ba ru kembali dari Yerusalem (Pa lestina). Di sana, saudaranya mengunjungi se buah masjid. Saudara saya itu sangat terkesan melihat masjid yang ramai dikunjungi orang, seperti ada denyut kehidupan, tapi atmosfer ketenangan dan kedamaiannya tetap terasa. Ber be da rasanya ketika ia mengunjungi ge reja dan sinagog yang sepi,ungkapnya.

Maka, ketika kembali ke London, sau dara lelakinya itu memberikan Al-quran padanya. Saudara saya itu be lum masuk Islam, tapi ia merasakan sesuatu kedamaian dalam agama ini (Islam). Karena itu, ia pikir saya pun akan merasakan hal yang sama. Maka, saya pun menerima Alquran pemberiannya itu, lalu membacanya. Saat itulah saya merasakan bahwa saya telah menemukan agama yang benar, agama yang tidak seperti pandangan masyarakat Barat selama ini bahwa agama hanya untuk orang-orang tua,paparnya.

Setelah membaca Alquran, Stevens yang awalnya bingung tentang tubuh dan jiwa, akhirnya menyadari bahwa keduanya adalah bagian yang tak terpisahkan. Begitu menyadari hal itu, sa tu-satunya yang diinginkannya ketika itu adalah menjadi seorang Muslim.

Dan dari Alquran pula, ia tahu bahwa semua rasul dan nabi dikirim Allah SWT untuk menyampaikan pesan yang sama.Ketika saya membaca Al quran lebih jauh lagi, di dalamnya membicarakan tentang shalat, sede kah, dan perbuatan baik. Terus terang, saat itu saya belum membuat keputusan untuk langsung memeluk Islam. Namun, saya merasakan telah menemukan berbagai jawaban atas pertanyaan saya selama ini. Dan, Alquran seolah adalah jawaban yang dikirim kan Allah kepada saya untuk saya pelajari,terangnya.dia/sya/berbagai sumber

Biodata
Nama Lengkap : Stephen Demetre Georgiou
Nama Populer : Cat Stevens
Nama Muslim : Yusuf Islam
TTL : London, Inggris,
21 Juli 1948
Masuk Islam : 1977
Nama Istri : Fauziah Islam
Anak : 5 Orang
Aktivitas : Pemain Musik Pop
Lagu Populer :
– Morning Has Broken
– Peace Train
– Moonshadow
– Wild World
– Father and Son
– Matthew and Son
– Oh Very Young
Kegiatan Lain :
– Aktif sebagai juru dakwah
– Terlibat dalam sejumlah kegiatan
kemanusiaan
– Pendiri yayasan Small Kindness
– Pendiri Muslim Aid

Menemukan Islam

Cat Stevens suatu ketika berkunjung ke Yerusalem. Di kota itu, ia datang ke masjid dan duduk di sana. Se seorang bertanya, apa yang ia inginkan, saya menjawab bahwa saya seorang Muslim. Orang itu bertanya lagi, siapa nama saya. Saya jawab Stevens. Orang itu tampak bingung. Saya ikut shalat berjamaah, meski shalat saya tidak begitu sukses,ff kisah Stevens menceritakan pengalamannya di sebuah masjid di Yerusalem.

Ketika kembali ke London, ia menemui seorang Muslimah bernama Nafisa dan mengatakan bahwa ia ingin masuk Islam. Nafisa kemudian mengajak Yusuf ke Masjid New Regent. Ketika itu tahun 1977, tepatnya satu setengah tahun sesudah ia membaca Alquran yang diberikan saudara lelakinya. Pada hari Jumat, seusai shalat Jumat, Stevens menemui imam masjid dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia pun menjadi seorang Muslim, dan nama Cat Stevens yang telah mengantarkannya pada popularitas, ia ganti menjadi Yusuf Islam.

Menurutnya, Islam adalah agama yang sempurna, yang membicarakan tentang kehidupan masa lalu, sekarang, dan akan datang. Islam membicarakan masalah kehidupan dan kematian. Dan, agar hidup menjadi tenang, seorang Muslim wajib menjalani hidup sebagaimana diajarkan Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW.

Saya pun akhirnya tahu bahwa saya bisa melakukan kontak langsung dengan Tuhan, tidak seperti dalam agama lain yang harus melalui perantara. Dalam Islam, semua penghalang itu tidak ada. Satu-satunya yang membedakan orang adalah ketakwaan. Dan, yang membedakan orang bertakwa dan tidak bertakwa adalah shalat. Shalat merupakan proses pemurnian diri, papar Yusuf.

Setelah memeluk Islam, selain bermusik, Yusuf kini aktif menjadi seorang dai (mubaligh) bagi Islam. Bicaranya tegas. Karena itu, ia pun dikenal sangat vokal dalam berdakwah. Ketika keluar fatwa yang menentang penulis buku Satanic Verses(Ayat-ayat Setan) karya Salman Rushdie, ia merupakan salah seorang yang mendukung fatwa tersebut.

Pada 2004 namanya kembali dibicarakan lagi setelah ia ditolak masuk ke Amerika Serikat karena namanya ditemukan dalam sebuah daftar tidak boleh terbang ( no-fly list). Namanya yang menunjukkan seorang Muslim, selalu diawasi pihak Amerika Serikat. Apalagi, pada 11 September 2001, ketika peristiwa pengeboman menara kembar World Trade Center (WTC) dan Pentagon, umat Islam selalu diteror. Namun, ia tak khawatir dengan kebijakan itu. Menurutnya, mereka yang melakukan itu, belum menyadari bahwa sesungguhnya agama Islam itu cinta damai.

Yusuf Islam sekarang tinggal di London bersama istri dan lima anaknya. Ia merupakan salah seorang anggota jamaah Islam yang aktif. Ia juga mendirikan sebuah yayasan kemanusiaan Small Kindness, yang mulanya menolong korban kelaparan di Afrika dan sekarang membantu ribuan anak yatim dan keluarga di Balkan, Indonesia, dan Irak. Selain itu, ia juga mendirikan yayasan kemanusiaan Muslim Aid. dia/berbagai sumber
(-)
Index Koran
Berita sebelumnya :

* 07 Juni 2009 pukul 01:49:00
Siapa Yusya’ bin Nun dan Khidir AS?
* 07 Juni 2009 pukul 01:43:00
Ibnu Sina Bapak Kedokteran Dunia
* 07 Juni 2009 pukul 01:41:00
Komaruddin Hidayat: Islam Kaya Kebudayaan, Namun Miskin Peradaban
* 07 Juni 2009 pukul 01:18:00
Masjid Raya Pekanbaru Riau Pemersatu Ulama, Umara, dan Pemangku Adat
* 07 Juni 2009 pukul 01:14:00
Bayangan Kematian

KOLOM

* Hikmah
* Analisis
* Opini
* Resonansi
* Tajuk
* Surat Pembaca
* Ihwal

Kategori

* Akademia
* Arena
* Berita Utama
* Bisnis Global
* Bisnis Syariah
* Bursa dan Uang
* City News
* Ekonomi dan Bisnis
* Hukum
* Internasional
* Iptek & Kesehatan
* Khazanah
* Nasional
* Olahraga
* Pemilu
* Politik
* Sepak Bola
* TV Guide
* Warna
* Wawasan
* Cahaya Ramadhan
* Bisnis & Investasi
* Otomotif
* Pareto
* Properti
* Dialog Jumat
* Haji & Umrah
* Deras
* Urbana
* Jalan-jalan
* Pustaka
* Kesehatan
* Nostalgia
* Boga
* Berita
* Wawancara
* Belia
* Korcil
* Remaja
* Solilokui
* Pesona
* Bandar Jakarta
* Mudik Lebaran 2008
* Liputan Khusus
* Telisik
* Leisure
* Layarperak&dvd
* Senggang
* Generasi
* Tokoh Perubahan 2008

Republika Online
: Jurnal Haji | Syiar | Komunitas | Blog | Forum | Karir
Republika Koran
: Republika Koran | Republika E-paper | Tarif Iklan
RSS RSS-Feed | Podcast | Mobile | ROL@yoursite

© 2008 Republika Online. Republika Company. All Rights Reserved.
Terms of service | Privacy guidelines | Advertise with us | About Us | Contact


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: