Siti Musdah

6 05 2009

* Skip to content
* Skip to main navigation
* Skip to 1st column
* Skip to 2nd column

Banner
Hidayatullah.com

* Home
* Berita
o Nasional
o Internasional
o Iptek
o Peduli Palestina
o Ragam
* Kolom
o Catatan Akhir Pekan
o Kabar Dari New York
o Worldviews
o Sekolah Revolusioner
o Dunia Islam
o Wisata Nurani
o Ilahiyah Finance
o Sudut Pandang
* Konsultasi
o Fiqih Kontemporer
o Al Halal Wal Haram
o Keluarga Sakinah
o Tazkiyatun Nufus
o Ibu & Anak
* Opini
o Opini
o Pemikiran
* Kajian
o Teori Evolusi
* Cermin
* Wawancara
* Features
* Redaksi
* Forum

+++ Kami sedang uji coba tampilan baru, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini – hidayatullah.com +++
Kata Tetangga, “Dia Jarang Kelihatan di Rumah”
Wednesday, 29 April 2009 13:00
E-mail Print PDF
Siti Musdah Mulia

Ia rajin melempar wacana tentang wanita boleh jadi imam shalat pria, waris. Katanya jilbab tak wajib. Menurut tetangga, dia jarang di rumah
Hidayatullah.com–Nama Siti Musdah Mulia mencuat ketika muncul counter legal draft Kompilasi Hukum Islam (KHI). Wanita kelahiran Bone (Sulawesi Selatan), pada 3 Maret 1936 ini menjadi motor penggerak Tim Pengarusutamaan Gender, yang menyusun draft kontroversial itu.

Ketika Aminah Wadud, wanita asal Mesir, berani menjadi imam shalat dengan jamaah yang bercampur (pria dan wanita) di sebuah gereja di Amerika Serikat, Siti Musdah menyatakan dukungannya. Apakah berarti ia melakukan hal yang sama?

“Mengapa tidak? Tidak ada persyaratannya dalam Al-Qur’an atau As-Sunnah bahwa yang menjadi imam harus laki-laki,” ujarnya ketika ditemui di kantornya.

Musdah menambahkan, untuk menjadi imam ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. “Orang waras”, orang yang bacaannya bagus, usianya yang paling senior. Kalau wanita memenuhi syarat-syarat seperti itu, kenapa tidak?” cetusnya.

Meski demikian, di rumah, imam shalatnya tetaplah sang suami. “Karena suami saya lebih fasih daripada saya. Dia lebih senior. Ini kan soal kapasitas menjadi imam,” ungkapnya.

Jika suaminya sedang tidak ada, dia mengaku jadi imam shalat di rumahnya. Meskipun di situ ada laki-laki dewasa yang menjadi makmum.

Wanita yang belum dikaruniai anak ini juga kerap melempar wacana seputar hak waris. Menurutnya, pembagian hak waris, baik untuk laki-laki atau wanita, harus dibagikan dengan jumlah yang sama.

Di matanya, kini setelah Islam datang, perempuan juga punya banyak andil terhadap umat. Bukan cuma kaum laki-laki. “Karena itu tidak ada perbedaan hak waris laki-laki dan perempuan,” terangnya.

Musdah mengaku, dalam pembagian hak waris di keluarganya akan menggunakan ketentuan tersebut.

Satu lagi yang kerap dilontarkan Musdah, yakni masalah jilbab. Ketika sejumlah daerah menerapkan kewajiban mengenakan jilbab, Musdah langsung berkomentar bahwa korban pertama dari penerapan syariat Islam adalah kaum wanita.

“Buat saya, Anda mau berjilbab, silakan! Asalkan itu adalah pilihan bebas Anda, tidak dipaksa untuk melakukannya,” katanya.

“Silakan berjilbab, tapi jangan sampai jilbab itu menjadi ikon keshalihan seseorang. Jilbab itu tidak menyimbolkan apa-apa. Jadi, jilbab itu harus memiliki komitmen untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan bagi yang memakainya. Jangan simbolistik,” katanya lagi.

Menurutnya, jilbab itu sekadar mode. “Kenyataannya sekarang jilbab adalah bagian dari komersialisasi,” ucapnya.

Super Sibuk

Siti Musdah menikah dengan Prof Ahmad Tibraya, guru besar di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Keduanya tergolong pasangan suami-istri yang sama-sama sibuk. “Karena kesibukan kegiatan akademis yang terlampau padat membuat kami jarang berkumpul,” aku Tibraya.

Tibraya juga aktif mengisi pengajian dan menjadi imam shalat di mushala dekat rumahnya. Sosok ini menjadi orang yang cukup akrab dengan masyarakat sekitar.

Wartawan Hidayatullah sempat dua kali mengunjungi rumah Siti Musdah Mulia di ujung Jalan Matraman Dalam II-B, Jakarta Pusat. Rumah bercat putih hijau dua lantai dan berpagar tinggi itu selalu sepi.

Seorang tetangga yang tinggal di depan rumah Musdah mengatakan, rumah tersebut memang selalu sepi. “Yang ada paling pembantunya dan keponakannya. Dia (Siti Musdah) sendiri nggak pernah kelihatan. Wajar, orang sibuk katanya. Pergi pagi pulang tengah malam. Hari ini di Jakarta, besok di luar kota, atau luar negeri. Tapi kalau Pak Tibraya kadang kelihatan,” katanya.

Sang tetangga juga tak tahu dimana Siti Musdah bekerja. Yang ia tahu, wanita itu adalah seorang penulis, dosen, dan sering ke luar negeri. Itu saja.

Menurut Imas (39), wanita yang sudah bekerja selama enam tahun di rumah Musdah, majikannya ini selalu sibuk. “Bulan Ramadhan lalu, misalnya, Ustadzah sering pulang malam karena harus mengisi ceramah-ceramah,” kata Imas yang biasa memanggil Musdah dengan “Ustadzah”.

Di mata wanita asal Cianjur ini, Musdah adalah sosok yang sangat baik, tegas, disiplin, suka menjaga kebersihan, jarang marah, dan perhatian. “Bahkan saya sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga,” katanya.

Imas digaji Rp 500 ribu per bulan. Selain itu, biaya sekolah anak Imas di kampung ditanggung hingga lulus STM. “Tidak hanya itu, ketika saya operasi ginjal, sepenuhnya ditanggung oleh Ustadzah,” akunya.

Meski Musdah sibuk, menurut Tibraya, setiap malam Jum’at dan selesai shalat Shubuh istrinya itu selalu mengaji Surat Yasin bersama 5 orang keponakan yang tinggal di rumahnya.

Ketika Musdah mengeluarkan pemikiran yang tertuang dalam Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam, Tibraya berupaya memakluminya. “Pemikiran itu sebagai kewajaran yang bersifat akademis. Begitu pun ketika Musdah mengeluarkan pendapatnya tentang keabsahan wanita menjadi imam shalat berjamaah, “ kata Tibraya.

Tibraya mengaku cara berpikirnya seringkali berbeda dengan sang istri. “Namun persoalan itu kami hadapi secara dewasa dan dilihat sebagai masalah akademis,” katanya.

Meski begitu, rasa cinta Tibraya terhadap Musdah tidak pernah berkurang. Bagi Tibraya, ada dua kelebihan yang dimiliki Musdah. Pertama, semangat yang besar untuk terus menulis. Kedua, ibadahnya yang tidak kurang.

“Ibu kalau sudah ngetik di depan komputer dari jam sembilan sampai jam dua malam. Bahkan amaliyahnya banyak mengagetkan orang, seperti shalat tahajud dan dhuha” [Ramdhan, Syafaat, Abdul Hadi/Sahid/www.hidayatullah.com]

Banner

Iklan Baris
Honda Supra-x 2007 tangan pertama mulus terawat hubungi 08155520xxx
Jual Hp Nokia 8500 harga nego kondisi 99% mulus hub 869152
Honda Supra-x 2007 tangan pertama mulus terawat hubungi 08155520xxx
Jual Hp Nokia 8500 harga nego kondisi 99% mulus hub 869152

Terbaru di Forum


* Re: kenapa selalu P*S?? (Indra EMC)

* Re: HUDUD – Mencuri (Indra EMC)

* Re: PEMENANG PEMILU TERNYATA…… GOLPUT BRO… (ikhsanu)

* Re: PEMENANG PEMILU TERNYATA…… GOLPUT BRO… (chandra)

* Re: PEMENANG PEMILU TERNYATA…… GOLPUT BRO… (Mat Gatrix)

* Re: kenapa selalu P*S?? (chandra)

* Re: PEMENANG PEMILU TERNYATA…… GOLPUT BRO… (chandra)

* Re: HUDUD – Mencuri (chandra)

* Re: HUDUD – Mencuri (Indra EMC)

* Re: WAHABI, KHAWARIJ DAN TERORISME (Indra EMC)

* Iklan
* Download
* Hubungi Kami

© 2009 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved
Banner


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: