fiqh lingkungan

25 05 2009

* Dunia Islam
* |
* Hikmah
* |
* Haji & Umroh
* |
* Jazirah
* |
* Bisnis Syariah
* |
* Syiar
* |
* Republika E-paper
* |
* Republika Photo
* |
* Republika Koran

Republika Online
30 Jumadil Awal 1430 H
25 Mei 2009
Pendaftaran | Login

* Home
* Sakinah
* Kesehatan
* Pendidikan
* Trend Teknologi
* Olahraga
* Senggang
* Pemilu

Koran » Islam Digest
Minggu, 24 Mei 2009 pukul 01:54:00
Alam Cermin Keindahan Tuhan

Islam mengecam umat yang senantiasa melakukan kerusakan pada lingkungan maupun tatanan sosial kemasyarakatan.

Umat manusia di seluruh dunia menghadapi krisis lingkungan yang serius. Dampaknya dapat dirasakan oleh siapa saja, tanpa mengenal batas-batas wilayah. Pemanasan global, banjir bandang, gempa bumi, gunung meletus, tsunami, kebakaran hutan, wabah penyakit, adalah sederet bencana yang menimpa negara mana pun dan sudah menelan korban jiwa dan materi yang sangat banyak.

Dalam kondisi yang demikian, banyak kalangan yang menilai agama, khususnya agama-agama monoteis, sebagai biang kerusakan. Kelompok yang berpandangan demikian meyakini ada korelasi positif antara doktrin agama-agama monoteis (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan sikap para penganutnya yang eksploitatif terhadap lingkungan.

Sebagai antitesis dari agama-agama monoteis, muncul aliran panteisme yang meyakini bahwa alam semesta beserta segala isinya memiliki satu jiwa. Aliran ini kemudian berkembang menjadi semacam agama dengan dasar lingkungan hidup sebagai sumber tenaga kreatif. Salah satu tokohnya yang bersemangat menyebarkan pemahaman panteisme lingkungan adalah Harold Wood.

Ada pula kelompok yang berupaya mengajak kembali kepada panteisme yang lebih tua. Sejarawan terkemuka Arnold Toynbee, termasuk dalam kelompok ini, yang meyakini bahwa manusia bukanlah pusat kehidupan. Justru, kehidupan dan lingkungan itu sendiri yang menjadi pusatnya. Artinya, jelas Toynbee, dalam menyikapi lingkungan hidup hendaknya tidak bertolak semata-mata pada keuntungan bagi manusia, melainkan bagi kehidupan secara menyeluruh.

Selain itu, ada kelompok yang meyakini kearifan dalam keyakinan masyarakat tradisional lebih ramah lingkungan. Masyarakat tradisional memandang hutan, gunung, binatang sebagai representasi dari kekuatan gaib yang wajib dihormati. Jika tidak, kekuatan gaib itu akan murka dan mengirimkan malapetaka bagi manusia. Keyakinan semacam ini termanifestasi dalam mitos-mitos. Efek dari mitos tersebut adalah terpeliharanya lingkungan hidup secara baik.

Jalal dan Jamal Sang Pencipta
Benarkah doktrin agama-agama monoteis termasuk Islam turut bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan? Kalangan yang berpendapat demikian menilai bahwa penerapan konsep khalifah manusia di muka bumi, misalnya, mengakibatkan perubahan cara pandang manusia terhadap alam. Kesetaraan antara manusia dan lingkungan sebagai dua entitas yang saling membutuhkan menjadi terkikis. Manusia ditempatkan sebagai makhluk yang lebih tinggi dari alam dan diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengeksploitasinya.

Di dalam ajaran Islam, alam raya tidak lain adalah representasi dari wujud Allah yang Mahaagung. Manusia diciptakan sebagai khalifah-Nya untuk memelihara dan mengambil pelajaran dari alam akan kebesaran-Nya. Akan tetapi, ditegaskan dalam Alquran Surat An-Nahl ayat 14-18 bahwa yang mampu menangkap pesan-pesan Ilahiah itu hanyalah orang-orang yang berpikir dan yang bersyukur.

Dikatakan oleh Dr Yusuf Al-Qaradhawi dalam Islam Agama Ramah Lingkungan , alam bukanlah Tuhan itu sendiri. Maka, alam tidak perlu ditakuti atau diharapkan berkah dan pertolongannya. Praktik-praktik penuhanan alam tampak pada tradisi-tradisi masyarakat kuno yang memuja matahari, bulan, bintang-bintang, gunung, pepohonan, sungai-sungai, dan binatang-binatang. Islam dengan tegas menolak praktik-praktik semacam itu.

Akan tetapi, jelas Yusuf Al-Qaradhawi, bukan berarti Islam mengajak manusia mengekploitasi alam. Islam mengajarkan bahwa alam bukanlah musuh bagi manusia. Alam adalah makhluk yang ditundukkan untuk manusia, melayani manusia, seperti termaktub dalam firman Allah, yang artinya ”Dan, Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Al-Jatsiyah: 13).

Ayat di atas menekankan dua hal penting, yaitu pertama, Allah adalah Zat yang Mahaagung. Dengan kuasa-Nya menundukkan alam untuk kemaslahatan manusia seluruhnya. Dan, kedua, tanda-tanda kekuasaan tersebut hanya dapat dipahami oleh mereka yang menggunakan akal pikirannya secara jernih, yaitu orang-orang yang sadar dua aspek ketuhanan, jalal (keagungan, kekuasaan, kemurkaan) dan jamal (keindahan, kebaikan, dan belas kasih).

Annemarie Schimmel dalam Rahasia Wajah Suci Ilahi memaparkan, konsep jamal mengisyaratkan bahwasanya alam yang dihamparkan sedemikian teratur merupakan keindahan yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia. Manusia membutuhkan keindahan jasmani dan rohani. Oleh karena itu, Islam mengajak agar keseimbangan alam ini dijaga supaya dapat dinikmati keindahan dan manfaatnya oleh seluruh makhluk hidup.

Keindahan warna-warni pepohonan dan binatang-binatang, proses terjadinya makluk hidup baru, berseminya aneka bunga di musim semi, turunnya hujan yang menghidupkan segala sesuatu, semua itu adalah unsur-unsur keindahan yang direkam oleh Alquran, untuk membangkitkan kepekaan, perasaan, dan pemahaman bahwa di balik itu semua ada sosok pencipta Yang Mahasempurna.

Sebaliknya, sifat jalal Allah akan tampak dominan di muka bumi ketika alam telah dirusak oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Dalam surat Al-A’raf ayat 56 Allah mengingatkan, ”Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.”

Menurut Abu Hayyan, ayat ini secara eksplisit melarang manusia melakukan perusakan di muka bumi. Ketika seruan Allah ini dilanggar, yang terjadi adalah perubaan-perubahan mendasar pada wajah dan dinamika bumi. Ada perubahan cuaca yang berimplikasi pada meningkatnya panas bumi dan meningkatnya permukaan air laut, yang berpotensi mengancam keselamatan jiwa manusia.

Jika demikian halnya, apakah Islam turut bertanggung jawab atas kerusakan bumi ini? Tentu tidak. Harus dibedakan antara ajaran Islam dan pemeluk Islam yang dikuasai nafsu materialistis. Tidak ada sedikit pun doktrin Islam yang mengarahkan umatnya bersikap eksploitatif terhadap alam dan isinya. rid/berbagai sumber

Melacak Jejak Kerusakan Lingkungan

Dewasa ini, baik negara maju maupun negara berkembang dihadapkan pada persoalan lingkungan hidup yang semakin lama cenderung berkembang semakin pelik dan rumit. Persoalan lingkungan yang kita hadapi sekarang ini bersifat menyeluruh, baik di tingkat lokal maupun global.

Pada tingkat lokal, kita dihadapkan pada persoalan pencemaran lingkungan (air, tanah, dan udara) yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Sementara di tingkat global, kita dihadapkan pada masalah pemanasan global ( climate change ), yakni naiknya suhu permukaan bumi akibat naiknya kadar gas, yang disebut efek rumah kaca.

Meski krisis lingkungan sudah sedemikian parah, namun menurut Prof KH M Ali Yafie, mayoritas masyarakat dunia saat ini belum sepenuhnya menyadari betapa gawatnya persoalan ini. Atau, kesadaran masyarakat tentang persoalan ini masih sangat rendah.

Dalam bukunya yang bertajuk Merintis Fiqh Lingkungan Hidup , Prof Ali Yafie mengungkapkan, rendahnya kesadaran ini disebabkan oleh konsep ideologi pembangunan tanpa batas (kapitalisme modern) yang sudah telanjur meracuni otak masyarakat saat ini. Ideologi yang menurutnya dilandasi oleh cara pandang yang menganggap alam semata-mata sebagai objek, yang harus ditaklukkan dan dikuasai untuk kepentingan sendiri.

Allah SWT menciptakan alam semesta, jelas Prof Ali Yafie, dalam keadaan seimbang dan harmonis. Melalui hukum-hukum dan ketetapan-ketetapan-Nya, keseimbangan ciptaan-Nya memungkinkan adanya kehidupan di muka bumi ini. Semua ciptaan-Nya berfungsi untuk menjaga keseimbangan itu sehingga kehidupan dapat berlangsung.

”Kandungan kekayaan alam di perut bumi adalah karunia yang diamanatkan kepada manusia untuk dilestarikan dan dilindungi. Bukan untuk dieksploitasi secara tidak wajar sehingga timbul kerusakan dan ketidakseimbangan ekosistem yang berakibat pada terganggunya kehidupan di dunia ini,” kata Ali Yafie.

Menurut beliau, sedikitnya ada dua fungsi lingkungan hidup bagi manusia. Pertama, sebagai tata ruang bagi keberadaannya. Walaupun manusia sendiri yang mengembangkan kesadaran tentang lingkungan, masih sangat sedikit yang kita ketahui tentang seluk-beluk tata ruang keberadaan manusia.

Fungsi kedua, sebagai penyedia berbagai kebutuhan manusia. Lingkungan yang terdiri atas materi dan energi, jelasnya, menghasilkan sumber-sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan manusia untuk kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini, manusia dapat memanfaatkan sumber daya alam secara lebih dibandingkan makhluk lain.

Akar masalah
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Prof Nanat Fatah Natsir, menilai kerusakan lingkungan yang berujung pada terjadinya bencana alam ini tidak terlepas dari kurangnya materi pembelajaran mengenai cinta terhadap lingkungan hidup yang diajarkan di sekolah-sekolah formal. ”Pendidikan lingkungan hidup ini harus perlu digalakkan oleh para guru di sekolah. Ini harus jadi satu komitmen bersama,” ujarnya.

Dengan begitu, lanjut Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat ini, akan timbul kesadaran di kalangan para generasi muda untuk memelihara alam semesta ini dengan tidak mengeksploitasi segala sumber daya alam yang ada secara berlebihan. Dalam hal ini Rasulullah SAW, ungkapnya, sudah memberikan arahan kepada umatnya untuk tidak bersikap rakus. ”Rasulullah menganjurkan kita untuk minum, makan, dan berpakaian dengan tidak berlebih-lebihan.”

Sementara itu, Ketua Yayasan PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center), Zaim Saidi, menyoroti krisis lingkungan melalui kritik perspektif materialistik. Menurutnya, saat ini manusia dalam menghadapi berbagai bencana alam yang terjadi terlalu rasional. Sikap ini disebabkan manusia modern telah menuhankan rasionalitas. Menganggap bahwa segala sesuatunya dapat diselesaikan dengan akal pikiran mereka.

Ia mencontohkan, ketika tsunami melanda wilayah NAD, yang dicari-cari oleh manusia kenapa ada tsunami. ”Adalah patahan ini patahan itu, tabrakan ini tabrakan itu atau gelombang ini gelombang itu. Dan, orang tidak mau tahu dan lari dari kenyataan bahwa itu ada yang mengirim,” ujarnya.

”Kemudian, dicari solusinya dengan membuat BRR (Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi) dan membeli alat-alat pendeteksi tsunami dengan utang luar negeri lagi yang begitu besar. Dalam konteks ini, lagi-lagi riba yang bermain sehingga dikenal sekarang dengan apa yang disebut disaster capitalism (sistem riba yang memanfaatkan bencana-bencana),” jelasnya lebih lanjut.

Padahal, di dalam Alquran, terang Zaim, Allah SWT sudah banyak memberikan peringatan-peringatan mengenai perbuatan perusakan terhadap lingkungan. ”Kalau begini begitu salah satu bentuk peringatan yang akan datang adalah tsunami, misalnya seperti yang digambarkan dalam Alquran Surat al-Zalzalah,” tambahnya.

Kehidupan manusia saat ini yang cenderung sekuler, kata Zaim, membuat mereka mengabaikan pendekatan agama dalam mencari solusi terhadap permasalahan kerusakan lingkungan yang terjadi dewasa ini. Akhirnya, sebuah bencana alam yang terjadi dianggap sebagai bencana biasa. dia/berbagai sumber

(-)
Index Koran
Berita sebelumnya :

* 24 Mei 2009 pukul 01:51:00
PUISI-PUISI IMAM ABDUL ROFIQ
* 24 Mei 2009 pukul 01:49:00
Meniti Cahaya
* 24 Mei 2009 pukul 01:45:00
Muhammad Iqbal: Pembaru Islam dari Pakistan
* 24 Mei 2009 pukul 01:41:00
Masjid Agung Demak Simbol Akulturasi dalam Membumikan Tauhid
* 24 Mei 2009 pukul 01:41:00
Tanwir al-Qulub Penerang Hati dalam Kegelapan

KOLOM

* Hikmah
* Analisis
* Opini
* Resonansi
* Tajuk
* Surat Pembaca
* Ihwal

Kategori

* Akademia
* Arena
* Berita Utama
* Bisnis Global
* Bisnis Syariah
* Bursa dan Uang
* City News
* Ekonomi dan Bisnis
* Hukum
* Internasional
* Iptek & Kesehatan
* Khazanah
* Nasional
* Olahraga
* Pemilu
* Politik
* Sepak Bola
* TV Guide
* Warna
* Wawasan
* Cahaya Ramadhan
* Bisnis & Investasi
* Otomotif
* Pareto
* Properti
* Dialog Jumat
* Haji & Umrah
* Deras
* Urbana
* Jalan-jalan
* Pustaka
* Kesehatan
* Nostalgia
* Boga
* Berita
* Wawancara
* Belia
* Korcil
* Remaja
* Solilokui
* Pesona
* Bandar Jakarta
* Mudik Lebaran 2008
* Liputan Khusus
* Telisik
* Leisure
* Layarperak&dvd
* Senggang
* Generasi
* Tokoh Perubahan 2008

Republika Online
: Syiar | Komunitas | Blog | Forum | Karir
Republika Koran
: Republika Koran | Republika E-paper | Tarif Iklan
RSS RSS-Feed | Podcast | Mobile | ROL@yoursite

© 2008 Republika Online. Republika Company. All Rights Reserved.
Terms of service | Privacy guidelines | Advertise with us | About Us | Contact


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: