m natsir 3 ttgn dakwah

4 05 2009

04 Mei 2009 23:06:41 Home | About Us| Koran| Arsip|
RAMADHAN
JURNAL HAJI
PUSTAKA
JADWAL SHOLAT
MQ
AKADEMIA
AKHIR PEKAN
ANEKA
AYAH BUNDA
BELIA
BERITA
BERITA UTAMA
BOGA
BUDAYA
CITY NEWS
CSR
DERAS
DI BALIK LAYAR
EKONOMI SYARIAH
EKONOMI/BISNIS
ELEKTRONIKA
GAYA HIDUP
GRIYA
HAJI UMRAH
HIBURAN
HOBI & HABIT
HORISON
HUKUM
INDEX
INFO POM
IPTEK DAN KESEHATAN
JALAN-JALAN
JURNAL HAJI 1428 H
KALAM JABAR
KELUARGA
KESEHATAN
KESRA
KHAZANAH
KIRIMAN ANDA
KONFERENSI PBB
KORCIL
LAYAR PERAK & DVD
LEISURE
LUAR NEGERI
MUSIK& PANGGUNG
NASIONAL
NEW STRAITS TIMES
NOSTALGIA
NUSANTARA
OLAHRAGA
PASAR MODAL
PEMILU
PESONA
POLITIK
PON XVII
PROPERTI
PUSTAKA
REMAJA
SASTRA
SELULER
SENGGANG
SUPLEMEN
TELISIK
THE ESQ WAY 165
TRENTEK
TV & RADIO GUIDE
URBANA
WANITA
WARNA
WAWASAN

Koran » Opini
Sampaikan kepada rekan Cetak berita ini
Jumat, 11 Juli 2008

Tiga Pilar Dakwah dalam Pandangan Natsir

KH Didin Hafidhuddin dan M Fuad Nasar
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS)

Suatu hari penulis berbincang dengan Allahu-yarham Bapak Mohammad Natsir dan Bapak KH Sholeh Iskandar di Pondok Pesantren Darul Falah, Bogor. Pesantren Darul Falah adalah salah satu gagasan Pak Natsir dalam rangka mencetak dai yang selain menguasai pengetahuan keislaman juga memiliki skill pertanian yang terkait dengan pembangunan pedesaan.

Pak Natsir menyampaikan kepada penulis dan Pak Sholeh Iskandar bahwa dalam upaya mempercepat dan mengembangkan dakwah di Indonesia, ada tiga institusi atau tiga pilar utama yang harus diperkuat, yaitu masjid, pondok pesantren, dan kampus. Setahu penulis Pak Natsir yang pertama kali mengemukakan tiga pilar secara komprehensif dan mewujudkannya melalui kiprah dan gerakan dakwah beliau sebagai tokoh Islam yang diakui peranannya di dunia internasional.

Dalam pandangan dan pemikiran Pak Natsir, dari masjid diharapkan lahir jamaah yang solid dan kuat, bukan hanya dalam bidang akidah dan ibadah, tetapi juga muamalah. Dalam buku Fiqhud Da’wah beliau mengutarakan masjid adalah lembaga risalah, tempat mencetak umat yang beriman, beribadah menghubungkan jiwanya dengan Khaliq, umat yang beramal saleh dalam kehidupan masyarakat, umat yang berwatak dan berakhlak teguh.

Pesantren diharapkan menjadi tempat lahirnya ulama, kiai, dan ustadz yang memiliki komitmen dan semangat kuat mendakwahkan Islam ke seluruh Tanah Air. Pak Natsir sangat memahami dan menghargai peranan pesantren dalam perspektif sejarah umat Islam. Istilah yang beliau sampaikan, pesantren merupakan kubu pertahanan mental dari abad ke abad.

Kampus diharapkan melahirkan cendekiawan dan pemimpin di berbagai lapangan kehidupan. Betapa besar kekuatan yang dapat dibangun bila sudah bertemu pesantren dengan universitas. Kemudian, sama-sama berjumpa di masjid.

Perpaduan ketiga pilar tadi bukan semata bersifat fisik, tapi juga perpaduan persepsi, pemikiran, dan amaliyah. Dengan kata lain, kaum cendekiawan dan civitas akademika di kampus harus memahami pesantren dan masjid. Kaum santri juga dituntut bisa memahami kampus dan masjid.

Tergambar dalam perspektif di atas kapasitas Pak Natsir seorang mujahid dan mujaddid dakwah yang berpandangan visioner. Dalam sebuah wawancara dengan Jurnal Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Pak Natsir mengatakan, apabila tiga unsur itu dipertemukan, niscaya akan menjadi modal utama pembinaan umat maupun pembangunan bangsa dan negara.

Pak Natsir selalu mengingatkan para sarjana dan calon intelektual Muslim yang sedang menempuh pendidikan agar memiliki wawasan keumatan. Siapa pun, apakah guru, dokter, insinyur, ulama, atau apa saja, jika sudah menghayati persoalan umat di lapangan, diharapkan akan bergerak maju memperbaiki keadaan.

Spesialisasi yang berlebihan, dalam arti tidak lagi ambil pusing dengan bidang lain, apalagi kalau dihubungkan dengan agama, justru mempersempit pandangan dan persepsi. Hal ini bukannya memecahkan persoalan, tetapi malah menimbulkan persoalan baru.

Pak Natsir pernah menyatakan tidak ada dikotomi antara agama dan urusan dunia. Karena itu, jangan kita membiarkan orang memisahkan antara ulama dari intelektual Muslim. Keduanya mempunyai intellect, daya pikir dan daya cipta, yang dalam istilah Alquran disebut ulul albab.

Arsitek dakwah
Sepanjang hayatnya selama 84 tahun, banyak yang telah beliau berikan. Dia menjadikan dakwah sebagai perjuangan dan tidak pernah surut dari medan dakwah sampai ajal. Dakwah dilakukannya dengan lisan, tulisan, maupun dengan amal, dan teladan yang baik. Beliau dapat disebut maestro dakwah dan arsitek dakwah yang tidak mudah mencari penggantinya.

Dakwah, menurut Natsir, usaha sadar mengubah seseorang, sekelompok orang, atau suatu masyarakat menuju keadaan yang lebih baik sesuai dengan perintah Allah dan tuntunan rasul-Nya. Dakwah mempunyai dua sisi yang komplementer, yaitu membina umat dan memelihara atau membentengi umat dari bahaya yang batil.

Menurut beliau, dai atau juru dakwah yang unggul tidak menciptakan banyak musuh, melainkan mencari teman sebanyak mungkin. Di dalam buku Fiqhud Da’wah diutarakan bahwa kaifiat (metode) pelaksanaan dakwah tidak bisa dipisahkan dari isi dakwah yang hendak disampaikan itu.

Dalam buku itu juga dijelaskan akhlak adalah tiang dakwah. Dakwah dan akhlakul karimah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Banyak hal sulit yang tak dapat diatasi dengan semata-mata ilmu pengetahuan, tapi dapat diatasi dengan akhlak.

Sebaliknya, banyak kesulitan yang bisa timbul bila dakwah tidak didukung oleh akhlak. Di sisi lain, tegak atau robohnya dakwah tergantung kepada tegak robohnya jiwa pribadi pembawa dakwah.

Pak Natsir sering mengatakan bahwa sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, setiap Muslim sesuai kesanggupan masing-masing memikul kewajiban dakwah. Tiap-tiap kita adalah dai pengemban tugas dakwah. Tukang becak yang Muslim mempunyai tugas dakwah. Ia yang menjemput dan mengantar pulang ustadz dalam suatu pelaksanaan dakwah. Saudara marbot (penjaga) masjid mungkin buta huruf, tidak bisa membaca dan menulis. Tetapi, tugas membersihkan masjid, mengurus air masjid, menjaga keamanan sandal, adalah termasuk pelaksanaan dakwah. Marbotlah yang mengurus semua itu. Dengan tugas itu, marbot menjadi dai.’’

’’Yang jadi pejabat atau pegawai, dia adalah dai. Karena dengan kedudukannya, pelaksanaan dakwah dapat berjalan lancar. Yang kaya, yang mendapat kekayaan dari Allah, mungkin tidak bisa naik mimbar, tetapi dengan infaknya dia menjadi dai.

Pada saat menerima Penghargaan Internasional Malik Faisal tahun 1980, Pak Natsir mengucapkan pidato, Sekarang kita menghadapi tantangan, setelah negara-negara kita merdeka. Sebab, tujuan kita tak sekadar merdeka politis semata-mata. Tetapi adalah benar-benar kembali kepada Allah dan kembali kepada Islam, baik bentuk, isi, tingkah laku maupun komitmen. Kita tidak akan berkecil hati menghadapi tantangan-tantangan itu. Sebab, yang menimbulkan tantangan-tantangan tersebut terperosok dalam kegelapan. Dan ini hendaknya menjadi pendorong bagi kita untuk menyampaikan kepada mereka ’nur’ yang telah dianugerahkan Allah kepada kita. Nur yang menerangi kegelapan. Dan di bawah nur ini urusan dunia dan akhirat menjadi baik. Itulah nur Islam.

Menurut Pak Natsir, kemajuan masyarakat Islam hanya dapat dicapai dengan memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara murni serta tidak bercampur-aduk dengan bid’ah, khurafat, dan takhayul. Mengenai pengertian modernisasi dalam Islam, Pak Natsir mengatakan bahwa modernisasi justru kembali kepada yang pokok atau keaslian, kembali kepada esensialitas Islam. Tajdid tidak lain mengintroduksi kembali apa yang dulu pernah ada, tetapi ditinggalkan.

Mengenai persatuan umat, Mohammad Natsir mengatakan bahwa umat Islam sekalipun menghadapi bermacam cobaan dan terkadang sampai bercerai-berai, tetap ada seruan Kitabullah dan Sunah Rasulullah, yang memanggil mereka kembali ke jalan yang benar. Hal ini disampaikan beliau yang saat itu terbaring di rumah sakit dalam pidato taushiyah yang direkam melalui video untuk acara Silaturrahim dan Tasyakur 24 Tahun Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia tanggal 26 Mei 1991.

Pak Natsir adalah pemimpin dan pejuang yang selalu memiliki optimisme terhadap masa depan Islam di Indonesia, betapapun beliau merasakan beragam tantangan silih berganti dihadapi kaum Muslimin dari segala penjuru yang tidak senang agama Allah ini tegak kokoh di muka bumi. Beliau berpesan kepada kader-kader dakwah dan umat Islam pada umumnya, Marilah kita melihat tiap-tiap persoalan yang kita hadapi dari masa ke masa, sekarang atau yang akan datang, sebagai ujian, sebagai ibtilaa’ yang silih berganti. Dan tidak usah kita menyembunyikan diri dari padanya, tetapi kita harus hadapi dengan iman, dengan warisan Rasulullah SAW, kitabullah wa sunnatu Nabiyyih.

Ikhtisar:
– Natsir menilai kemajuan masyarakat Islam hanya dapat dicapai dengan memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara murni.
– Masjid, pondok pesantren, dan kampus adalah tiga pilar yang tak terpisahkan.
( )

BERITA LAIN
• Melalui Mesjid, Kembangkan Usaha Mikro Masyarakat

• Pemerintah Kaji Sukuk Negara Exchangable

• Industri Kehutanan Dukung Sikap AS Soal Pembalakan Liar

• Alokasi BBM Subsidi UKM Diatur Ulang

• `Insentif dan Sanksi SKB Harus Seimbang`

• Kerugian Elpiji Ditekan Rp 7 Triliun

• BI Bantah Terjadi Kontradiksi KUR-Linkage

• Wahana Optimistis Capai Kenaikan Penjualan 35 Persen

• Investor tak Peduli Sengketa Adaro

• Investor tak Peduli Sengketa Adaro

© 2007 Hak Cipta oleh Republika Online
Dilarang menyalin atau mengutip seluruh atau sebagian isi berita tanpa ijin tertulis dari Republika
| Kontak Redaksi | Kontak Webmaster |


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: