f

8 05 2009

* Dunia Islam
* |
* Hikmah
* |
* Haji & Umroh
* |
* Jazirah
* |
* Bisnis Syariah
* |
* Syiar
* |
* Republika E-paper
* |
* Republika Photo
* |
* Republika Koran

Republika Online
13 Jumadil Awal 1430 H
08 Mei 2009
Pendaftaran | Login

* Home
* Sakinah
* Kesehatan
* Pendidikan
* Trend Teknologi
* Olahraga
* Senggang
* Pemilu

Koran » Islam Digest
Minggu, 03 Mei 2009 pukul 21:54:00
Fazlur Rahman Pemikir Islam yang Sarat Kontroversi

HUJJATUL ISLAM

Garis pemikiran Fazlur Rahman selalu Quran Oriented. Dia ingin membawa pesan universal Alquran.

Pakistan, negara yang terletak di kawasan Asia Selatan, terkenal dengan para pemikir Islamnya. Salah satu tokoh pemikir Islam yang berasal dari negara ini adalah Fazlur Rahman. M Yahya Birt dari Asosiasi Peneliti Islam menggambarkan bahwa Fazlur Rahman sebagai tokoh pemikir Muslim terbesar di pertengahan abad ke-20.

”Berbagai tulisannya, baik mengenai Islam klasik, filsafat Barat, maupun konsep agama, banyak memengaruhi para pemikir sesudahnya,” ungkap Birt.

Dilahirkan di Hazara, Pakistan, pada 21 September 1919, Rahman dibesarkan dalam keluarga penganut Mazhab Hanafi. Ayahnya, Maulana Shihab al-Din, adalah seorang sarjana terkenal pada masanya. Sang ayah berhasil menyelesaikan pendidikannya dalam bidang studi hukum Islam di Deoband dengan nilai memuaskan.

Sejak kecil sampai umur belasan tahun, selain mengenyam pendidikan formal, Rahman juga menimba banyak ilmu tradisional dari ayahnya. Setelah menamatkan sekolah menengah, ia mengambil studi bidang sastra Arab di Universitas Punjab. Pada tahun 1942, ia berhasil menyelesaikan studinya di universitas tersebut.

Pada 1946, Rahman melanjutkan studi doktoralnya ke Oxford University, Inggris. Ia berhasil meraih gelar doktor filsafat pada tahun 1951. Pada masa ini, ia giat mempelajari bahasa-bahasa lain sehingga ia menguasai banyak bahasa, seperti bahasa Latin, Yunani, Inggris, Prancis, Jerman, Turki, Persia, Arab, dan Urdu.

Tak lama setelah lulus dari Oxford University, Rahman memulai kariernya sebagai seorang pengajar. Ia mengajar mata kuliah filsafat Islam dan Persia di Durham University, Inggris. Kemudian, ia mengajar studi Islam di McGill University sampai tahun 1961.

Pada Agustus 1962, ia memutuskan kembali ke Pakistan. Oleh pemerintah Pakistan, ia diangkat sebagai kepala Institut Penelitian Islam yang didirikan oleh pemerintah. Belakangan, ia juga diangkat sebagai anggota Advisory Council of Islamic Ideology bentukan Pemerintah Pakistan.

Dikecam media
Karena tugas yang diemban oleh kedua lembaga inilah, Rahman intens dalam usaha-usaha menafsirkan kembali Islam untuk menjawab tantangan-tantangan masa itu. Tentu saja, gagasan-gagasan liberal Rahman, yang merepresentasikan kaum modernis, selalu mendapatkan serangan dari kalangan ulama tradisionalis dan fundamentalis di Pakistan.

Ide-idenya di seputar riba dan bunga bank, sunah dan hadis, zakat, proses turunnya wahyu Alquran, fatwa mengenai kehalalan binatang yang disembelih secara mekanis, dan lainnya telah menimbulkan berbagai macam kontroversi di Pakistan.

Bahkan, Rahman dalam sebuah tulisannya mengenai Islam menyebutkan bahwa Alquran itu secara keseluruhannya adalah kalam Allah dan–dalam pengertian biasa–juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad telah menghebohkan media massa selama kurang lebih setahun. Banyak media yang menyudutkannya.

Puncak kontroversi ini adalah demonstrasi massa dan aksi mogok total yang menyatakan protes terhadap buku tersebut. Akhirnya, Rahman pun memilih mundur dari kedua lembaga tersebut. Kemudian, ia memutuskan pindah ke Amerika Serikat dan kembali mengajar. Di Negeri Paman Sam, ia menjadi dosen tamu di University of California Los Angeles (UCLA) selama beberapa tahun.

Pada tahun 1969, ia memutuskan pindah mengajar ke University of Chicago. Di sana, ia menjabat sebagai guru besar dalam Kajian Islam pada Department of Near Eastern Languages and Civilization. Ia menetap di Chicago hingga akhir hayatnya. Ia meninggal pada 26 Juli 1988.

Banyak murid (mahasiswa) Fazlur Rahman yang sukses menimba ilmu darinya. Bahkan, sejumlah cendekiawan Indonesia pun banyak belajar pada tokoh Pakistan ini. Di antaranya adalah (Alm) Nurcholis Madjid (cendekiawan Muslim Indonesia), Ahmad Syafi’i Ma’arif (mantan ketua umum PP Muhammadiyah), Anwar Ibrahim (politikus Malaysia), dan Amien Rais (mantan ketua umum MPR RI).

Bachtiar Effendi, salah seorang cendekiawan Muslim Indonesia, pernah mengatakan, Fazlur Rahman adalah sosok sarjana multifaset yang kompleks. Dengan begitu, sebutan-sebutan seperti tradisionalis, modernis, neo-tradisionalis, dan neomodernis tidak cukup tepat untuk diletakkan pada diri Rahman.

”Akan sangat reduksional ketika kita memberikan label-label itu pada sosok Rahman. Kalau hanya membaca buku-buku Rahman, mungkin bisa diterima label-label itu. Tetapi, kalau kita masuk lebih jauh, melihat langsung bagaimana model ia mengajar, dan pandangan-pandangan dia saat di-interview (wawancara–Red) tentang isu-isu tertentu; label-label itu akan meleset menangkap sosok Rahman secara tepat,” jelas Bahctiar.

Pemikiran Rahman yang cenderung vulgar dan berseberangan dengan kelompok tertentu juga diungkapkan Dr Luthfi Syaukanie. ”Murid-murid Rahman sendiri sebenarnya gelisah dengan opini yang berkembang, berkaitan dengan penerimaan Rahman atas gagasan-gagasannya,” ujar Luthfi. dia/berbagai sumber

Senantiasa Membawa Pesan Universal Alquran

Gerakan neomodernis. Fazlur Rahman mengategorikan dirinya termasuk dalam barisan gerakan ini. Di kalangan pemikir neomodernis, ia dapat dikatakan yang paling produktif. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang tokoh intelektual Muslim yang memiliki latar belakang yang menarik. Ia memiliki latar belakang tradisi keilmuan yang bertentangan, yakni keilmuan madrasah India Pakistan, madrasah Deoband yang tradisional, dan keilmuan Barat yang liberal. Keduanya berpengaruh dalam membentuk intelektualismenya.

Mengenai latar belakang keilmuannya ini, Syafi’i Maarif–salah seorang murid Fazlur Rahman di University of Chicago–menyatakan bahwa ia tidak hanya menguasai ilmu kitab kuning, tetapi juga kitab putih serta Islam klasik ataupun dunia modern. ”Menurut saya, dia (Fazlur Rahman–Red) adalah salah seorang sarjana besar pada abad ke-20,” ujarnya kepada Republika.

Kajian Fazlur Rahman, menurut mantan ketua umum PP Muhammadiyah ini, lebih terfokus pada Alquran. Dalam pandangan Rahman, Alquran merupakan firman Allah yang pada dasarnya merupakan suatu kitab mengenai prinsip-prinsip dan nasihat-nasihat keagamaan dan moral bagi manusia. Ia bukan sebuah dokumen hukum meskipun ia mengandung sejumlah hukum-hukum dasar, seperti shalat, puasa, dan haji. Dari awal hingga akhir, Alquran selalu memberikan penekanan pada semua aspek moral yang diperlukan bagi tindakan manusia. Karena itu, tidak ada persoalan umat yang tidak bisa dipecahkan melalui Alquran.

Kendati demikian, lanjut Syafi’i, gurunya tersebut tidak menginginkan Alquran diberhalakan oleh umat Islam. ”Kalau menurut saya, karakter beliau itu Quran oriented (senantiasa berpedoman pada Alquran–Red). Dia ingin membawa pesan universal Alquran dan untuk itu diperlukan metodologi,” paparnya.

Pemikiran lain dari sang guru yang bisa dijadikan teladan generasi saat ini, ungkap Syafi’i, adalah mencoba mengawinkan warisan Islam klasik yang positif dengan dunia modern. Hal tersebut kerap disampaikan Fazlur Rahman kepada para mahasiswanya saat memberikan pengajaran dalam kelas.

”Tradisi pemikiran Islam klasik dengan dunia modern ini, menurut dia, harus kembali ke Alquran. Ia selalu menekankan parameter tertinggi dari semua pemikiran adalah Alquran,” ujarnya.

Taufik Adnan Amal, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, membagi perkembangan pemikiran Fazlur Rahman ke dalam tiga periode yang didasarkan pada perbedaan karakteristik karya-karyanya. Yakni, periode awal (dekade 50-an); periode Pakistan (dekade 60-an); dan periode Chicago (dekade 70-an dan seterusnya).

Menurut Taufik, karya-karya Rahman pada periode pertama hampir boleh dikata bersifat kajian historis dan pada periode kedua bersifat historis sekaligus interpretatif (normatif). Sedangkan, karya-karya pada periode ketiga lebih bersifat normatif murni. Pada periode awal dan kedua, Rahman belum secara terang-terangan mengaku terlibat langsung dalam arus pembaruan pemikiran Islam. Baru pada periode ketiga, Rahman mengakui dirinya, setelah membagi babakan pembaruan dalam dunia Islam, sebagai juru bicara gerakan neomodernis.

Ada tiga karya besar yang disusun Rahman pada periode awal, yaitu Avicenna’s Psychology (1952), Avicenna’s De Anima (1959), dan Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1958). Dua yang pertama merupakan terjemahan dari karya Ibnu Sina.

Pada periode kedua (Pakistan), ia menulis buku yang berjudul Islamic Methodology in History (1965). Buku ini mengulas empat prinsip dasar pemikiran Islam–Alquran, sunah, ijtihad, dan ijmak–serta peran aktual keempat prinsip ini dalam perkembangan sejarah Islam itu sendiri.

Buku kedua yang ia tulis pada periode kedua ini adalah Islam yang menyuguhkan rekonstruksi sistemik terhadap perkembangan Islam selama empat belas abad. Pada periode Chicago, Rahman menyusun The Philosophy of Mulla Sadra (1975), Major Theme of the Qur’an (1980), dan Islam and Modernity: Transformatioan of an intellektual tradition (1982). dia/berbagai sumber
(-)
Index Koran
Berita sebelumnya :

* 03 Mei 2009 pukul 21:51:00
MASJID AGUNG MANONJAYA TASIKMALAYA: Perpaduan Arsitektur Belanda, Sunda, dan Jawa
* 03 Mei 2009 pukul 21:46:00
Misteri Lokasi Thursina
* 03 Mei 2009 pukul 21:42:00
Mengenal Sejarah Penanggalan Islam
* 03 Mei 2009 pukul 21:31:00
Lain Negara, Lain Sistem Kalender
* 03 Mei 2009 pukul 21:22:00
FARISH AHMAD NOOR: Islam Progresif tidak Menyimpang dari Islam

KOLOM

* Hikmah
* Analisis
* Opini
* Resonansi
* Tajuk
* Surat Pembaca
* Ihwal

Kategori

* Akademia
* Arena
* Berita Utama
* Bisnis Global
* Bisnis Syariah
* Bursa dan Uang
* City News
* Ekonomi dan Bisnis
* Hukum
* Internasional
* Iptek & Kesehatan
* Khazanah
* Nasional
* Olahraga
* Pemilu
* Politik
* Sepak Bola
* TV Guide
* Warna
* Wawasan
* Cahaya Ramadhan
* Bisnis & Investasi
* Otomotif
* Pareto
* Properti
* Dialog Jumat
* Haji & Umrah
* Deras
* Urbana
* Jalan-jalan
* Pustaka
* Kesehatan
* Nostalgia
* Boga
* Berita
* Wawancara
* Belia
* Korcil
* Remaja
* Solilokui
* Pesona
* Bandar Jakarta
* Mudik Lebaran 2008
* Liputan Khusus
* Telisik
* Leisure
* Layarperak&dvd
* Senggang
* Generasi
* Tokoh Perubahan 2008

Republika Online
: Syiar | Komunitas | Blog | Forum | Karir
Republika Koran
: Republika Koran | Republika E-paper | Tarif Iklan
RSS RSS-Feed | Podcast | Mobile | ROL@yoursite

© 2008 Republika Online. Republika Company. All Rights Reserved.
Terms of service | Privacy guidelines | Advertise with us | About Us | Contact


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: