b

8 05 2009

* Dunia Islam
* |
* Hikmah
* |
* Haji & Umroh
* |
* Jazirah
* |
* Bisnis Syariah
* |
* Syiar
* |
* Republika E-paper
* |
* Republika Photo
* |
* Republika Koran

Republika Online
13 Jumadil Awal 1430 H
08 Mei 2009
Pendaftaran | Login

* Home
* Sakinah
* Kesehatan
* Pendidikan
* Trend Teknologi
* Olahraga
* Senggang
* Pemilu

Koran » Islam Digest
Minggu, 03 Mei 2009 pukul 21:22:00
FARISH AHMAD NOOR: Islam Progresif tidak Menyimpang dari Islam

WAWANCARA

Mereka hanya ingin memperluaskan definisi dan interprestasi nilai-nilai Islam agar relevan dala kontek masa kini. Jadi menurut saya, dari segi akidahnya, tak ada penyrlewengan langsung.

Sabtu (18/4) lalu, INA Frontier, sebuah LSM di Yogyakarta, mengundang Dr Farish Ahmad Noor untuk berbicara dalam diskusi tentang Islam Progressive: What New?.

Wacana Islam progresif di Indonesia dan Malaysia banyak menimbulkan polemik. Pemikiran ini dianggap sebagai sesuatu yang dapat merusak akidah umat Islam. Bagaimana sesungguhnya pemikiran Islam progresif tersebut?

Berikut wawancara Yoebal Ganesha Rasyid dari Republika dengan Farish Ahmad Noor.

Saat ini, berkembang istilah Islam progresif. Anda salah satu yang disebut berada dalam tataran tersebut. Sebenarnya, apa maksud istilah itu?
Bagi saya, istilah ini muncul sebagai wujud dalam konteks ‘pertarungan ide’ yang sekarang ini begitu hangat di kalangan masyarakat Muslim kontemporer.
Istilah ini sebenarnya hanyalah sebagai satu label yang digunakan untuk tokoh-tokoh pemikir tertentu, namun bukan untuk membedakan diri mereka dari Muslim yang lain, baik secara akidah maupun teologi.
Selain itu, tak ada satu kelompok pun yang jelas-jelas menyebut dirinya sebagai Islam progresif. Istilah ini hanya sebagai suatu label yang dipergunakan oleh para peneliti, contohnya seperti saya, untuk membedakan posisi tokoh-tokoh tertentu, seperti Ebrahim Moosa, Abdullah an-Naim, Farid Esack, dengan pemikir Islam lainnya.

1. Abdullah An-Naim adalah profesor hukum di Emory University, Atlanta, AS.

2. Farid Esack adalah tokoh Muslim muda dari Afrika Selatan yang terlibat dalam gerakan antiapartheid. Disertasinya adalah Quran and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Againts the Opression.

3. Ebrahim Moosa adalah associate professor dari Islamic Studies dan associate director dari Duke Islamic Studies Center (DISC). Ia banyak mendiskusikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pemikiran Islam klasik dan modern yang fokus pada hukum Islam, sejarah, etika, dan teologi.

Apa ciri pemikiran tokoh-tokoh itu?
Salah satu ciri yang memadukan mereka ini adalah kepedulian mereka terhadap isu-isu sosial kemasyarakatan dan politik saat ini (kontemporer), seperti ketidakadilan sosial, ketidakadilan gender, dan juga isu-isu tentang ekonomi, politik, dan kultural–seperti masalah korupsi dan otoritas pemerintahan.
Dan, salah satu faktor yang menyatukan mereka adalah usaha bersama melalui kegiatan-kegiatan tertentu untuk menghidupkan kembali dinamika transformatif, yang bagi tokoh-tokoh ini merupakan wujud norma-norma Islam pada saat awal Islam.
Kalau kita membaca tulisan-tulisan Farid Esack, misalnya, dia menulis bahwa pada periode awal Islam, Nabi Muhammad mencoba mentranformasikan masyarakat saat itu dengan melakukan pembaruan sosial dan menentang segala ketidakadilan pada masyarakat Arab pada masa itu.
Jadi, tokoh seperti Ebrahim Moosa, Farid Esack, Abdullah an-Naim, dan yang lainnya itu sebenarnya hanya ingin menghidupkan dinamika transformatif ini agar masyarakat Muslim tak kaku, tak beku, lalu terjebak pada satu keadaan yang statis dan tak berubah.

Mengapa tokoh-tokoh ini berpikiran seperti itu?
Pemikiran ini timbul dari pengamatan mereka yang berpandangan bahwa saat ini, begitu banyak warga Muslim yang menganggap budaya umat Islam tak berubah setelah 14 abad sejak awal kehadirannya.
Kecenderungannya tampak pada usaha-usaha memaksakan aturan yang dikatakan berasal dari Islam yang disebut autentik. Padahal, aturan itu bukan esensial dalam Islam, apalagi dengan menafikan semua dinamika perubahan sosial yang terjadi kemudian.

Usaha apa yang dilakukan oleh para pemikir progresif ini? Apakah juga berbentuk gerakan?
Saya rasa keduanya. Kasus pemuda Muslim Afrika Selatan yang menentang pemerintahan apartheid adalah gerakan politik. Mereka berjuang untuk menentang rezim dan menggunakan teologi Islam sebagai landasan politik. Ini contoh gerakan politik.
Pada masa apartheid, kalangan Muslim India-Pakistan oleh penguasa Afsel ditempatkan pada kelas yang lebih tinggi daripada kaum pribumi. Tetua mereka relatif tak mempermasalahkan kedudukan ini. Kondisi ini lalu memunculkan gerakan kaum muda Muslim di sana untuk meluruskan bahwa ajaran Islam menolak politik perbedaan ras.
Di samping gerakan politik, banyak juga tokoh yang berlatar belakang akademik, seperti nama-nama yang saya sebut di atas. Mereka mencoba menjalankan proses perubahan pemikiran melalui proses dekonstruksi intelektual. Lalu, mereka mendiskusikan bagaimana memberikan tafsir baru terhadap nilai-nilai Islam pada masa awalnya agar lebih relevan dalam konteks masyarakat Muslim saat ini.

Contohnya seperti apa?
Misalnya, konsep keadilan sosial pada masa awal Islam itu pada konteks zaman kini digabungkan dan dikaitkan dengan isu-isu lain, seperti demokrasi dan masyarakat sipil. Entah itu menyangkut kebebasan berpikir, kebebasan pers, dan lainnya.
Bagi mereka, pada periode awal 1.400 tahun lalu, Islam telah mengembangkan konsep-konsep masyarakat sipil, tapi jangan sampai konsep-konsep awal Islam itu dikaitkan dengan keadaan masa itu saja.

Dalam konteks pemikiran progresif, bagaimana Anda melihat penggunaan simbol seolah lebih penting dari esensi ajaran Islam?
Perlu diketahui, ajakan kembali ke cara-cara berpakaian dan cara hidup ke masa awal agama itu muncul bukan hanya terjadi di Islam.
Di Hindu, juga muncul kelompok tertentu yang mengatakan bahwa ajaran Hindu yang autentik juga tergantung pada pakaian, bahasa, tingkah laku, serta wajah rupa dan simbol-simbol yang berkaitan dengan masa awal agama itu.
Jadi, keadaan ini bukan baru. Pandangan seperti ini hanya akan menyempitkan ajaran Islam pada masalah-masalah yang sangat dangkal. Islam itu rahmat bagi alam semesta.

Berkaitan dengan akidah. Sejauh mana pemikiran progresif boleh berkembang jika dikaitkan dengan Alquran dan Hadis?
Saya rasa, pemikiran tokoh-tokoh Islam progresif juga bermula dari Alquran dan hadis sebagai titik tolaknya. Itu premisnya. Jadi, dari segi akidah, pemikiran Islam progresif tidak menyeleweng.
Dan, menurut saya, Muslim progresif ini juga sebenarnya adalah Muslim yang fundamentalis, yakni Muslim yang berpegang pada ajaran-ajaran fundamentalis Islam dan yang berkaitan dengan nilai-nilai yang dibawanya. Ini yang saya lihat dan saya baca dari tulisan tokoh-tokoh itu.
Mereka hanya ingin memperluaskan lagi definisi dan interpretasi nilai-nilai Islam agar relevan dalam konteks masa kini. Jadi, menurut saya, dari segi akidahnya, tak ada penyelewengan langsung.

Di Indonesia, apakah Anda mengamati adanya pemikiran seperti Islam progresif ini?
Islam progresif sudah ada di Indonesia, hanya tak menggunakan labelnya. Kalau kita mencari mana gerakan yang memakai label Islam progresif di Indonesia, memang tak akan ada. Tapi, bukankah label itu tak penting?
Pemikiran seperti itu terlihat ada di Indonesia, seperti dalam kasus aktivis Islam mempertikaikan (atau mengkritik) praktik poligami. Bagi saya, ini adalah salah satu tren progresif yang sedang berlaku.

Apakah Anda melihat ada pertentangan antara pemikiran tokoh Islam progresif dan kaum ulama tradisional?
Semestinya, tak ada dan tak perlu ada pertentangan serta tidak harus dipertentangkan.
Tapi, dalam konteks masyarakat tradisional, di mana struktur dan relasi kuasa agak beku, apalagi kalau diwarnai dengan nilai-nilai yang bersifat feodal, dalam kondisi ini bisa terjadi perlawanan terhadap pemikiran Islam progresif.
Di Pakistan, budaya feodal itu kuat sekali dan berlaku di masyarakatnya. Ini terjadi di pedesaan. Golongan kaya mempunyai kekuasaan terhadap yang miskin.
Ide Islam progresif yang meletakkan nilai-nilai kemanusiaan sederajat tak begitu disenangi oleh mereka yang diuntungkan dalam relasi kuasa. Mereka lebih senang mengekalkan status quo.
Saya rasa, perubahan yang paling jelas terjadi saat ini adalah kita banyaknya kaum wanita Muslim yang mengkaji dan mengkritik kitab-kitab klasik secara akademik.

Banyak warga Muslim mengatakan bahwa isu HAM dan ketidakadilan gender adalah kepentingan Barat. Apa pendapat Anda?
Saya rasa, ini satu kesalahpahaman. Karena, sejak awal, Islam membangkitkan nilai-nilai HAM dan keadilan. Bukankah Nabi Muhammad SAW juga membangkitkan isu status wanita.
Jadi, soal pemikiran HAM dan ketidakadilan gender, misalnya, bukanlah suatu pemikiran yang serta-merta datang dari Barat. Islam lebih awal membangkitkannya dalam konteks masyarakat Muslim saat awalnya.
Bila dibandingkan antara Islam dan Kristen, Nabi Muhammad-lah yang pertama membangkitkan isu status wanita, bukan Yesus.
Jadi, bagi cendekiawan dan akademikus atau aktivis Islam progresif, HAM dan kesetaraan gender atau status wanita bukanlah ide yang asing dan tabu untuk didiskusikan. Isu itu juga tak bisa diklaim sebagai monopoli Barat.

Lalu, mengapa banyak orang menganggap semua itu seolah dari Barat?
Ada beberapa faktor. Pertama, kolonialisme Barat. Sistem kolonialisme mengklaim bahwa nilai-nilai ini adalah milik mereka. Mereka menafikan bahwa di Asia dan Afrika juga telah terwujud kepedulian yang sama. HAM dari Barat adalah klaim yang dibawa oleh golongan orientalis pada masa kolonialisme.
Faktor kedua terjadi setelah banyak negara Muslim merdeka. Golongan ini malah menguatkan klaim yang sama dengan juga mengatakan bahwa ide ini adalah ide Barat dan tak ada kaitan dengan masyakat Asia dan Afrika, apalagi Islam.

Mengapa perdebatan semacam ini beku di negara-negara Islam?
Ya. Karena, Islam dipolitisasi oleh pemimpin-pemimpin negara Islam. Mereka mempersempit pandangan tentang Islam hanya menurut pandangan mereka atau demi kepentingan kekuasaan semata.
Ada sejarah menarik. Imam Buchari Al-Jauhari, seorang pemikir Islam pada masa kerajaan Melayu (Aceh-Sumatra-Malaya) tahun 1603, dalam bukunya yang berjudul Taj al-Salatin, pernah mengkritik kekuasaan kerajaan saat itu. Ia menulis bahwa “raja itu mesti dikawal dan dikuasai oleh rakyat”.
Ini luar biasa. Pada masa itu, telah ada pemikiran untuk mewujudkan pemerintahan dengan sistem check and balance terhadap kekuasaan raja.
Pemikiran seperti itu telah ada dalam konteks sejarah Islam di Nusantara, jauh sebelum John Locke menulis The Principles of the Goverment. Ini bukti jelas mengenai kritik terhadap relasi kekuasaan yang telah terwujud dalam sejarah Islam di Asia Tenggara ini.
Nah, pemikiran Imam Buchari al-Jauhari ini sengaja dilupakan oleh pemimpin-pemimpin Muslim di Asia Tenggara. (Mereka berpikir) kalau tren progresif ini dibiarkan berkembang, bisa-bisa kekuasaan mereka nantinya akan dipersoalkan.

Sekarang, muncul partai politik berasaskan Islam di Indonesia dan Malaysia. Apakah ini bentuk dari gerakan Islam progresif?
Mereka bisa hanya memakai baju Islam dan juga bisa berjuang progresif. Contohnya, apabila mereka memperjuangan antikorupsi, saya rasa mereka sangat progresif.
Namun, dalam waktu yang sama dan dalam partai yang sama, ada juga kelompok yang konservatif dan menganggap isu-isu lain, seperti pakaian, perlu penegakan hukum syariah. Hal ini dianggap lebih penting.
Dunia parpol Islam di Indonesia dan Malaysia cukup kompleks. Terlampau banyak aktornya. Susah bagi saya memberikan jawaban yang homogen.

Sampai batas mana kita bisa berpikir progresif dalam Islam?
Saya rasa, tak ada batasnya. Bagi tokoh-tokoh yang saya sebut di atas tadi, mulanya adalah Alquran dan hadis. Setelah itu, ruangnya adalah luas sekali dan tak ada batasan dan ke mana pun arahnya bisa, asal konteksnya pada premis yang sama, yakni menyangkut keadilan dan kesamaan yang menyangkut nilai-nilai universal.

Bagaimana fungsi negara dalam mengembangkan pemikiran-pemikiran Islam?
Di Indonesia, golongan progresif lebih kuat dan berkembang positif dibandingkan Malaysia. Di Malaysia, Islam digunakan secara eksperimental oleh pemerintah. Contohnya, masalah keluar dari agama Islam. Di sana dinyatakan keluar dari Melayu.
Intinya, sebenarnya, jangan terjebak dalam Islam yang simbolik dengan banyaknya jumlah masjid. Semua itu belum tentu berarti bahwa orang yang berada di dalamnya lebih Muslim sepanjang mereka masih dipenuhi dengan sifat rasis dan ber-prejudice.

Apakah akidah tak membatasi pemikiran tentang kebebasan seks dan kebebasan berpikir?
Ya, membatasi. Tapi, itu dari segi haram dan halal.

Dalam konteks hubungan antaragama, bagaimana Anda melihat pemikiran Islam progresif?
Kita harus kembali ke Alquran bahwa ada perbedaan di dunia ini. Itu adalah rahmat dan Allah menghendaki seperti itu. Dalam Islam sendiri, terdapat mazhab-mazhab yang berbeda. Kita harus menerima kondisi ini sebagai keadaan yang positif.

Biodata:
Nama : Farish Ahmad Noor
TTL : Penang, 15 Mei 1967
Pendidikan : PhD Political Science Department of Government, University of Essex, Colchester (United Kingdom), tahun 2007.
Pekerjaan :
– Senior Fellow, Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological School (NTU)-Singapore.
– Research Fellow at Zentrum Moderner Orient (Center for Modern Oriental Studies).
(-)
Index Koran
Berita sebelumnya :

* 03 Mei 2009 pukul 21:16:00
Mawa’izh al-Ushfuriyyah Kumpulan Kisah-kisah Teladan
* 03 Mei 2009 pukul 21:13:00
Islam di Italia Membawa Kemakmuran Bagi Sisilia
* 03 Mei 2009 pukul 21:10:00
AL-JAHIZ, Sastrawan Agung Lintas Sejarah
* 03 Mei 2009 pukul 21:06:00
Franck Ribery Menemukan Kedamaian dalam Islam
* 26 April 2009 pukul 23:59:00
Menelisik Warisan Islam Di Kesultanan Sambas

KOLOM

* Hikmah
* Analisis
* Opini
* Resonansi
* Tajuk
* Surat Pembaca
* Ihwal

Kategori

* Akademia
* Arena
* Berita Utama
* Bisnis Global
* Bisnis Syariah
* Bursa dan Uang
* City News
* Ekonomi dan Bisnis
* Hukum
* Internasional
* Iptek & Kesehatan
* Khazanah
* Nasional
* Olahraga
* Pemilu
* Politik
* Sepak Bola
* TV Guide
* Warna
* Wawasan
* Cahaya Ramadhan
* Bisnis & Investasi
* Otomotif
* Pareto
* Properti
* Dialog Jumat
* Haji & Umrah
* Deras
* Urbana
* Jalan-jalan
* Pustaka
* Kesehatan
* Nostalgia
* Boga
* Berita
* Wawancara
* Belia
* Korcil
* Remaja
* Solilokui
* Pesona
* Bandar Jakarta
* Mudik Lebaran 2008
* Liputan Khusus
* Telisik
* Leisure
* Layarperak&dvd
* Senggang
* Generasi
* Tokoh Perubahan 2008

Republika Online
: Syiar | Komunitas | Blog | Forum | Karir
Republika Koran
: Republika Koran | Republika E-paper | Tarif Iklan
RSS RSS-Feed | Podcast | Mobile | ROL@yoursite

© 2008 Republika Online. Republika Company. All Rights Reserved.
Terms of service | Privacy guidelines | Advertise with us | About Us | Contact


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: