Jilbab JIL

6 05 2009

* Skip to content
* Skip to main navigation
* Skip to 1st column
* Skip to 2nd column

Banner
Hidayatullah.com

* Home
* Berita
o Nasional
o Internasional
o Iptek
o Peduli Palestina
o Ragam
* Kolom
o Catatan Akhir Pekan
o Kabar Dari New York
o Worldviews
o Sekolah Revolusioner
o Dunia Islam
o Wisata Nurani
o Ilahiyah Finance
o Sudut Pandang
* Konsultasi
o Fiqih Kontemporer
o Al Halal Wal Haram
o Keluarga Sakinah
o Tazkiyatun Nufus
o Ibu & Anak
* Opini
o Opini
o Pemikiran
* Kajian
o Teori Evolusi
* Cermin
* Wawancara
* Features
* Redaksi
* Forum

+++ Kami sedang uji coba tampilan baru, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini – hidayatullah.com +++
Dulu Tertutup, Sekarang Melepas Jilbab
Monday, 04 May 2009 08:41
E-mail Print PDF
Nong Darol Mahmada: “Kalau Tidak Ada Saya, Tidak Ada JIL”

Ia berasal dari keluarga ulama, bahkan ayahnya seorang Ketua MUI. Mengapa ia melepas kerudung?

Hidayatullah.com–Wanita muda berkaca mata itu tengah asyik mengobrol di sebuah kafe bersama para wartawan. Kafe itu terletak di Jalan Utan Kayu No 68 H, Jakarta Timur, menyatu dengan markas sebuah kelompok yang menamakan dirinya Jaringan Islam Liberal (JIL).
Tak berapa lama, orang-orang yang dinanti itu datang. Mereka adalah anggota Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Matraman, Jakarta Timur, antara lain Camat Matraman, Heril Astapraja, dan dan Kepala Kepolisian Sektor Matraman, Komisaris Polisi Sularno.

Dengan sigap, wanita berkaca mata itu berdiri sembari mempersilakan sang tamu masuk dan duduk di deretan bangku paling depan. Acara pun dimulai.

Wanita itu tak lain adalah Nong Darol Mahmada, pentolan JIL yang juga Manajer Program Freedom Institute. Jumpa pers itu digelar untuk menjelaskan kepada wartawan berkaitan dengan keinginan masyarakat Utan Kayu yang meminta Muspika untuk mengusir JIL dari daerah itu.

Nong–demikian wanita itu biasa disapa tampil di garda terdepan untuk membereskan masalah ini. Dan dia memang “mesin penggerak” utama jaringan ini.

“Kalau tak ada saya, ya tidak ada JIL. Ulil (Ulil Abshar Abdalla, koordinator JIL, kini sedang kuliah di Amerika Serikat) itu hanya bagian luarnya saja. Di dalam JIL, bukan sombong ya, saya yang mengatur semuanya,” akunya saat ditemui di kantor Freedom Institute di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Meski jabatannya manajer program, wanita ramah ini jarang tampil di depan umum. “Saya tidak suka diekspos. Saya ini tak menarik. Biasa-biasa saja,” begitu alasannya.

Kenangan dari Nenek
Seperti halnya Musdah Mulia, Nong juga sering berwacana tentang jilbab. Bagi wanita kelahiran Banten yang banyak menggeluti masalah kewanitaan dan gender ini, jilbab bukanlah kewajiban namun masalah kepantasan saja. “Sepanjang pakaian itu pantas, sekalipun tidak menutup aurat, sah-sah saja,”ujarnya.

Tidak dijelaskan, apakah ketika misalnya wanita ini berjemur di pantai Kuta (Bali) lantas ia akan mengenakan bikini.

Nong sendiri lahir dari keluarga yang dikenal taat beragama. Ia mengaku mendapat pelajaran soal jilbab dari neneknya. Dalam sebuah buku, Nong mengaku memakai kerudung karena ketakutan ketika sang nenek bercerita tentang neraka.

Menurut Maman–bukan nama sebenarnya temannya di waktu kecil, Nong dulu adalah gadis pemalu, sangat menjaga hijab, dan alim. Oleh karena itu, anak-anak muda kampung segan kepadanya. Barangkali karena itu pula, menurut Maman, Nong bukan termasuk wanita yang pandai bergaul. “Pokoknya, kalau bisa ketemu dia, sangat beruntung,” kata Maman.

Suatu hari, ketika pulang sekolah, Maman pernah main ke rumah Nong. Kebetulan Maman berkawan akrab dengan salah seorang kakak Nong. “Saat saya duduk di ruang tamu, Nong datang. Tapi dia tidak berani melewati ruangan itu. Dia lebih memilih jalan lain,” kenangnya.

Sekarang ini, di mata Maman, Nong sudah berbeda.

Keluarga Ulama
Ayah Nong, KH Syafe’i Ali, adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten. Syafe’i juga pimpinan Pondok Pesantren An-Nidzomiyyah Labuan, Pandeglang.
Syafe’i mempunyai lima anak, yaitu Encep, Eneng, Ace, Enong (Nong), dan Agus. Di mata sang ayah, Nong adalah anak yang jenius. Pada usia 4 tahun sudah masuk TK. SD dan MTs dihabiskannya di Pesantren An-Nidzomiyyah. Kemudian melanjutkan ke Pesantren Cipasung Tasikmalaya, Jawa Barat. “Alhamdulillah selama sekolah dia terus-terusan dapat rangking,” kata Syafe’i.

Lulus dari Cipasung, Nong melanjutkan kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang Universitas Islam Negeri Jakarta). “Setelah dari IAIN, dia tidak mau pulang lagi ke sini, terus saja di Jakarta,” masih kata Syafe’i. Nong lulus dari IAIN tahun 2001.

Di kampus inilah Nong banyak bicara tentang gender, termasuk jilbab. Tak cuma bicara, ia bahkan menanggalkan kerudungnya. “Jilbab itu bukan hal yang prinsip seperti shalat. Yang penting saya berpakaian sopan. Jadi bukannya harus tertutup rapat,” ujarnya enteng.

Bagaiman reaksi Syafe’i? “Saya kira itu hanya wawasan ilmiah saja. Dia (Nong) setiap ke sini, kepalanya selalu tertutup jilbab. Begitu juga setiap ikut kegiatan. Saya tidak marah. Untuk wacana ilmiah tidak apa-apa. Tapi, kalau dia meninggalkan kerudung dan saya lihat, akan saya tegur,” jelasnya. (Di salah satu situs blog nya dan di milis perempuan, Nong pernah mengaku, ia hanya berjilbab jika pulang ke rumah, red).

Tentang keterlibatan Nong dalam JIL, Syafe’I berkomentar, “Saya sudah serahkan kepada sahabat-sahabat di IAIN. Saya tokoh NU, kakaknya Nong (ikut) PMII, dia (Nong) HMI. Semua bergabung. Hanya kebetulan saya tokoh NU dan ada seorang tokoh muda NU yang namanya Ulil Abshar. Saya titipkan kepada Ulil. Yang penting bagi saya, Nong menjadi anak yang shalih, bisa membawa diri.”

Syafe’I mengakui kurang mendalami keterlibatan anaknya dalam JIL. “Tapi bagi saya nggak jadi masalah sepanjang dia bener. Paling juga ada perbedaan di dalam masalah-masalah syariah, itu lumrah,” lanjutnya.

Nong sendiri bangga dengan keluarganya. “Walaupun (hidup) di lingkungan pesantren, tapi keluarga saya punya pandangan yang sangat liberal tentang Islam.”

Saat ini Nong sudah memiliki satu orang anak bernama Dea Azzalia. Sayangnya, ia tak ingin memperkenalkan lebih jauh siapa suaminya. “Nggak usahlah! Suami saya orangnya low profile banget. Dia bukan aktivis. Dia pekerja IT (Teknologi Informasi) di GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh),” jawab Nong.

Bagaimana jika Dea kelak memutuskan memakai jilbab? “Tidak masalah. Saya kan sangat menghargai orang yang berjilbab, bukannya saya tidak setuju dengan jilbab,” katanya.* [Luthfi Effendi, Dwi Budiman, Abdul Hadi/Sahid/www.hidayatullah.com]

Banner

Iklan Baris
Jual Hp Nokia 8500 harga nego kondisi 99% mulus hub 869152
Honda Supra-x 2007 tangan pertama mulus terawat hubungi 08155520xxx
Honda Supra-x 2007 tangan pertama mulus terawat hubungi 08155520xxx
Jual Hp Nokia 8500 harga nego kondisi 99% mulus hub 869152

Terbaru di Forum


* Re: kenapa selalu P*S?? (Indra EMC)

* Re: HUDUD – Mencuri (Indra EMC)

* Re: PEMENANG PEMILU TERNYATA…… GOLPUT BRO… (ikhsanu)

* Re: PEMENANG PEMILU TERNYATA…… GOLPUT BRO… (chandra)

* Re: PEMENANG PEMILU TERNYATA…… GOLPUT BRO… (Mat Gatrix)

* Re: kenapa selalu P*S?? (chandra)

* Re: PEMENANG PEMILU TERNYATA…… GOLPUT BRO… (chandra)

* Re: HUDUD – Mencuri (chandra)

* Re: HUDUD – Mencuri (Indra EMC)

* Re: WAHABI, KHAWARIJ DAN TERORISME (Indra EMC)

* Iklan
* Download
* Hubungi Kami

© 2009 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved
Banner


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: